Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

G20 Didesak Perpanjang Moratorium Utang Negara Miskin

Para menteri keuangan G20 mendesak pertemuan untuk memperpanjang penghentian pembayaran utang dan mempertimbangkan hal-hal baru.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 18 Juli 2020  |  11:42 WIB
Presiden Joko Widodo (depan, kiri) berpose bersama para kepala negara, dan kepala pemerintahan negara G20 saat sesi family photo di sela-sela menghadiri KTT G20, di Osaka, Jepang, Jumat (28/6/2019).  Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 digelar pada tanggal 28-29 Juni 2019. - Reuters/Kevin Lamarque
Presiden Joko Widodo (depan, kiri) berpose bersama para kepala negara, dan kepala pemerintahan negara G20 saat sesi family photo di sela-sela menghadiri KTT G20, di Osaka, Jepang, Jumat (28/6/2019). Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 digelar pada tanggal 28-29 Juni 2019. - Reuters/Kevin Lamarque

Bisnis.com, JAKARTA - Pemimpin bank sentral dan menteri keuangan negara-negara G20 akan mengadakan pertemuan virtual hari ini membahas koordinasi lanjutan pemulihan ekonomi global.

DalamG20 didesak mempertimbangkan untuk memperluas penangguhan utang bagi negara-negara paling miskin.

Dalam sebuah surat kepada para menteri keuangan G20, sekelompok ekonom termasuk mantan Menteri Keuangan AS Larry Summers dan Vera Songwe, sekretaris eksekutif Komisi Ekonomi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Afrika, mendesak pertemuan itu untuk memperpanjang penghentian pembayaran utang dan mempertimbangkan hal-hal baru.

Carmen Reinhart, kepala ekonom Bank Dunia percaya bahwa sangat mungkin bahwa G20 pada akhirnya akan memperluas penangguhan utangnya setelah 2020.

Pasalnya, pandemi virus Corona kini menyebar lebih cepat di Amerika dan Afrika dibandingkan dengan pertemuan sebelumnya pada April lalu ketika sebagian besar infeksi berada di Asia dan Eropa. Tingkat infeksi meningkat di banyak negara dengan biaya utang yang membebani pengeluaran kesehatan dan sosial.

Stimulus yang belum pernah terjadi sebelumnya telah membantu sebagian besar negara berkembang mendapatkan kembali akses ke pasar modal internasional, tetapi beberapa ekonomi kecil yang biasanya tidak mendapat manfaat dari pinjaman skala besar masih akan membutuhkan bantuan.

"Sorotan pada utang itu penting, tetapi kita tidak boleh fokus pada hal itu dengan mengesampingkan segala sesuatu yang lain," kata Anna Gelpern, seorang profesor hukum di Universitas Georgetown, dilansir Bloomberg, Sabtu (18/7/2020).

Sejak kesepakatan G20 pada April lalu untuk menghapuskan sekitar US$12 miliar pembayaran utang bilateral dari negara-negara yang sangat rentan terhadap pandemi, 41 dari 73 negara yang memenuhi syarat telah mengajukan bantuan.

Sementara itu, Paris Club telah membebaskan US$1,3 miliar utang dan IMF menyediakan pembiayaan darurat senilai US$100 miliar untuk negara-negara berpenghasilan rendah dan pasar berkembang.

Namun, badan amal termasuk Oxfam mengatakan bantuan kepada negara-negara termiskin di dunia sejauh ini sangat tidak memadai. Pertemuan G20 pada hari ini dapat mempertimbangkan perpanjangan jeda utang hingga setelah 2020, dan menambahkan negara-negara berpenghasilan menengah sebagai penerima bantuan.

Menteri Keuangan Prancis Bruno Le Maire mengatakan prioritas negara itu yakni memperpanjang moratorium layanan utang untuk negara-negara termiskin hingga 2021 dan mendorong negosiasi internasional untuk perpajakan digital.

Sedangkan kreditor swasta sejauh ini menghindari upaya untuk menghentikan pembayaran pada surat utang euro atau Eurobonds karena khawatir memicu klausul default. Poin penting lainnya adalah China yang lambat bergabung dengan inisiatif penangguhan utang.

"Dibutuhkan lebih dari penangguhan layanan utang pada klaim bilateral yang ada selama setengah tahun untuk membantu negara-negara termiskin mendanai respons fiskal dan kesehatan yang dibutuhkan," kata Brad Setser, mantan ekonom di Departemen Keuangan AS.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

utang g20
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top