Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Didorong Penjualan Cloud, Pendapatan IBM Kalahkan Estimasi Analis

Pendapatan raksasa komputer, IBM, berhasil melampaui estimasi analis, didorong oleh penjualan cloud (komputasi awan) yang membantu mengimbangi penurunan dalam bisnis jasa konsultasi akibat pandemi Covid-19.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 21 Juli 2020  |  09:04 WIB
Logo IBM - Reuters
Logo IBM - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Pendapatan raksasa komputer, IBM, berhasil melampaui estimasi analis, didorong oleh penjualan cloud (komputasi awan) yang membantu mengimbangi penurunan dalam bisnis jasa konsultasi akibat pandemi Covid-19.

Melalui pernyataan yang dirilis Senin (20/7/2020) waktu setempat, IBM melaporkan bahwa pendapatan cloud meningkat 30 persen menjadi US$6,3 miliar pada kuartal II/2020.

Capaian ini membantu mengimbangi penurunan pendapatan di unit-unit dukungan teknis Layanan Bisnis Global dan Layanan Teknologi Global, yang menyumbang sekitar 56 persen dari total pendapatan IBM.

Secara keseluruhan, penjualan IBM turun 5,4 persen menjadi US$18,1 miliar, lebih baik dari pendapatan sebesar US$17,62 miliar yang diperkirakan oleh para analis.

Menyusul rilis laporan tersebut, saham IBM naik sekitar 4,5 persen dalam sesi extended trading setelah ditutup di level US$126,37 pada perdagangan Senin (20/7).

Sepanjang tahun ini, saham IBM telah terkoreksi 5,7 persen. Adapun, raihan laba selain beberapa biaya anjlok 31 persen menjadi US$2,18 per saham, sedikit lebih tinggi dari rata-rata estimasi analis sebesar US$2,12.

Covid-19 telah menghantam bisnis layanan IBM dengan keras karena banyak kliennya menunda pembelian teknologi informasi ataupun upgrade software untuk fokus pada stabilitas jangka pendek agar dapat bertahan dari pandemi virus mematikan ini. Produsen perangkat lunak lain juga melaporkan penurunan penjualan yang serupa.

Namun, CEO IBM Arvind Krishna mengatakan klien justru melihat nilai dalam penawaran cloud IBM di tengah disrupsi bisnis yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Krishna, yang mengambil alih peran CEO dari Ginni Rometty pada April, mengomandoi perusahaan melalui krisis global seraya memelopori transformasi besar ketiga IBM dalam sejarah berdirinya selama 109 tahun.

Perusahaan telah memangkas ribuan pekerjaan dalam beberapa bulan terakhir seiring dengan upaya untuk membentuk kembali bisnisnya. Pandemi Covid-19 membuat Krishna mencabut prospek laba full year perusahaan pada April dan tidak menyampaikan proyeksi baru pada Senin.

"Ketika kita melihatnya berdasarkan geografi, benua atau industri, ada terlalu banyak variabilitas untuk dapat memberikan panduan,” ungkap Krishna dalam sambungan konferensi.

“Pada April, ketika kami mengatakan akan mengevaluasi kembali dalam 90 hari, mungkin kami sedikit optimistis bahwa kami akan mendapatkan lebih banyak stabilitas mengenai pergerakan Corona dan dampaknya terhadap kondisi ekonomi,” tambahnya.

IBM menggantungkan masa depannya pada komputasi awan, dengan tujuan untuk menjadi pemimpin dalam layanan dan software hybrid-cloud, yang memungkinkan klien menyimpan data di server pribadi dan di banyak cloud publik, termasuk yang dijalankan oleh pesaingnya Amazon.com Inc. dan Microsoft Corp.

Pada 2018, IBM menghabiskan US$34 miliar untuk membeli penyedia perangkat lunak open source Red Hat demi membantu transisi ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Kinerja Emiten ibm

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top