Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Indonesia dan Korea Selatan Siapkan Kesepakatan Baru Proyek Pesawat KF-X

Indonesia dan Korea telah mengadakan empat putaran negosiasi ulang terkait pesawat KF-X.
Rezha Hadyan
Rezha Hadyan - Bisnis.com 23 September 2020  |  12:21 WIB
Indonesia dan Korea melakukan kesepakatan baru untuk proyek pesawat KF-X. - militermeter
Indonesia dan Korea melakukan kesepakatan baru untuk proyek pesawat KF-X. - militermeter

Bisnis.com, JAKARTA - Korea dan Indonesia menyiapkan kesepakatan baru untuk proyek jet tempur bersama mereka, yang mengalami hambatan menyusul keterlambatan Indonesia dalam membayar ratusan juta dolar.

Melansir The Korea Times pada Rabu (23/9/2020), sekitar 10 pejabat dari Defence Acquisition Program Administration (DAPA) dan Korean Aerospace Industries (KAI) - pembuat pesawat KF-X - berangkat ke Jakarta pada Selasa (22/9/2020) untuk bertemu pejabat Indonesia.

Pertemuan tersebut dijadwalkan selama dua hari, mulai Rabu (23/9/2020) sampai dengan Kamis (24/9/2020).

Proyek jet tempur gabungan tersebut dinamakan KF-X (Korean Fighter eXperimental) di Korea dan IF-X (Indonesian Fighter eXperimental) di Indonesia.

Sementara kedua belah pihak telah mengadakan empat putaran negosiasi ulang, pembicaraan terakhir dilakukan setelah sekitar satu tahun. Ini juga merupakan pertemuan pertama sejak Menteri Pertahanan Prabowo Subianto menjabat Oktober lalu. Prabowo telah menunda melanjutkan pembicaraan dengan pemerintah Korea, mengatakan dia akan meninjau keseluruhan konten anggaran pertahanan dan sistem persenjataan negara itu.

Selama pertemuan pekan ini, pejabat kedua negara akan  meninjau kembali kondisi proyek pembangunan bersama untuk mencapai kesepakatan, karena Indonesia menginginkan pengurangan berapa banyak yang dijanjikan untuk membayar pemerintah Korea.

Indonesia pada awalnya setuju untuk membayar 1,7 triliun won (US$ 1,46 miliar) atau sekitar 20 persen dari total anggaran proyek 8 triliun won.

Namun, nyatanya Indonesia hanya membayar sekitar 220 miliar won saja dan berhenti membayar pada akhir 2017 lantaran situasi keuangan negara yang memburuk.

Sementara pembayaran seharusnya selesai pada tahun 2026, tunggakannya sekitar 500 miliar won.

Menurut salah satu pejabat industri Korea Selatan, pihak Indonesia ingin menurunkan kontribusinya dari 20 persen yang dijanjikan menjadi 15 persen. Usulan tersebut dilontarkan oleh Presiden Indonesia Joko Widodo saat bertemu dengan Presiden Moon Jae-in saat berkunjung ke Korea pada September 2018, menurut pejabat tersebut.

Tahun lalu, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto mengatakan negara sedang mempertimbangkan untuk menawarkan pesawat CN-235 dari perusahaan pembuat pesawat negara PT Dirgantara Indonesia sebagai bagian dari kontribusinya, bukan uang tunai.

Pejabat industri mengatakan Indonesia juga ingin pemerintah Korea mentransfer lebih banyak teknologi untuk pengembangan jet tempur ke Indonesia - permintaan agar Korea tidak dapat memutuskan sendiri karena beberapa teknologi tersebut terkait dengan Amerika Serikat.

Sementara itu, pengembangan pesawat tempur oleh KAI berjalan lancar, dengan pabrikan akan meluncurkan prototipe pada paruh pertama tahun 2021. Awal bulan ini, KAI mulai merakit prototipe dari apa yang akan menjadi jet tempur yang dikembangkan secara lokal pertama di Indonesia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pesawat indonesia korea
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top