Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Sulit Sekali Mendamaikan Politik dan Energi. Ada Apa Dengan Waktu?

Politik dan energi nampaknya mempunyai koridor masing-masing yang sejatinya sulit dipertemukan. Alhasil menyelaraskan keduanya dalam satu tampilan orkestra apik demi kemajuan ekonomi bangsa mutlak membutuhkan dirigen yang super piawai pula.
Inria Zulfikar
Inria Zulfikar - Bisnis.com 19 Oktober 2020  |  14:01 WIB
Kilang minyak lepas pantai di Skotlandia - Bloomberg/Jason Alden
Kilang minyak lepas pantai di Skotlandia - Bloomberg/Jason Alden

Bisnis.com, JAKARTA – Politik minyak bisa merembet sampai jauh. Bahkan dapat memicu ketegangan, konflik hingga perang besar.

Sudah tak terhitung banyaknya betapa persoalan yang terkait dengan minyak bumi berakhir dengan prahara di kawasan Timur Tengah.

Bisa dikatakan bahwa politisi dapat menggunakan minyak sebagai ‘senjata ampuh’ untuk bernegosiasi. Sebaliknya, orang-orang perminyakan merasa lebih baik mereka berfokus saja pada bisnis energi.

Namun tetap saja minyak sungguh dekat dengan politik meski pengusaha perminyakan beranggapan sebaliknya.

Politik ibarat pusaran air di arus deras. Energi seperti sungai yang mengalir hening melintasi waktu. Keduanya dinilai tidak bisa terkait dengan yang lainnya. Masing-masing diakui sebagai realita yang berbeda.

Politikus dan eksekutif energi ibarat air dan minyak dalam saluran pipa. Keduanya mungkin berbagai ruang yang sama dari waktu ke waktu. Bisa jadi juga saling bersentuhan satu sama lain dalam diskusi publik atau perdebatan besar tentang kebijakan lainnya.

“Tapi molekul-molekul keduanya tidak selaras dan waktu adalah akar permasalahan dari ketidaksesuaian mereka,” ujar John Hofmeister dalam bukunya bertajuk Wy We Hate The Oil Companies (2010).

Energi dan politik merupakan salah satu bahasan panas yang diulas mantan direktur utama Shell Oil Company tersebut. Hofmeister berpendapat bahwa dalam politik, it’s all in the timing. Semua tergantung pada waktu. Ujung-ujungnya adalah bertahan dalam tampuk kekuasaan atau terdepak.

Mereka harus mempertahankan posisi dan bagaimana meresponsnya sebagai bagian dari kalkulasi politik yang dapat memengaruhi pemilihan berikutnya.

Apa yang mereka katakan atau lakukan, atau tidak katakan dan lakukan, dapat dan akan menguntungkan atau merugikan mereka pada hari penentuan nasib (hasil pemilu). Dengan demikian, penentuan waktu adalah segalanya.

Anggaplah Anda seorang politikus sebuah partai politik di lingkaran elite kekuasaan. Apakah Anda berani mengambil risiko terputus dari konstituen mengenai isu-isu atau penentuan waktu? Anda lengah sedikit pasti langsung disergap oleh lawan politik.

Bagi seorang eksekutif energi, hal kebalikannya yang berlaku. Satu momen tidak ada apa-apanya. Penentuan waktu ada dalam spektrum yang nyaris tak terbatas.

Bila terlalu cepat biayanya akan sangat mahal, membuat konversi tak optimal, mengecewakan hubungan atau memberi tekanan berlebih pada infrastruktur. Semua itu akan berdampak pada konversi pasokan masa depan. Sebaliknya jika terlalu lama, peluang bisa disabet pesaing.

Intinya, kata Hofmeister, investasi modal adalah keputusan terpenting yang dibuat eksekutif perusahaan minyak. Seberapa banyak, negara yang dipilih, jenis sumber daya, tempat dalam rantai nilai, dan timing berinvestasi dapat memakan waktu beberapa bulan hingga tahunan.

“Terkadang waktu adalah sekutu yang demikian setia. Sampai-sampai sebuah  keputusan untuk tidak melanjutkan rencana adalah pilihan yang lebih baik,” paparnya.

Cara pandang Hofmeister sebenarnya tidak hanya sebatas mengorek isi perut masalah politik energi di Amerika Serikat. Pasalnya, politisi, pemerintahan, legislator, oposisi, kelompok penekan, dan publik adalah dinamika keseharian kita semua.

Oleh karena itu, kedua aspek bertensi tinggi ini harus dikelola dengan baik. Realitas yang kerap disebut ‘seperti air dan minyak dalam saluran pipa’ ini niscaya tidak akan bertambah gawat bila minyak tidak didekatkan dengan api, bukan?   

Dapat dipahami bahwa agenda seorang eksekutif energi di masa jabatannya adalah merencanakan, menganalisa, menimbang pilihan, mengevaluasi alternatif hingga akhirnya membuat keputusan yang akan memengaruhi perusahaan sampai berdasawarsa mendatang.

Jelas sekali bahwa posisi tersebut tidak diperebutkan lewat ajang pemilihan umum. Artinya eksekutif energi tidak melayani indeks kebahagiaan komunitas pemangku kepentingan.

Bagi politisi, it’s all the timing. Kalah cepat bertindak, lawan politik akan diuntungkan. Hofmeister, yang lama bergumul di dunia energi, paham betul mengenai persoalan pelik ini.

“Perbedaan penentuan waktu dan ketidaksesuaian DNA dari para pemimpin yaitu pejabat terpilih dan eksekutif energi adalah masalah yang serius dan berkelanjutan. Dan mungkin tidak akan pernah berakhir bagi masa depan ketahanan energi.”

Semoga saja kadar ‘seperti air dan minyak dalam saluran pipa’ dalam politik energi bangsa ini tidak malah makin menjauhkan dua realitas itu.

Lebih elok lagi bila minyak tidak dijadikan sebagai senjata politik untuk melibas lawan atau mendulang popularitas, yang dari kacamata industri sebenarnya ‘konsumsi tersebut’ masih sangat prematur.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

energi minyak pemilu politisi energi terbarukan
Editor : Inria Zulfikar
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top