Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Di Balik Matinya Sistem Bursa Tokyo, Satu Perangkat Rusak Pasar Seharian

Perangkat data yang penting untuk sistem perdagangan Bursa Efek Tokyo mati pada Kamis (1/10/2020). Pencadangan otomatis juga gagal berfungsi, kurang dari satu jam sebelum sistem akan mulai memproses pesanan di pasar ekuitas senilai US$6 triliun.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 05 Oktober 2020  |  13:45 WIB
Bursa Jepang - Reuters
Bursa Jepang - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Pada pukul 7:04 waktu Tokyo, Kamis pekan lalu (1/9/2020), pengelola pasar ekuitas terbesar ketiga di dunia itu menyadari bahwa mereka memiliki masalah pada salah satu perangkat data.

Perangkat data yang penting untuk sistem perdagangan Bursa Efek Tokyo mati. Pencadangan otomatis juga gagal berfungsi, kurang dari satu jam sebelum sistem akan mulai memproses pesanan di pasar ekuitas senilai US$6 triliun. Pejabat bursa tidak mendapat solusi dan bursa ditutup untuk sepanjang hari itu.

Penutupan sehari penuh yang terjadi adalah yang terlama sejak bursa beralih ke sistem perdagangan elektronik sepenuhnya pada 1999. Hal itu menuai kritik dari pelaku pasar dan otoritas, serta menyoroti kerentanan yang jarang mengemuka dalam praktik keuangan dunia. Bukan perangkat lunak atau risiko keamanan, tetapi bahaya ketika salah satu dari ratusan perangkat keras yang membentuk sistem perdagangan, tiba-tiba tidak berfungsi.

"Anda berurusan dengan mesin sehingga selalu mungkin mesin akan rusak. Mereka perlu menciptakan infrastruktur yang memperhitungkan adanya gangguan," kata Menteri Keuangan Taro Aso kepada wartawan di Tokyo, dilansir Bloomberg, Senin (5/10/2020).

Sistem Arrowhead TSE diluncurkan pada 2010, yang disebut sebagai solusi modern setelah serangkaian pemadaman yang lebih lama pada era 2000-an. Sistem ini terdiri dari sekitar 350 server yang memproses pesanan beli dan jual. Tercatat beberapa gangguan tetapi tidak ada pemadaman besar dalam dekade pertama.

Namun, hal itu berubah pada pekan lalu ketika salah satu dari dua perangkat penyimpanan data berbentuk persegi, mendeteksi kesalahan memori. Perangkat ini menyimpan data manajemen yang digunakan di seluruh server dan mendistribusikan informasi seperti perintah dan kombinasi ID dan kata sandi untuk terminal yang memantau perdagangan.

Ketika kesalahan terjadi, sistem seharusnya menjalankan apa yang disebut failover yakni peralihan otomatis ke perangkat No.2 atau cadangan. Namun karena alasan yang tidak dapat dijelaskan oleh eksekutif bursa, proses itu juga gagal. Hal itu berdampak langsung pada server yang disebut gateway distribusi informasi yang dimaksudkan untuk mengirim informasi pasar ke trader.

Pada pukul 8 pagi, trader yang bersiap di meja mereka untuk pembukaan pasar satu jam kemudian seharusnya telah melihat harga indikatif di terminal mereka saat pesanan diproses. Namun banyak yang tidak melihat apa-apa, sementara yang lain melaporkan melihat data muncul dan menghilang. Mereka tidak tahu apakah informasi itu akurat.

Semenit kemudian, bursa melakukan komunikasi pertama, menginformasikan administrator sistem di perusahaan sekuritas bahwa telah terjadi masalah.

Sekitar pukul 08.05, Twitter mulai ramai dengan rumor suatu masalah. Para pedagang menggambarkan rasa kebingungan yang semakin meningkat karena hanya sedikit jawaban yang datang dari bursa.

"Kami tidak tahu apakah [kesalahan] itu di sistem kami atau bursa,” kata Masaya Akiba, pialang di departemen perdagangan saham Marusan Securities Co.

Pada pukul 08.36, bursa akhirnya menginformasikan kepada perusahaan sekuritas bahwa perdagangan akan dihentikan.

Pertama kalinya dalam hampir lima belas tahun, bursa mengalami pemadaman perdagangan total yang bahkan tidak terjadi selama bencana alam.

Beberapa pelaku pasar mengaku kecewa dan marah karena keputusan tersebut.

"Awalnya saya tidak terlalu memikirkannya. Pemadaman sebelumnya diselesaikan dengan cepat, jadi saya berasumsi pesanan hanya akan ditunda,” kata Kiyoshi Ishigane, kepala manajer dana di Mitsubishi UFJ Kokusai Asset Management Co. di Tokyo.

Pada 2012, setelah peralihan ke Arrowhead, bursa tersebut dengan cepat menyelesaikan masalah terbatas. Banyak yang mengharapkan bursa melakukan hal yang sama kali ini juga.

Pukul 16.30 waktu setempat, empat eksekutif bursa, termasuk CEO Koichiro Miyahara dan Chief Information Officer Ryusuke Yokoyama menemui wartawan dan publik untuk meminta maaf atas pemadaman pada hari itu. Para eksekutif menjawab pertanyaan dan dengan jujur <

Selanjutnya diumumkan bahwa bursa akan memulai kembali perdagangan pada Jumat keesokan harinya. Badan Jasa Keuangan telah memerintahkan bursa untuk mengeluarkan laporan tentang pemadaman tersebut.

Pertanyaannya adalah apakah kesalahan perangkat keras ini dapat terjadi di pasar saham lain? Ahli strategi mengatakan itu bukanlah sesuatu yang perlu terlalu dikhawatirkan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa jepang bursa tokyo transaksi saham

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top