Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Sebelum Covid-19, Pandemi Ini Juga Pernah Hantam Perekonomian Global

Salah satu wabah terbesar yang pernah dialami dunia adalah Black Death atau yang dikenal dengan wabah pes yang terjadi pada tahun 1348-1351.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 14 September 2020  |  14:08 WIB
Sel virus Corona - Istimewa
Sel virus Corona - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Sejarah telah menunjukkan bahwa pandemi yang terjadi di penjuru dunia turut memberikan dampak terhadap sistem perekonomian global.

Pandemi Covid-19 memberikan tekanan hebat terhadap perekonomian. Dana Moneter internasional memperkirakan produk domestik bruto (PDB) global turun 4,9 persen tahun ini akibat pandemi.

Tak jauh berbeda, Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) memperkirakan pertumbuhan ekonomi global akan terkontraksi hingga 6 persen tahun 2020 akibat Covid-19.

Proyeksi ini bahkan lebih buruk dari perkirakan Bank Dunia sebesar minus 5,2 persen. ini didasarkan pada skenario penyebaran virus yang mereda. OECD memperkirakan, jika ada gelombang kedua pandemi perekonomian akan terkontraksi hingga 7,6 persen.

Sebelum pandemi Covid-19, ekonomi dunia beberapa kali mengalami guncangan akibat pandemi. Salah satu wabah terbesar yang pernah dialami dunia adalah Black Death atau yang dikenal dengan wabah pes yang terjadi pada tahun 1348-1351.

 

Black Death

Dilansir dari Berkeley Economic Review, wabah ini membunuh sekitar 50 juta jiwa di Eropa. Perkiraan angka kematian masih diperdebatkan, dengan angka kematian regional bervariasi dari 25-40 persen dan bahkan hingga 80 persen dari total populasi di suatu daerah.

Sebelum wabah terjadi, dunia mengalami masa peningkatan teknologi dan pertanian, yang berujung pada stabilitas politik dan populasi yang meroket. Wabah ini kemudian menekan tingkat upah, menyebabkan kekurangan pangan, serta kesenjangan ekonomi yang sangat menguntungkan pemilik tanah.

Ketika wabah pes mereda, sejumlah pekerja Inggris yang masih hidup mengalami kenaikan upah 20-40 persen dari tahun 1340-an hingga tahun 1360-an.

Wabah ini membuat lanskap ekonomi bergeser karena kenaikan inflasi ekstrim dan kekerasan politik setelah pemilik tanah menekan pihak berwenang untuk menetapkan batas atas upah.

Pada pertengahan abad ke-15, kepemilikan tanah mulai terkonsentrasi sekali lagi di tangan segelintir orang dan koefisien Gini mulai meningkat secara global untuk melampaui tingkat ketimpangan sebelum wabah.

 

Flu Spanyol Tahun 1918

Selain Black Plague, perekonomian global juga pernah diguncang oleh pandemi flu Spanyol tahun 1918. Wabah ini merenggut 675.000 nyawa di Amerika Serikat atau setara dengan 0,8 persen dari populasi AS tahun 1910. Di seluruh dunia, flu Spanyol telah menewaskan lebih dari 40 juta jiwa.

Flu Spanyol terjadi bersamaan dengan Perang Dunia I dalam tiga gelombang dari Maret 1918 hingga akhir 1919. Tidak seperti influenza pada umumnya, orang berusia 18-40 tahun, terutama pria, kemungkinan besar meninggal karena flu Spanyol karena sistem imun yang lebih kuat justru berbalik menyerang tubuh.

World Economic Forum memperkirakan bahwa wabah tersebut menurunkan PDB riil per kapita sebesar 6-8 persen dan merupakan guncangan makroekonomi paling negatif keempat dalam sejarah AS setelah Perang Dunia II, The Great Depression, dan Perang Dunia I.

Studi ahli biologi University of Florida menyimpulkan bahwa ada korelasi yang signifikan antara penularan penyakit dan pengangguran. Secara khusus, para ilmuwan menyimpulkan bahwa angka kematian di Chicago meningkat 32 persen untuk setiap 10 persen peningkatan angka buta huruf.

Industri hiburan atau jasa menderita kerugian paling besar, sementara bisnis perawatan kesehatan mengalami kenaikan pendapatan. Karena hilangnya usia kerja utama secara signifikan, jumlah angkatan kerja menurun dan upah meningkat.

Namun, Federal Reserve St. Louis mencatat bahwa bahwa dampak ekonomi dari Flu Spanyol bersifat jangka pendek. Setelah wabah mereda, banyak bisnis dapat pulih dan mulai beroperasi dengan segera.

 

Covid-19

Ekonomi global kembali tertekan saat pandemi Covid-19 melanda. Tindakan karantina dan lockdown yang diberlakukan sejumlah negara di dunia membuat aktivitas perekonomian terhenti, tingkat produksi menurun, dan permintaan anjlok.

Dalam World Economic Outlook, IMF melaporkan kerugian ekonomi itu terjadi karena penurunan pertumbuhan ekonomi dunia yang di luar perkiraan sebelumnya meski tingkatannya tidak merata.

“Pandemi ini berupa "krisis yang tidak sama dengan krisis lain," kontraksi dalam ekonomi global akan jauh lebih buruk daripada yang diperkirakan sebelumnya, dan pemulihannya "tidak pasti," menurut IMF seperti dikutip ArabNews.com, Kamis (25/6/2020).

Dampak Pandemi Covid-19 berupa biaya ekonomi US$12 triliun dipaparkan oleh Gita Gopinath, Chief Economist IMF, dalam konferensi pers IMF.

PDB diperkirakan turun 4,9 persen tahun ini akibat apa yang disebut IMF sebagai "Penguncian Besar."

Sementara itu pertumbuhan akan melonjak tahun depan sebesar 5,4 persen, tetapi Gopinath memperingatkan bahwa tidak adanya solusi medis membuat kekuatan pemulihan sangat tidak pasti dan dampak pada sektor dan negara tidak merata.

Perekonomian sejumlah negara besar juga jatuh ke dalam jurang resesi tahun ini akibat pandemi Covid-19. Inggris misalnya, mencatatkan kontraksi ekonomi 21,7 persen pada kuartal II/2020 dan jatuh ke jurang resesi teknis karena kuartal sebelumnya juga terkontraksi 1,7 persen.

Negara adidaya pun tak lepas dari jerat resesi. PDB Amerika Serikat (AS) menyusut 9,5 persen pada kuartal II/2020 bila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (quarter-to-quarter).

Penurunan kinerja ekonomi negara adidaya itu bahkan mencapai 32,9 persen untuk laju tahunan (year-on-year/yoy), sebagaimana dilaporkan Departemen Perdagangan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi global covid-19
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top