Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Gawat! Ternyata Ekonomi Jepang Lebih Terpuruk Setelah Data PDB Direvisi

Produk domestik bruto (PDB) menyusut 28,1 persen secara tahunan dari kuartal sebelumnya. Menurut kantor kabinet Jepang, angka ini sedikit lebih buruk dari perhitungan awal yang mencapai minus 27,8 persen.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 08 September 2020  |  09:08 WIB
Gawat! Ternyata Ekonomi Jepang Lebih Terpuruk Setelah Data PDB Direvisi
Seorang warga Jepang berdiri di sudut jalan di kota Tokyo. - Bloomberg
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Sepeninggal Perdana Menteri Shinzo Abe, ekonomi Jepang ternyata semakin terpuruk.

Jepang mencatat kontraksi -7,9 persen secara kuartalan (QtQ) pada kuartal II/2020. Angka ini adalah revisi dari pembacaan sebelumnya pekan lalu, yang mengklaim kontraksi kuartalan sebesar -7,8 persen.

Rekor kontraksi ekonomi Jepang pada kuartal terakhir sedikit lebih buruk dari perkiraan semula. Angka pertumbuhan yang direvisi ini menggarisbawahi tantangan yang dihadapi setelah penggantian Perdana Menteri Shinzo Abe ketika negara itu mencoba untuk keluar dari keterpurukan akibat virus Corona.

Produk domestik bruto (PDB) menyusut 28,1 persen secara tahunan dari kuartal sebelumnya. Menurut kantor kabinet Jepang, angka ini sedikit lebih buruk dari perhitungan awal yang mencapai minus 27,8 persen. Penurunan yang lebih tajam dalam investasi di sektor bisnis menyebabkan sebagian besar perubahan dalam laporan PDB kuartal kedua tersebut.

Ekonom telah memperkirakan kontraksi 28,5 persen secara keseluruhan tahun.

Sebuah laporan terpisah menunjukkan penurunan dalam pengeluaran rumah tangga yang tajam pada bulan Juli, yang turun 7,6 persen di bawah level tahun lalu karena konsumen mengurangi perjalanan dan makan di luar di tengah lonjakan kasus virus yang sejak itu agak berkurang.

Kontraksi ini merupakan yang terbesar dalam catatan ekonomi Jepang sejak tahun 1955.

Calon kuat pengganti Abe Yoshihide Suga akan menghadapi kondisi yang sulit dan dia harus mencari penyeimbangan untuk menahan virus tanpa mengganggu perekonomian.

“Kami mengharapkan ada pertumbuhan di kuartal ketiga. Tapi itu masih berada di jalur penurunan yang dalam untuk setahun penuh, bahkan dengan dukungan kebijakan besar-besaran dari pemerintah dan bank sentral," kata ekonom Bloomberg Yuki Masujima.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jepang pdb resesi

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top