Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Thailand Belum Buka Pariwisata Secara Penuh Sampai Ada Vaksin Covid

Sekitar 150 warga negara China akan tiba di Phuket pada 8 Oktober yang merupakan rombongan turis asing pertama yang mengunjungi Thailand selama pandemi sejak Maret lalu.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 30 September 2020  |  15:19 WIB
Pemandangan Teluk Maya di Pulau Phi Phi, Thailand sebelum ditutup oleh pemerintah setempat pada 2018. - Reuters
Pemandangan Teluk Maya di Pulau Phi Phi, Thailand sebelum ditutup oleh pemerintah setempat pada 2018. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Thailand kemungkinan tidak akan sepenuhnya membuka pantai dan taman nasional yang populer untuk wisatawan luar negeri sampai vaksin corona tersedia.

Chairat Trirattanajarasporn, presiden Dewan Pariwisata Thailand mengatakan pihak berwenang kemungkinan hanya akan mengizinkan masuknya sejumlah kecil pengunjung asing selama beberapa bulan sebelum mempertimbangkan pelonggaran lebih lanjut. Dewan yang mewakili operator pariwisata lokal itu memperkirakan perbatasan tidak akan kembali dibuka secara penuh sampai adanya vaksin.

Sementara itu, negara ini akan menyambut gelombang pertama turis asing dalam enam bulan terakhir. Sekitar 150 warga negara China akan tiba di Phuket pada 8 Oktober yang merupakan rombongan turis asing pertama yang mengunjungi Thailand selama pandemi sejak Maret lalu. Rencana tersebut dapat memberikan model bagaimana perekonomian yang bergantung pada turis asing dapat dibuka kembali dengan lebih aman bagi wisatawan internasional.

"Membuka kembali perbatasan meski hanya untuk uji coba adalah hal yang bagus. Setelah kami menguji rencana pembukaan kembali selama sebulan, kami dapat menilai bagaimana melanjutkan dan memungkinkan lebih banyak pengunjung untuk datang," kata Chairat, dilansir Bloomberg, Rabu (30/9/2020).

Pembatasan pengunjung asing ditujukan untuk menguji kesiapan negara untuk membuka kembali pariwisata yang lebih luas dalam beberapa bulan mendatang ketika Perdana Menteri Prayuth Chan-Ocha meningkatkan upaya menghidupkan kembali sektor pariwisata yang terpukul. Pariwisata diketahui menyumbang sekitar seperlima dari ekonomi negara itu.

Turis akan dikarantina selama dua minggu pada saat kedatangan dan harus tinggal selama minimal 90 hari karena pihak berwenang berusaha untuk mempertahankan kesuksesan relatif Thailand dalam mengatasi pandemi.

Pemerintah minggu ini juga memperpanjang keadaan darurat hingga akhir Oktober untuk memungkinkan pemberlakuan karantina wajib dan merampingkan rencana pengendalian penyakit tanpa banyak persetujuan dari berbagai lembaga.

Sementara dewan pariwisata mengharapkan sekitar 50.000 wisatawan mengunjungi Thailand pada kuartal keempat, kedatangan setahun penuh terlihat turun 83 persen menjadi 6,74 juta. Chairat menambahkan pendapatan akan turun 82,6 persen menjadi 336,5 miliar baht (US$10,6 miliar).

Menurutnya, absennya pengunjung asing dalam jangka waktu lama di tempat-tempat wisata terkenal akan menutup lebih banyak bisnis dalam beberapa bulan mendatang.

"Bisnis yang mengandalkan turis asing, terutama di Phuket, Samui, Pattaya dan Chiang Mai, akan terus tutup dalam beberapa bulan mendatang karena hanya akan ada sekelompok kecil orang yang datang setelah pembukaan kembali," kata Chairat.

Pandemi telah menghancurkan industri pariwisata Thailand, yang memberikan pendapatan lebih dari US$60 miliar dari sekitar 40 juta pengunjung asing pada 2019. Kampanye pemerintah untuk mendorong penduduk lokal berwisata melalui hotel dan konsesi perjalanan udara telah gagal untuk menutupi penurunan pendapatan.

Direktur Senior Bank of Thailand Don Nakornthab mengatakan pembatasan yang berlanjut pada turis asing dapat membuat ekonomi terkontraksi dua tahun berturut-turut pada 2021.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pariwisata thailand Vaksin covid-19 pandemi corona
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top