Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kelaparan Global dan Obesitas Makin Buruk karena Pandemi

FAO memperkirakan sebanyak 83 juta hingga 132 juta orang diperkirakan menderita kelaparan tahun ini karena resesi ekonomi global yang disebabkan oleh Covid-19.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 20 Juli 2020  |  17:56 WIB
ACEH BESAR, ACEH, 31/12 - PRODUKTIFKAN RAWA GAMBUT. Petani mengolah lahan rawa gambut untuk tanaman padi di Desa Keudebing, Lhoknga, Aceh Besar, Aceh, Senin (31/12). - Antara/Ampelsa
ACEH BESAR, ACEH, 31/12 - PRODUKTIFKAN RAWA GAMBUT. Petani mengolah lahan rawa gambut untuk tanaman padi di Desa Keudebing, Lhoknga, Aceh Besar, Aceh, Senin (31/12). - Antara/Ampelsa

Bisnis.com, JAKARTA - Kelaparan dan kekurangan gizi meningkat di seluruh dunia karena krisis virus Corona mendorong lebih banyak orang jatuh ke jurang kemiskinan.

Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia atau FAO, krisis karena pandemi juga membatasi akses masyarakat ke makanan sehat.

Hampir 690 juta orang kekurangan gizi tahun lalu, terbesar sejak 2009. Meskipun masih terlalu dini untuk menilai dampak penuh dari lockdown dan langkah-langkah penanganan pandemi lainnya, sebanyak 83 juta hingga 132 juta orang diperkirakan menderita kelaparan tahun ini karena resesi ekonomi global.

Pada saat yang sama, obesitas telah meningkat karena makanan sehat tetap berada di luar jangkauan miliaran orang.

"Pandemi menciptakan masalah bukan hanya ketersediaan makanan, tetapi juga akses karena orang akan memiliki pendapatan lebih sedikit karena resesi," kata Maximo Torero, kepala ekonom FAO dilansir Bloomberg, Senin (20/7/2020).

Selain itu, perubahan iklim, konflik dan penurunan ekonomi telah memperburuk kelaparan dalam beberapa tahun terakhir. Hal itu berarti dunia tidak akan mencapai target penghapusan kelaparan global pada 2030.

Dalam laporannya, FAO menyatakan kebanyakan orang yang kekurangan gizi tinggal di Asia, meskipun jumlahnya tumbuh tercepat di Afrika. Jika tren berlanjut, mereka yang terkena dampak kelaparan di seluruh dunia akan melampaui 840 juta pada 2030.

Menurut para peneliti di International Research Policy Policy Institute, mengatasi dampak Covid-19 pada kelaparan akan membutuhkan anggaran tambahan senilai US$10 miliar dalam pengeluaran pemerintah tahun ini.

Tahun lalu, sekitar 2 miliar orang kekurangan akses reguler ke makanan yang aman, bergizi, dan mencukupi. Makanan sehat yang kaya buah, sayuran, dan protein tidak terjangkau oleh lebih dari 3 miliar orang, tantangan yang akan meningkat dengan Covid-19. Pola makan yang buruk juga menyebabkan triliunan dolar biaya kesehatan dan lingkungan.

"Kita harus benar-benar bertindak cepat dan membantu populasi yang paling rentan melalui langkah-langkah seperti program jaring pengaman sosial, pengiriman makanan atau transfer tunai," kata Torero.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

obesitas fao kelaparan
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top