Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Corona di Indonesia: Rapor Pemerintah Sangat Buruk, 62,6 Persen Masih Percaya Jokowi

62,6 persen responden masih memiliki kepercayaan terhadap Presiden Joko Widodo untuk menangani pandemi Covid-19 yang disebabkan Virus Corona.
Muhammad Khadafi
Muhammad Khadafi - Bisnis.com 23 Juli 2020  |  14:43 WIB
Presiden Joko Widodo bersiap memimpin rapat terbatas (ratas) di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (7/7 - 2020). Hafidz Mubarak A
Presiden Joko Widodo bersiap memimpin rapat terbatas (ratas) di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (7/7 - 2020). Hafidz Mubarak A

Bisnis.com, JAKARTA - Hampir sebagian besar pelaku usaha menilai kinerja pemerintah pusat dalam penanganan wabah Virus Corona buruk. Berdasarkan survei Indikator Politik, sebanyak 46,3 persen menyatakan buruk dan 2,5 persen sangat buruk.

Sementara itu, 62,6 persen responden masih memiliki kepercayaan terhadap Presiden Joko Widodo untuk menangani pandemi Covid-19. Hanya 8,6 persen responden yang menjawab tidak percaya dan 0,6 persen yang sangat tidak percaya.

“Apakah pelaku usaha minta reshuffle? Wallahualam [Hanya Allah yang mengetahui],” kata Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi dalam rilis survei Evaluasi Pelaku Usaha terhadap Kinerja Kabinet dan Ekonomi di Masa Pandemi, Kamis (23/7/2020).

Sebelumnya, Presiden Jokowi sempat menumpahkan emosi kepada para menteri Kabinet Indonesia Maju. Presiden merasa para pembantunya masih berkerja seperti biasa, padahal pandemi merupakan situasi luar biasa.

Dalam video yang diunggah akun Youtube Sekretariat Presiden, Minggu (28/6/2020), Presiden menumpahkan kekecewaan terhadap penanganan Covid-19 selama tiga bulan terakhir hingga menyinggung perombakan kabinet.

"Langkah apapun yang extraordinary akan saya lakukan. Untuk 267 juta rakyat kita, untuk negara. Bisa saja membubarkan lembaga, bisa saja reshuffle. Sudah kepikiran ke mana-mana saya," ujarnya dalam video rapat internal yang baru diunggah kanal resmi Sekretariat Presiden di Youtube, Minggu (28/6/2020).

Jokowi mengatakan bahwa dia melihat laporan belanja di kementerian tidak menunjukkan perkembangan penyerapan yang signifikan. Padahal, pada masa pandemi Covid-19 ini, peran pemerintah sangat penting, yakni dalam menjamin kelangsungan kehidupan masyarakat.

"Saya harus ngomong apa adanya, enggak ada progress yang signifikan. Kalau mau minta Perppu lagi saya buatkan asal untuk negara asal untuk rakyat. Saya pertaruhkan reputasi politik saya," ujar Jokowi.

Namun, tidak lama setelah video tersebut diunggah, Menteri Sekretaris Negara Pratino mengatakan bahwa teguran keras Presiden Jokowi kepada Kabinet Indonesia Maju pada sidang paripurna 18 Juni 2020 memberikan dampak signifikan terhadap kinerja para menteri dan kepala lembaga dalam penanganan Covid-19. Teguran tersebut direspons dengan cepat oleh para menteri. Oleh karena itu, isu perombakan kabinet atau reshuffle tidak lagi relevan.

“Ini progress yang bagus. Jadi kalau progress bagus, ngapain di-reshuffle. Intinya begitu. Tentunya dengan progress yang bagus ini isu reshuffle tidak relevan sejauh bagus terus,” kata Pratikno seusai konferensi pers terkait Peringatan HUT ke-75 RI, Senin (6/7/2020).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Jokowi Virus Corona covid-19
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top