Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tagar #SavePapuaForest Trending di Twitter, Ada Apa?

berdasarkan keterangan investigasi terbaru oleh kelompok Arsitektur Forensik di Goldsmiths University di London dan Greenpeace International, terdapat bukti yang mengindikasikan adanya pembakaran yang disengaja selama periode pembukaan lahan.
Ika Fatma Ramadhansari
Ika Fatma Ramadhansari - Bisnis.com 13 November 2020  |  17:52 WIB
Ilustrasi kebakaran hutan
Ilustrasi kebakaran hutan

Bisnis.com, JAKARTA – Tagar #SavePapuaForest saat ini ramai diperbincangkan oleh warganet di media sosial twitter. Pasalnya, terdapat indikasi pembakaran hutan untuk membuka lahan yang dilakukan oleh perusahaan asing yang telah diberi izin oleh pemerintah.

Hingga saat, cuitan di media sosial twitter dengan menggunakan tagar #SavePapuaForest telah mencapai 369.000 cuitan. Selain itu, ada juga tagar #SaveHutanIndonesia dengan 361.000 cuitan.

Dikutip dari BBC News pada Jumat (13/11/2020), berdasarkan keterangan investigasi terbaru oleh kelompok Arsitektur Forensik di Goldsmiths University di London dan Greenpeace International, terdapat bukti yang mengindikasikan adanya pembakaran yang disengaja selama periode pembukaan lahan.

Investigasi menemukan bukti kebakaran di salah satu konsesi perusahaan sawit milik Korea Korindo selama beberapa tahun dalam pola yang konsisten dengan penggunaan yang disengaja.

"Kami menemukan bahwa pola, arah dan kecepatan perpindahan api sangat cocok dengan pola, kecepatan, arah pembukaan lahan. Ini menunjukkan bahwa kebakaran dilakukan dengan sengaja," ungkap Samaneh Moafi, peneliti senior.

Adapun, membakar hutan adalah tindakan yang dilarang dan telah diatur oleh Undang-Undang (UU), terdapat pada UU No. 11 Tahun 2020 Tentang Cipta Kerja di dalam Paragraf 4 Pasal 36 ayat 17.

"Setiap orang dilarang: .... b. membakar hutan," dikutip dari UU Cipta Kerja pada halaman 195.

Berdasarkan laporan BBC News, Korindo telah menebang hampir 60.000 hektare hutan di dalam konsesi yang diberikan pemerintah. Area ini seluas Ibu Kota Korea Selatan, Seoul. Perkebunan perusahaan ini pun dilindungi oleh pasukan keamanan negara.

Laporan itu pun menuai reaksi dari para warganet. Banyak yang mengaku geram dengan hal tersebut dan mengangkat tagar #SavePapuaForest.

Berikut ini beberapa respon warganet:

Aktivis HAM Veronica Koman melalui Twitter-nya ikut merespon tagar ini dan berkeinginan isu ini juga menjadi trending di Korea Selatan.

"Thank you, K-pop stans in Indonesia for raising the issue. Now, can we make it number one in Twitter South Korea as well? Please do your magic again! #SavePapuaForest," tulis pemilik akun @VeronicaKoman yang diunggah pada pukul 14.36 Jumat (13/11/2020).

Akun @BbiBbi87150886 menuliskan dengan tegas untuk tidak menyentuh lahan Indonesia.

"DON'T TOUCH MY COUNTRY'S LAND!!! #SavePapuaForest," tulis BbiBbi ini disertai foto yang pengosongan lahan hutan yang disertai tulisan SAVE PAPUA FOREST.

Salah seorang penggemar K-pop dengan akun @MsAllRounder turut meramaikan tagar ini dengan mengungkapkan walaupun dia penggemar K-pop tetapi dia tetap warga negara Indonesia. Tak peduli seburuk apa Indonesia, tetapi dia tetap mencintai Indonesia.

"I might be a fan of kpop. I might be a fan of Thai idol. But i'm still an Indonesian. My soul is still here. Whatever how jerk government or ppl who being ignorant. I still love Indonesia, a land full of heaven. #SavePapuaForest #SaveHutanPapua #SaveHutanIndonesia," cuitnya.

Selain itu akun @nagtch juga menuliskan kemarahannya dengan mengungkapkan jangan sentuh Indonesia.

"wah parah, protect my country, DON'T TRY TO TOUCH MY COUNTRY!! #SavePapuaForest," unggahnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hutan papua kebakaran hutan
Editor : Fitri Sartina Dewi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top