Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

AS-China Sepakat Evaluasi Perjanjian Dagang

Diskusi tentang apa yang disebut sebagai kesepakatan Fase Satu, dipimpin oleh Perwakilan Perdagangan, Robert Lighthizer dan Wakil Perdana Menteri China, Liu He.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 05 Agustus 2020  |  07:45 WIB
Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping bersalaman dalam konferensi pers di Great Hall of the People di Beijing, China, Kamis (9/11/2017). - Bloomberg/Qilai Shen\n
Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping bersalaman dalam konferensi pers di Great Hall of the People di Beijing, China, Kamis (9/11/2017). - Bloomberg/Qilai Shen\\n

Bisnis.com, JAKARTA - Para pejabat senior  Amerika Serikat (AS) AS dan China berencana mengevaluasi  perjanjian perdagangan dalam bulan Agustus di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara, menurut sumber yang diberi pengarahan tentang masalah tersebut.

Diskusi tentang apa yang disebut sebagai kesepakatan Fase Satu, dipimpin oleh Perwakilan Perdagangan, Robert Lighthizer dan Wakil Perdana Menteri China, Liu He.

Pertemuan akan berlangsung sekitar 15 Agustus, enam bulan setelah perjanjian itu berlaku, sebagaimana diatur dalam teks perjanjian, kata sumber itu seperti dikutip Bloomberg.com, Rabu (5/8/2020).

Akan tetapi, pihak Gedung Putih menolak berkomentar dan pihak Perwakilan Perdagangan tidak segera menanggapi permintaan komentar.

Sekretaris Pers Gedung Putih, Kayleigh McEnany sebelumnya mempertanyakan soal kegagalan  China memenuhi target sektor energi yang dijanjikan.

“Kami mendorong China untuk memenuhi kewajiban mereka dalam perjanjian Fase Satu dan memenuhi target sesuai  perjanjian,” katanya.

Presiden Donald Trump telah berulang kali mengatakan dalam beberapa pekan terakhir bahwa kesepakatan itu tidak sepenting apa yang disebutnya peran China dalam penyebaran Virus Corona.

"Setelah wa ah ini terjadi, saya tidak merasakan hal yang sama tentang kesepakatan itu," kata Trump dalam wawancara dengan Fox Business kemarin.

Beijing disebut tidak memenuhi  komitmen pembelian produk pertanian dan energi. Namun, Lighthizer mengatakan pada bulan Juni bahwa negara itu telah melakukan "pekerjaan yang cukup bagus" pada perubahan struktural dan memuji "pembelian yang signifikan selama beberapa minggu terakhir."

Pada 22 Juni lalu, penasihat perdagangan AS Peter Navarro mengatakan bahwa kesepakatan perdagangan antara Amerika Serikat dengan China sudah "berakhir".

Salah satu alasan berakhirnya kesepakatan tersebut adalah akibat ulah China yang tidak memberi peringatan tentang wabah Virus Corona (Covid-19) sejak awal.

Navarro pun menambahkan bahwa pembatalan perjanjian juga terjadi karena AS mengetahui tentang penyebaran virus corona, tak lama setelah delegasi China meninggalkan Washington saat perjanjian damai dilakukan Januari lalu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china amerika serikat
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top