Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kenaikan Harga Pangan Melambat, Inflasi China Melandai pada September 2020

Melambatnya inflasi pada September salah satunya disebabkan oleh harga daging babi yang naik lebih rendah dibandingkan kenaikan bulan sebelumnya.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 15 Oktober 2020  |  09:55 WIB
Warga Hong Kong membawa tas belanja dari sebuah department store ternama di Hong Kong, China, Sabtu (30/5/2020). - Bloomberg/Ivan Abreu
Warga Hong Kong membawa tas belanja dari sebuah department store ternama di Hong Kong, China, Sabtu (30/5/2020). - Bloomberg/Ivan Abreu

Bisnis.com, JAKARTA – Inflasi China melandai pada bulan September 2020, didorong oleh melambatnya kenaikan harga bahan pangan.

Dilansir dari Bloombrg, Biro Statistik Nasional (NBS) mencatat indeks harga konsumen (consumer price index/CPI) naik 1,7 persen pada September dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).

CPI bulan lalu lebih landai dibandingkan bulan Agustus 2020 yang mencapai 2,4 persen yoy. Selain itu, angka ini juga lebih rendah dibandingkan median proyeksi sejumlah analis yang mencapai 1,9 persen.

Sementara itu, indeks harga produsen (producer price index/PPI) mencatat penurunan 2,1 persen, menyusul pelemahan 2 persen pada bulan Agustus.

Harga daging babi, yang menjadi komponen utama pembentuk inflasi di China, naik 25,5 persen pada September, setelah menguat 52,6 persen di bulan sebelumnya.

Penurunan kenaikan tersebut berdampak pada penurunan inflasi bagi rumah tangga. Namun, penurunan laju penguatan ini berdasar karena harga daging telah mencapai rekor tertinggi selama puncak pandemi demam Babi Afrika tahun lalu.

Sementara itu, angka CPI inti, yang tidak termasuk harga makanan dan energi, tetap stabil di 0,5 persen. Kenaikan CPI inti yang lamban dapat menandakan aktivitas perekonomian dasar yang lemah.

Pemulihan ekonomi China berjalan stabil baru-baru ini berkat pertumbuhan ekspor yang kuat dan peningkatan permintaan domestik. Hal ini dikarenakan sebagian besar kasus virus corona di Negeri Panda ini dapat dikendalikan.

Data aktivitas ekonomi bulan September dan PDB kuartal ketiga, yang akan dirilis pada hari Senin, akan memberikan gambaran mengenai keberlanjutan rebound perekonomian.

Sebelum data dirilis, ekonom Oversea Chinese Banking Corp Tommy Xie mengatakan sebelum penurunan laju inflasi dapat menjadi tantangan bagi pemulihan ekonomi, dalam arti bahwa tingkat suku bunga riil China menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan AS.

“Sehingga China mungkin harus menurunkan yield gap untuk dua tujuan: baik untuk pemulihan dan menahan arus masuk modal, serta meredakan tekanan untuk apresiasi yuan,” ungkapnya, seperti dikutip Bloomberg.

Xie memperkirakan CPI turun di bawah 1 persen pada kuartal terakhir tahun ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi china inflasi china

Sumber : Bloomberg

Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top