Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Warganet Keluhkan Kuota Subsidi Internet dari Kemendikbud

Kuota yang banyak diberikan adalah kuota belajar yang hanya bisa digunakan untuk mengakses website tertentu saja.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 23 September 2020  |  19:32 WIB
Guru memberikan materi saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) kepada siswa baru secara daring di SMA Negeri 8 Jakarta, Senin (13/7/2020). Kegiatan MPLS dan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di sekolah tersebut bertujuan untuk mencegah penyebaran COVID-19 di lingkungan sekolah. ANTARA FOTO - Rivan Awal Lingga
Guru memberikan materi saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) kepada siswa baru secara daring di SMA Negeri 8 Jakarta, Senin (13/7/2020). Kegiatan MPLS dan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di sekolah tersebut bertujuan untuk mencegah penyebaran COVID-19 di lingkungan sekolah. ANTARA FOTO - Rivan Awal Lingga

Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah warganet mengeluhkan pembagian kuota subsidi yang diberikan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Pasalnya, kuota yang banyak diberikan adalah kuota belajar yang hanya bisa digunakan untuk mengakses website tertentu saja.

Merujuk pada laman kuota-belajar.kemdikbud.go.id, kuota belajar hanya bisa digunakan untuk membuka website dan aplikasi belajar seperti Bahaso, Duolingo, Edmodo, Google Classroom, Quipper, Ruang Guru, Rumah Belajar, Zenius, Whatsapp, serta beberapa aplikasi belajar lainnya.

Kuota belajar yang diberikan pada masing-masing jenjang berbeda-beda. Perinciannya untuk siswa PAUD 15GB dari 20 GB kuota subsidi dan siswa jenjang pendidikan dasar dan menengah 30GB dari 35 GB kuota subsidi.

Sementara, untuk pendidik jenjang PAUD sampai jenjang menengah diberikan 37GB kuota belajar dari total 42GB kuota subsidi.

Bagi mahasiswa dan dosen, kuota belajar yang diberikan sebanyak 45GB dari total 50GB kuota subsidi dari Kemendikbud.

Seorang warganet dengan akun Twitter @DiksaBryatta mengatakan bahwa kuota belajar mubazir, karena selama belajar jarak jauh justru murid dan guru jarang membuka aplikasi dan website yan gsudah ditentukan tersebut.

“Bukannya nggak bersyukur nih min, tapi 30GB kuota belajar itu sebulan terlalu berlebihan dan 5GB kuota umum terlalu sedikit apalagi kuota belajar gak bisa buka web sekolah, itu setelah saya lihat kegunaan kuota belajar, sekali lagi bukanya tidak bersyukur tapi jatuhnya mubazir,” terangnya, Senin (21/9/2020).

Akun @Lukman2003 juga menambahkan bahwa ia merasa kuota belajar terlalu banyak, melihat sekolah hanya memakai aplikasi WhatsApp atau Zoom untuk berkomunikasi, dan menggunakan Google Drive untuk memberikan materi belajar.

“Padahal sekolah saya sistemnya pake WA, nggak pake edmodo, ruangguru, zenius, dan lainnya. Sekolah  saya pakai WhatsApp yang didalamnya ada link google Drive untuk materi pembelajaran dan juga tugas tugas,” jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kemendikbud pembelajaran online
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top