Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Sikap Trump Bikin Agenda KTT G-7 Tidak Jelas

Presiden dari Partai Republik itu belum membuat keputusan akhir, tetapi waktu hampir habis untuk merencanakan pertemuan puncak.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 19 November 2020  |  09:53 WIB
Presiden Donald Trump saat hendak terbang bersama Air Force One meninggalkan Florida untuk berkampanye di North Carolina, Pennsylvania, Michigan dan Wisconsin, di Bandara Internasional Miami International, Florida, AS, 2 November 2020. - Antara/Reuters\r\n
Presiden Donald Trump saat hendak terbang bersama Air Force One meninggalkan Florida untuk berkampanye di North Carolina, Pennsylvania, Michigan dan Wisconsin, di Bandara Internasional Miami International, Florida, AS, 2 November 2020. - Antara/Reuters\\r\\n

Bisnis.com, JAKARTA - Kekalahan Presiden Donald Trump yang belum diakuinya dalam Pilpres AS 2020 dari Joe Biden membuat nasib konferensi tingkat tinggi (KTT) kelompok tujuh negara industri maju (G-7) menjadi tidak jelas.

Sebelumnya, acara yang dijadwalkan pada Juni  itu ditunda akibat wabah Covid-19. Sumber diplomatik menyatakan, belum ada penjadwalan ulang tanggal ataupun susunan agenda oleh pemerintahan Trump untuk KTT G-7.

Presiden dari Partai Republik itu belum membuat keputusan akhir, tetapi waktu hampir habis untuk merencanakan pertemuan puncak sebelum dia menyerahkan kekuasaan pada 20 Januari tahun depan.

Biden juga mengatakan penolakan Trump untuk membantu transisi pemerintahan telah merusak rencana penanganan Covid-19.

Meski tanggal atau agenda KTT G-7 belum  jelas, namun pertemuan online masih dimungkinkan. Hanya saja belum ada pernyataan bersama apa pun, proses yang biasanya memakan waktu berbulan-bulan, kata salah satu sumber seperti dikutip Aljazeera.com, Kamis (19/11/2020).

Inggris, yang mengambil alih jabatan presiden bergilir G-7 dari Amerika Serikat pada Januari, minggu lalu mengucapkan selamat kepada Presiden terpilih Biden atas kemenangannya dan mengundangnya ke Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa di Skotlandia tahun depan dan pertemuan puncak G-7.

Trump pertama kali membatalkan rencana pertemuan puncak 10 Juni secara langsung pada Maret, karena pandemi. Namun, dia kemudian berusaha merencanakannya kembali, dan membatalkan rencana pada Mei setelah pemimpin Jerman Angela Merkel mengatakan tidak akan hadir, sedangkan yang lain menyatakan keprihatinan.

Pada Agustus, Trump mengatakan dia bersedia menjadi tuan rumah pertemuan dalam "suasana yang lebih tenang" setelah pemilihan presiden. Tapi, dia tidak menindaklanjutinya hingga kini, kata salah satu sumber.

Trump juga mengatakan, bahwa dia akan memperluas daftar undangan untuk memasukkan Australia, Rusia, Korea Selatan dan India. Trump menilai G-7 sebagai "kelompok negara yang sangat ketinggalan zaman".

Tetapi, dorongan Trump untuk memasukkan Rusia disambut dingin oleh Jerman dan sekutu lainnya. Rusia diusir dari G-8 pada tahun 2014 setelah Moskow mencaplok wilayah Krimea di Ukraina.

Rusia masih menguasai wilayah itu, dan negara G7 telah menolak seruan sebelumnya dari Trump untuk menerima kembali Moskow.

Negara G-7 adalah AS, Inggris, Prancis, Jepang, Jerman, Italia, dan Kanada. Uni Eropa juga hadir. Kelompok ini mulai bertemu pada tahun 1975 dan awalnya tanpa Kanada.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ktt Donald Trump Covid-19
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top