Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kampanye Pilpres AS, Joe Biden Serang Trump

Biden mengkritik kegagalan Trump untuk memenuhi janji-janji ekonomi yang diangkatnya dalam kampanye "Amerika First” pada pilpres 2016.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 10 Juli 2020  |  08:52 WIB
Mantan Wakil Presiden AS Joe Biden, yang mencalonkan diri pada pemilihan presiden tahun ini mewakili Partai Demokrat, berkampanye di pabrik perakitan Mack FCA (Fiat Chrysler Automobiles) di Detroit, Michigan, Amerika Serikat, Selasa (10/3/2020). - Antara/Reuters
Mantan Wakil Presiden AS Joe Biden, yang mencalonkan diri pada pemilihan presiden tahun ini mewakili Partai Demokrat, berkampanye di pabrik perakitan Mack FCA (Fiat Chrysler Automobiles) di Detroit, Michigan, Amerika Serikat, Selasa (10/3/2020). - Antara/Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Kandidat presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat, Joe Biden, menyampaikan rencananya untuk membangkitkan kembali ekonomi dari resesi akibat dampak pandemi Covid-19.

Biden menjanjinkan untuk membangun ekonomi AS dengan lebih baik dari apa yang dialami sebelum krisis kesehatan ini melanda. Inti dari rencana yang dimaksudkan Biden adalah untuk memajukan manufaktur, mendorong inovasi, serta fokus pada 'buy American'.

Dia mengkritik kegagalan Presiden Donald Trump untuk memenuhi janji-janji ekonomi yang diangkatnya dalam kampanye 'America First' pada pilpres 2016.

Trump, menurut Biden, tidak pernah menyampaikan rencana infrastruktur, tidak memacu pekerjaan manufaktur, dan mengizinkan kontraktor federal mengirim pekerjaan ke luar negeri meskipun bersumpah untuk memekerjakan warga Amerika.

“Tantangan-tantangan yang dihadapi dewasa ini adalah yang terbesar dalam sejarah kita,” ujar Biden dalam pidato di sebuah pabrik logam di Dunmore, Pennsylvania, pada Kamis (9/7/2020) waktu setempat, seperti dilansir Bloomberg.

“Saya tidak memiliki bayangan betapa sulitnya jalan di depan untuk negara kita,” tambah Biden.

Namun dia mengungkapkan optimismenya karena rakyat Amerika siap menghadapi tantangan-tantangan itu jika ia terpilih memimpin AS selepas pilpres yang akan berlangsung November mendatang.

“Saya melihat Amerika yang berbeda dari Trump. Yang, terlepas dari semua kekurangan, kekurangan, dan kegagalan kita, masih, setelah lebih dari dua abad, didedikasikan untuk kesetaraan, kebebasan, dan kesusilaan manusia,” paparnya.

Biden juga mengatakan gagasan bahwa perusahaan-perusahaan AS hanya memikul tanggung jawab kepada pemegang saham mereka adalah suatu 'lelucon' karena perusahaan memiliki tugas untuk pekerja dan negara mereka.

“Sudah saatnya perusahaan Amerika membayar bagian pajak mereka secara adil,” kata Biden. Dia mengulangi rencananya untuk menaikkan tarif pajak perusahaan saat ini kembali ke 28 persen seperti yang diterapkan selama pemerintahan Barack Obama dari 21 persen saat ini.

Rencana ekonomi mantan wakil presiden era Obama ini dibagi menjadi empat bidang. Yang pertama adalah mendorong kepegawaian warga Amerika dan menciptakan pekerjaan manufaktur, membangun infrastruktur dan energi bersih, memajukan keadilan rasial, serta memodernisasi caring economy seperti pekerja perawatan anak dan perawatan lansia.

Dia mengatakan akan meluncurkan rencananya untuk membangun kembali infrastruktur AS dan menekankan energi bersih pada pekan depan.

Pada Kamis, Biden mengusulkan pembelian tambahan federal senilai US$400 miliar untuk produk-produk yang dibuat oleh para pekerja Amerika selama masa jabatan pertamanya, serta US$300 miliar untuk penelitian dan pengembangan yang didanai pemerintah federal.

Secara keseluruhan, kampanye Biden memperkirakan bahwa proposal tersebut akan menciptakan 5 juta lapangan kerja. Namun, dia tidak menawarkan rencana untuk membayar sendiri inisiatif ini.

“Ketika pemerintah federal menggunakan uang para pembayar pajak, kita harus menggunakannya untuk membeli produk-produk Amerika dan mendukung pekerjaan-pekerjaan Amerika,” katanya tentang rencana 'buy American'.

Sementara itu, juru bicara kampanye Trump, Hogan Gidley, memukul balik catatan ekonomi Biden dan mengkritik dukungannya untuk NAFTA (North American Free Trade Agreement).

“Kebijakan-kebijakan Presiden Trump menciptakan lebih banyak lapangan kerja dan kemakmuran bagi setiap warga Amerika dalam tiga tahun daripada yang dapat dikerahkan Joe Biden dalam hampir setengah abad,” kata Gidley dalam sebuah pernyataan.

“Serangan Biden yang disengaja mengenai pekerjaan kita, keluarga kita, dan cara hidup masyarakat Amerika akan membalik semua peningkatan yang telah kita buat bersama dan menjerumuskan kita ke dalam bencana ekonomi,” ucapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

biden pilpres amerika Donald Trump
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top