Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Menanti Kinerja Hubinter Polri di Bawah Pimpinan Mantan Petinju

Brigjen Pol. Drs. Johni Asadoma yang kini memimpin Dvisi Hubinter Polri adalah mantan atlet tinju nasional. Medali emas pernah disumbangkan Johni pada Sea Games di Sea Games XII tahun 1983 di Singapura.
Saeno
Saeno - Bisnis.com 03 Agustus 2020  |  18:59 WIB
Brigjen Johni Asadoma saat masih menjabat Wakapolda NTT - Antara/Kornelis Kaha
Brigjen Johni Asadoma saat masih menjabat Wakapolda NTT - Antara/Kornelis Kaha

Bisnis.com, JAKARTA - Kasus Djoko Tjandra membuat Divisi Hubungan Internasional Mabes Polri menjadi sorotan.

Dua jenderal di divisi ini akhirnya dicopot dan digantikan kedudukannya oleh jenderal lainnya.

Brigjen Pol. Drs. Johni Asadoma termasuk yang ditugaskan Kapolri Jenderal Pol. Idham Azis untuk memimpin Divisi Hubungan Internasional Polri.

Hal itu tidak terlepas dari catatan Johni yang pernah lama aktif di Hubinter Polri.

Johni pernah bertugas di Divisi Hubungan Internasional Mabes Polri selama kurang lebih enam tahun.

"Mungkin latar belakang inilah yang membuat saya kembali ditarik ke Hubinter dan diangkat menjadi Kadiv Hubinter di Mabes Polri," ujarnya, seperti ditulis Antara, Senin (3/8.2020).

Menjalani tugas tanpa beban dan hidup apa adanya menjadi prinsip Johni. Hal itu ditanamkan sejak kecil oleh orang tuanya.

Pria kelahiran Denpasar, Bali, 8 Januari 1966 ini mengibaratkan hidupnya seperti air yang mengalir secara alamiah.

"Tidak terlalu ambisi, tidak berpikir yang muluk-muluk, apa yang ada di depan mata itu yang saya usahakan dikerjakan dengan baik," kata jebolan Akpol 1989 ini.

Sejak kecil hingga saat ini, Ketua Ikatan Alumni (IKA) SMAN 1 Kupang ini selalu ingin membangun komunikasi dan hubungan yang baik dengan semua orang. Hidup dalam ketenangan dan mendapat dukungan doa dari orang lain yang tinggal di sekitarnya menjadi pilihan Johni.

Ada sisi lain yang menarik dari perjalanan hidup Johni. Sebelum menjadi jenderal polisi, Johni pernah menjadi atlet tinju nasional dan berhasil menyumbangkan medali emas untuk kontingen Sea Games Indonesia.

Sekolah Sambil Bertinju 

Tahun 1977 Johni Asadoma menyelesaikan pendidikan sekolah dasar di SD Oetete Kupang. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di SMPN 1 Kota Kupang. Tahun 1984 Johni menyelesaikan pendidikan di SMAN 1 Kupang.

Mengejar pendidikan menjadi komitmen Johni. Saat itu, Johni muda sudah mulai disibukkan dengan latihan dan pertandingan tinju.

Naik turun ring tinju di berbagai daerah di Indonesia dan negara lain tidak membuat Johni melupakan pendidikan. 

Tekad pribadi Johni adalah seiring prestasi tinju yang terus meningkat pendidikan pun tetap jadi perhatian.

Itu sebabnya Johni tampil sebagai petinju yang rajin membaca buku. Menurut pengakuannya, ke mana-mana ia selalu membawa buku pelajaran. Buku-buku itu dibacanya di kala luang. Bagi Johni membaca bisa membuat dirinya mengetahui segala hal.

Tahun 1985 Johni mendaftar di Akademi Polisi di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Lulus Akpol 1989, ia mengikuti pendidikan lanjutan di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian Angkatan XXXI tahun 1994 - 1996.

Tak berhenti di situ, Johni juga melanjutkan belajar ke Sekolah Staf dan Pimpinan (Sespim) Polri Angkatan XXXIX tahun 2003. Dia juga mengikuti Sekolah Staf dan Pimpinan Tertinggi (Sespimti) Polri Angkatan XX tahun 2012.

Di luar itu, Johni menyelesaikan pendidikan pascasarjana ilmu hukum di Universitas Sumatra Utara (USU) Medan. Saat ini dia sedang menjalani pendidikan S-3 Administrasi Publik di Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, NTT.

Prestasi Tinju

Berbagai prestasi tinju ditorehkan Johni saat berada di bangku sekolah. Ia menjadi juara tinju di tingkat regional, nasional, maupun internasional.

Saat berusia 16 tahun, Johni menjadi juara pada kejuaraan tinju di Kupang. Selanjutnya, ia menjadi juara tinju untuk Nusa Tenggara pada kejuaraan Pangdam Udayana Cup 1982 di Mataram NTB.

Masih di tahun 1982, Johni meraih medali perunggu pada Kejuaraan Nasional Tinju Senior di Semarang dan medali emas pada Kejurnas Tinju Senior/Pra-PON Lampung 1984. Ia juga pernah mendapatkan medali emas pada Piala Presiden XII tahun 1984 di Jakarta.

Di tingkat internasional, Johni menyumbangkan medali emas pada Sea Games XII tahun 1983 di Singapura.

Di final kelas terbang ringan, Johni mengalahkan petinju Thailand Wansuradej Hayedoror.

Saat itu bersama Jonas Giay di kelas menengah dan Lodewick Akwan (kelas berat), Johni menyumbangkan tiga emas dari ring tinju untuk Indonesia.

Secara keseluruhan tim tinju menyumbangkan 3 medali emas, 3 perak, dan 5 perunggu. Sementara, dengan total 64 emas, 67 perak, dan 54 perunggu dari seluruh cabang olah raga, Indonesia tampil sebagai juara umum Sea Games 1983.

Logo Sea Games 1083 di Singapura/southeastasiansportsnews.blogspot.com

Johni juga mewakili Indonesia dalam kejuaraan King’s Cup di Bangkok Thailand pada tahun 1983, serta Olimpiade XXII tahun 1984 di Los Angeles AS. Sayangnya, atau mungkin malah untungnya, Johni gagal di babak penyisihan Olimpiade Los Angeles.

Usai gantung sarung tinju, Johni menjadi wasit dengan prestasi nasional maupun internasional. Pada Asian Games XVIII tahun 2018 di Jakarta Johni bertindak sebagai ketua organizing committee cabang tinju.Bahkan, saat ini Johni masih menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Pertina.

Karier di Korps Bhayangkara

Dalam karier sebagai anggota Polri,Johni berdinas di Brimob selama lebih kurang 20 tahun, dan 6 tahun di Divisi Hubungan Internasional Polri.

Berbagai jabatan pernah dipercayakan kepada Johni mulai dari Danton Kompi 5153 Polda Sulawesi Utara, Danki Sat Brimob Pusat Kedung Halang-Bogor, Wadanyon A Resimen I Korps Brimob Polri, Dansub Den Gegana Resimen II Kelapa Dua-Depok, Wadansat Brimob Polda Maluku, Kaden C Resimen I Kedung Halang-Bogor, hingga menjadi Kaden A Sat Brimob Polda Sumatra Utara.

Setelah berpangkat kombes, Johni menjadi Analis Utama Trans National Crime Center Bareskrim Polri. Tahun 2011, Johni masuk Divisi Hubinter Polri dengan karier awal sebagai Kabag Liasion Officer dan Perbatasan NCB-Interpol-Indonesia Div Hubinter Polri.

Selanjutnya, Johni menjadi Kabag Kerja Sama Pengembangan Kapasitas Divhubinter Polri.

Tahun 2016 Johni mendapat promosi Brigjen sebagai Kepala Biro Misi Internasional Divhubinter Polri. Setahun kemudian ia menjadi Wakapolda Sulawesi Utara, lalu pada 2018 ditunjuk sebagai Wakapolda NTT.

Tahun 1999 - 2000 Johni sempat menjalani penugasan pada misi pemeliharaan perdamaian PBB United Nations Mission in Bosnia Herzegovina (UNMIBH) di Bosnia.

Johni tampaknya tak bisa jauh-jauh dari Divisi Hubinter Polri. Pada 17 Juli lalu, di saat menjabat sebagai Wakapolda NTT selama kurang lebih 1 tahun, Johni ditunjuk oleh Kapolri Jenderal Pol. Idham Azis menjadi Kadiv Hubinter Polri.

"Hari ini saya resmi menjadi Kadiv Hubinter dan jujur saya terkejut saat pertama kali dipercayakan menjadi Kadiv Hubinter oleh Bapak Kapolri," kata Johni saat pelantikan dirinya.

Johni Asadoma mengaku senang dengan tanggung jawab itu dan bertekad akan melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya.

"Saya akan berusaha semampu saya memberi yang terbaik bagi masyarakat, institusi Polri, dan bangsa Indonesia dengan tetap mengandalkan Tuhan dalam tiap langkah hidup saya," kata Johni.

Kasus Djoko Tjandra

Seperti diketahui, akibat kasus Djoko Tjandra, Kapolri mencopot jabatan Irjen Napoleon Bonaparte dan Brigjen Nugroho dari Hubinter.

Pencopotan keduanya tertuang dalam Surat Telegram Kapolri Nomor: ST/2076/VII/KEP./2020 tertanggal 17 Juli 2020.

Dalam surat telegram itu disebutkan Irjen Napoleon dimutasikan ke Analis Kebijakan Utama Itwasum Polri. Sementara Brigjen Nugroho digeser ke Analis Kebijakan Utama Bidang Jianbang Lemdiklat Polri.

Pencopotan jabatan tersebut merupakan sikap tegas Kapolri terhadap pelanggaran kode etik yang dilakukan keduanya.

Kedua jenderal itu dinilai lalai terkait pengiriman surat Brigjen Nugroho pada 5 Mei 2020 kepada Dirjen Imigrasi tentang pemberitahuan informasi red notice atas nama Joko Soegiarto Tjandra alias Djoko Tjandra. 

Surat Telegram Kapolri itu juga menyebutkan soal mutasi di jajaran Kepolisian.

Wakapolda NTT Brigjen Pol Johanis Asadoma atau Johni Asadoma diangkat sebagai Kepala Divisi Hubungan Internasional (Kadivhubinter) Polri menggantikan Irjen Pol Napoleon Bonaparte.

Posisi Wakapolda NTT diserahkan kepada Irwil II Itwasum Polri Brigjen Pol Ama Kliment Dwikorjanto. Sedangkan Analis Kebijakan Utama Bidang Lemtala Srena Polri Brigjen Pol Sjamsul Sidiq diangkat sebagai Irwil II Itwarsum Polri.

Jabatan Ses NCB Interpol Indonesia Divhubinter Polri yang semula diisi Brigjen Pol Nugroho Slamet Wibowo diserahkan kepada Kadiklatsusjatrans Lemdiklat Polri Brigjen Pol Amur Chandra Juli Buana.

Kabagkonvinter Set NCB Interpol Indonesia Divhubinter Polri Kombes Pol Aby Nursetyanto diangkat sebagai Kadiklatsusjatrans Lemdiklat Polri menggantikan posisi yang ditinggalkan Brigjen Pol Amur Chandra Juli Buana.

Sementara Wadirtipidum Bareskrim Polri Kombes Pol Andi Rian R. Djajadi diangkat sebagai Karo Korwas PPNS Bareskrim Polri menggantikan Brigjen Prasetijo yang dikenai sanksi terkait kasus Djoko Tjandra.

Kini, Johni memimpin Hubinter Polri, semoga kemampuannya memasang double cover dan menyengat dengan jab atau hook di ring tinju mampu mengembalikan citra baik Hubinter Polri.

Mari, kita nantikan kinerja Hubinter Polri dan Johni Asadoma ke depan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Idham Azis polri

Sumber : Antara

Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top