Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ada Pengintai di Laut China Selatan, Jepang Perketat Penjagaan

Aktivitas penerbangan militer China diduga meningkat di langit Pulau Diaoyu yang disebut Jepang sebagai Pulau Senkaku.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 20 Juli 2020  |  17:59 WIB
Ilustrasi peta kawasan Laut China Selatan. China mengklaim secara sepihak hampir semua Laur China Selatan, dan menerapkan area udara pertahanan di atas wilayah itu. Sampai kini China tidak menetapkan koordinat pasti Sembilan Garis Putus-putus yang dijadikan dasar klaim sepihak mereka. - beforeitnews.com
Ilustrasi peta kawasan Laut China Selatan. China mengklaim secara sepihak hampir semua Laur China Selatan, dan menerapkan area udara pertahanan di atas wilayah itu. Sampai kini China tidak menetapkan koordinat pasti Sembilan Garis Putus-putus yang dijadikan dasar klaim sepihak mereka. - beforeitnews.com

Bisnis.com, JAKARTA - Pasukan pertahanan udara Jepang memperketat penjagaannya di Pulau Fujian seiring dengan kecurigaan aktivitas penerbangan militer China yang mengintai kepulauan di Laut China Selatan. 

Aktivitas penerbangan meningkat di langit Pulau Diaoyu yang disebut Jepang sebagai Pulau Senkaku.

Sebelumnya, China melakukan operasi udara dekat Pulau Diaoyu dari sebuah pangkalan Provinsi Zhejiang, tetapi pasukan dipindah ke Fujian. Dengan demikian, pasukan China dapat mencapai ruang udara di atas pulau yang disengketakan hanya dalam 20 menit.

Pada saat yang sama, Beijing dikabarkan membuat permintaan resmi pada Tokyo untuk menghentikan penangkapan ikan Jepang lantaran diklaim China sebagai wilayahnya. 

Beijing juga menyatakan keberatan setelah Tokyo mengganti nama wilayah di dekat Kepulauan Tonoshiro menjadi Tonoshiro Senkaku. Hal ini dinilai China sebagai taktik Jepang untuk memperkuat klaim kedaulatan Jepang.

"Sangat mudah melihat tekad kuat dari pihak China untuk mengubah status quo di sekitar kepulauan Senkaku," kata seorang ahli senior China di pemerintahan Jepang, seperti dikutip dari South China Morning Post, Senin (20/7/2020).

Seperti dilaporkan oleh Channel News Asia pekan lalu, dalam buku putih pertahanan Jepang yang disetujui Perdana Menteri Shinzo Abe mengatakan China terus berupaya mengubah status quo di Laut China Timur dan Laut China Selatan.

Buku putih itu menggambarkan intrusi (batuan beku) tanpa henti di perairan sekitar sekelompok pulau yang diklaim oleh kedua negara di Laut China Timur yang dikenal sebagai Senkaku di Jepang dan Diaoyu di China.

"Beijing mengklaim teritorial dengan mendirikan distrik administratif di sekitar kepulauan yang disengketakan sehingga memaksa negara lain yang terganggu oleh wabah Covid-19," seperti dikutip dari laporan tersebut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jepang china laut china selatan
Editor : Oktaviano DB Hana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top