Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Beijing-Canberra Memanas di Tengah Arus Perdagangan Miliaran Dolar

Hubungan diplomatik Australia-China memburuk setelah Australia pada 2017 memutuskan tidak meratifikasi perjanjian ekstradisi dengan China. Terlebih, Australia melarang Huawei Technologies Co berpartisipasi dalam jaringan 5G dan berlakunya undang-undang anticampur tangan asing pada 2018.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 27 Agustus 2020  |  14:32 WIB
Presiden China Xi Jinping  menuju ke Rumah Sakit (RS) Huoshenshan setelah tiba di Wuhan untuk melakukan kunjungan inspeksi, Selasa (10/3 - 2020). Wuhan merupakan kota di Provinsi Hubei yang menjadi pusat penyebaran Virus Corona atau Covid/19. Foto: Antara dari Xinhua
Presiden China Xi Jinping menuju ke Rumah Sakit (RS) Huoshenshan setelah tiba di Wuhan untuk melakukan kunjungan inspeksi, Selasa (10/3 - 2020). Wuhan merupakan kota di Provinsi Hubei yang menjadi pusat penyebaran Virus Corona atau Covid/19. Foto: Antara dari Xinhua

Bisnis.com, JAKARTA - Meski menjadi mitra dagang terbesar bagi satu sama lain, hubungan China dan Australia belakangan semakin memanas.

Perdana Menteri Scott Morisson pada April lalu menyerukan penyelidikan atas asal-usul virus corona setelah sebelumnya memblokir Huawei Technologies dari jaringan 5G negara itu.

Namun demikian, bukan berarti hubungan keduanya tak pernah harmonis. Saat naik podium untuk berpidato di depan Parlemen Australia pada November 2014, Presiden China Xi Jinping memuji hubungan yang berada di posisi terbaik sepanjang masa.

"Kami tidak dibebani oleh masalah sejarah, kami juga tidak memiliki konflik kepentingan fundamental," kata Xi kepada anggota parlemen saat itu, dilansir Bloomberg, Kamis (27/8/2020).

Keputusan Australia pada 2017 untuk tidak meratifikasi perjanjian ekstradisi dengan China dapat dilihat sebagai awal dari ketegangan yang saat ini memuncak. Hal itu tentu dipandang sebagai penghinaan oleh China yang terjadi segera setelah kunjungan Perdana Menteri Li Keqiang.

Sejak saat itu, hubungan politik dan diplomatik keduanya memburuk, terutama setelah keputusan Australia pada 2018 untuk melarang Huawei Technologies Co berpartisipasi dalam jaringan 5G dan berlakunya undang-undang anticampur tangan asing.

Terlepas dari hubungan dagang yang bernilai miliaran dolar, seruan internasional Australia untuk menyelidiki Wuhan sebagai asal-usul virus corona telah melukai kebanggaan China. Kini China menggunakan kedutaan besarnya di Canberra dan senjata propaganda negara untuk menuduh Australia sebagai boneka AS. Kondisi itu juga mendorong China menaikkan tarif ekspor jelai Australia dan menghentikan pengiriman daging dari negara itu. Pada April lalu, duta besar China untuk Australia, Cheng Jingye, mengatakan konsumen China mungkin memilih untuk memboikot ekspor negara karena hubungan yang tegang.

"Paksaan berkelanjutan China sebagian tentang mencegah Australia melakukan tindakan di masa mendatang yang bertentangan dengan kepentingan China dan sebagian tentang menghalangi pihak ketiga," kata Darren Lim, dosen senior hubungan internasional dan Asia di Australian National University.

Malcolm Davis, mantan penasihat pertahanan pemerintah dan sekarang menjadi analis senior di Institut Kebijakan Strategis Australia di Canberra mengatakan Morrison telah menyadari sudah saatnya mengedepankang kepentingan dan nilai-nilai nasional Australia dan membiarkan kekhawatiran strategis untuk mengesampingkan pertimbangan perdagangan.

Australia lebih bergantung pada China daripada ekonomi maju lainnya di dunia. Namun sebagian besar publik setuju dengan Morrison. Jajak pendapat tahunan Lowy Institute yang melacak pandangan Australia tentang kebijakan luar negeri bulan lalu menunjukkan kepercayaan warga Australia kepada China untuk untuk bertindak secara bertanggung jawab turun dari 52 persen pada 2018 menjadi 23 persen.

Meski begitu, perdagangan dan investasi terus meningkat. Ekspor Australia ke China telah meningkat setiap tahun sejak 2016. Itu berarti ketergantungan yang lebih besar pada pasar China, yang mengambil lebih dari 38 persen ekspor Australia pada 2019, naik dari sekitar 22 persen satu dekade sebelumnya.

Lebih dari 90 persen responden dalam jajak pendapat Lowy mengatakan mereka ingin pemerintah mencari pasar lain untuk ekspor. Namun upaya itu diperumit oleh pandemi.

Namun, konsumen China tidak memboikot barang Australia. Faktanya, ekspor daging sapi ke China telah meningkat begitu cepat tahun ini sehingga mencapai tingkat perlindungan di mana tarif yang lebih tinggi diberlakukan dua bulan lebih awal daripada 2019.

Meskipun ada spekulasi pada Mei bahwa China membatasi impor batu bara Australia sebagai hukuman, kini tampaknya Negeri Panda telah memberlakukan pembatasan impor yang lebih luas untuk melindungi penambang domestik.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perdagangan china australia
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top