Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Imuwan Hati-Hati Bicara Obat Covid-19 Besutan Unair, TNI AD, dan BIN

Pernyataan Ahmad menyikapi klaim obat kombinasi bagi pasien Covid-19 yang dikembangkan oleh Universitas Airlangga (Unair)bersama Badan Intelijen Negara (BIN) dan TNI AD.
Setyo Aji Harjanto
Setyo Aji Harjanto - Bisnis.com 21 Agustus 2020  |  12:10 WIB
Wakil Ketua Komite Pelaksana Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang juga Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Andika Perkasa menyampaikan sambutannya sebelum menerima hasil uji klinis tahap tiga obat baru untuk penanganan pasien COVID-19 di Jakarta, Sabtu (15/8 - 2020). Universitas Airlangga bekerja sama dengan TNI Angkatan Darat (AD), Badan Intelijen Negara (BIN) dan Polri menyelesaikan penelitian obat baru untuk pasien COVID/19 yang dirawat tanpa ventilator di rumah sakit, b
Wakil Ketua Komite Pelaksana Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang juga Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Andika Perkasa menyampaikan sambutannya sebelum menerima hasil uji klinis tahap tiga obat baru untuk penanganan pasien COVID-19 di Jakarta, Sabtu (15/8 - 2020). Universitas Airlangga bekerja sama dengan TNI Angkatan Darat (AD), Badan Intelijen Negara (BIN) dan Polri menyelesaikan penelitian obat baru untuk pasien COVID/19 yang dirawat tanpa ventilator di rumah sakit, b

Bisnis.com, JAKARTA - Pakar biologi molekuler Ahmad Rusdyan Handoyo Utomo menilai tidak transparannya hasil penelitian dan pengembangan obat dapat membahayakan.

Pernyataan Ahmad menyikapi klaim obat kombinasi  bagi pasien Covid-19 yang dikembangkan oleh Universitas Airlangga (Unair)bersama Badan Intelijen Negara (BIN) dan TNI AD.

"Saya ingat ketika malam diumumkan, itu di grup saya ribut itu. Kenapa rebut? Karena ada power point yang ada di situsnya TNI. Dan cuma itu," kata Ahmad seperti dikutip dari siaran Podcast Pandemic Talks, Jumat (21/8/2020).

Dia menjelaskan bahwa keterlibatan BIN dan TNI praktis membuat pihak dari Unair diam. Bahkan, rekan-rekannya sesama ilmuwan pun berhati-hati dalam mengeluarkan pernyataan terkait obat ini.

"Tapi tahu enggak responsnya ilmuwan, semua sepakat ini hati-hati ada BIN di situ. Teman-teman yang dari kampus yang bersangkutan, sepakat enggak berani ngomong," katanya.

Menurut dia, aura ketakutan untuk menyampaikan informasi dapat berbahaya. Terutama, lanjut Ahmad, di bidang sains.

"Ketika ada aura ketakutan tidak berani menyampaikan kebenaran itu bahaya banget. Karena kalau enggak ada ini senyap," katanya.

Obat Covid-19 kombinasi dari BIN, TNI AD dan Universitas Airlangga kini masih menuai pro kontra, dan belum mendapatkan lampu hijau untuk izin edar.

Diketahui, tiga obat kombinasi yang diklaim efektif 98 persen itu yakni: pertama, kombinasi Lopinavir/Ritonavir dan Azithromycin. Kedua, kombinasi Lopinavir/Ritonavir dan Doxycycline. Ketiga, kombinasi Hydrochloroquine dan Azithromycin.

Melalui konferensi pers, Kepala BPOM Penny Lukito menyebut hasil inspeksi pada pusat penelitian di wilayah Bandung yang dilakukan pada tanggal 27-28 Juli 2020 menunjukkan perlunya beberapa klarifikasi data yang kritikal terhadap kombinasi obat itu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

obat unair covid-19
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top