Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Antisipasi Dampak La Nina, Luhut: Asuransi untuk Petani Sedang Difinalisasi

Luhut Panjdaitan mengatakan bahwa saat ini pemerintah tengah menfinalisasi asuransi untuk petani yang terdampak bencana hidrometeorologi akibat fenomena La Nina.
Aprianus Doni Tolok
Aprianus Doni Tolok - Bisnis.com 13 Oktober 2020  |  12:17 WIB
Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut B. Pandjaitan dalam Digital Launch of Indonesia's Multi-Stakeholder Action Plan, Rabu (22/4/2020). Istimewa -  Humas Kemenko Marves
Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut B. Pandjaitan dalam Digital Launch of Indonesia's Multi-Stakeholder Action Plan, Rabu (22/4/2020). Istimewa - Humas Kemenko Marves

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) Luhut Pandjaitan menyampaikan bahwa Menteri Keuangan Sri Mulyani tengah menyiapkan asuransi untuk para petani yang terdampak fenomena La Nina.

“Memang Ibu Sri Mulyani [Menkeu] tadi sudah jelaskan bahwa sekarang sudah dibuat satu fund untuk itu [asuransi]. Memang masih difinalisasi sehingga kalau ada bencana asuransi ini bisa membantu,” ujarnya dalam konferensi pers hasil rapat terbatas Antisipasi Bencana Hidrometeorologi, Selasa (13/10/2020).

Adapun, saat ini hingga sekitar awal tahun depan, Indonesia diprediksi akan dilanda hujan ekstrem akibat fenomena La Nina.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi La Nina akan mencapai puncak pada Desember 2020 hingga Januari 2021, yang kemudian dilanjutkan dengan puncak musim hujan yakni sekitar Februari 2021.

Walhasil, pemerintah pun mengimbau masyarakat untuk waspda dan mengantisipasi terjadinya dampak akibat cuaca ekstrem tersebut lewat monitoring informasi perkiraan cuaca terkini dari BMKG.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga mengimbau masyarakat untuk menyiapkan diri dan mengantisipasi kemungkinan terjadi bencana hidrometeorologi seperti banjir.

Presiden menyatakan bahwa berdasarkan laporan yang diterima dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), curah hujan bulanan di Indonesia berpotensi naik 20 - 40 persen di atas normal akibat fenomena La Nina.

Oleh sebab itu, Presiden Jokowi meminta jajarannya untuk mengantisipasi dampak dari La Nina terhadap sejumlah sektor, khususnya sektor pertanian.

“Saya minta semua [mengantisipasi] dampak La Nina ini terhadap produksi pertanian agar betul-betul dihitung terhadap sektor perikanan, dan juga sektor perhubungan, karena 20 - 40 persen itu bukan kenaikan yang kecil,” kata Jokowi dalam konferensi pers saat membuka Rapat Terbatas Antisipasi Bencana Hidrometeorologi, di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (13/10/2020).

Lebih lanjut, Kepala Negara juga meminta BMKG untuk mengumumkan secepatnya perkembangan cuaca ke seluruh provinsi dan daerah guna melakukan antisipasi dampaknya.

"Dengan demikian masyarakat bisa tahu curah hujan bulanan ke depan ini akan terjadi seperti apa," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

asuransi petani Luhut Pandjaitan La Nina
Editor : Fitri Sartina Dewi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top