Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pembukaan Kembali Ekonomi Bercampur Bahaya

Perang dagang berkelindan dengan ‘perang’ melawan pandemi Covid-19, yang secara perlahan membuat setiap negara menjadi bersikap inward looking sebagai dampak maraknya penerapan lockdown. Reopening ekonomi terancam?
Inria Zulfikar
Inria Zulfikar - Bisnis.com 30 Juni 2020  |  15:37 WIB
Anggota tim dari organisasi sipil untuk penyelamatan Beijing Blue Sky Rescue (BSR) melakukan disinfeksi di pasar grosir Yuegezhuang di Beijing, China, Selasa (16/6/2020)./Antara - Xinhua
Anggota tim dari organisasi sipil untuk penyelamatan Beijing Blue Sky Rescue (BSR) melakukan disinfeksi di pasar grosir Yuegezhuang di Beijing, China, Selasa (16/6/2020)./Antara - Xinhua

Bisnis.com, JAKARTA – Dunia sempat dibuat ketar-ketir ketika kawasan Timur Tengah memanas lagi pada September tahun lalu.

Wilayah rawan konflik itu terasa makin mendidih saat kilang minyak Saudi Aramco di basisnya sendiri (Arab Saudi) diserang oleh drone, sehingga memicu kebakaran hebat dan gangguan operasional.

Belum ada tanda-tanda kepanikan serangan virus corona pada September itu. Kota Wuhan pun masih berjalan normal.

Amerika Serikat (AS) dan Arab Saudi di satu pihak serta Iran gencar saling memprovokasi sebagai buntut serangan tersebut. Pengerahan armada tempur menuju kawasan panas kaya minyak itu menjadi agenda selanjutnya dari masing-masing kubu yang berseteru.

Memang belum menjadi perang terbuka. Namun risiko konflik bersenjata tetap kencang. Daya tekan terhadap pihak lawan melalui pengerahan mesin perang yang sepadan menjadi senjata diplomasi ampuh untuk menggertak.

Sejak krisis itu, provokasi tingkat tinggi di kawasan rawan konflik memang belum terlihat lagi, kecuali kelanjutan Perang Dingin AS-China. Perang dagang yang melibatkan dua raksasa ekonomi global, hingga hari ini.

Pandemi Covid-19 seolah tak menyurutkan keduanya bersaing merebut tahta ekonomi dunia. Lalu apakah bisa menyulut perang terbuka di tengah masa reopening ekonomi saat ini?

Kemungkinan selalu ada. Toh memang ada yang disebut ‘perang terbatas’ sekalipun berskala ‘perang terbuka’. Apalagi secara geopolitik global, kawasan panas masih tetap menjadi ancaman perdamaian dunia.

Sebut saja Timur Tengah, Afganistan, semenanjung Korea (isu rudal Korea Utara), terorisme dan lain sebagainya.

Di sisi lain perang dagang berkelindan dengan ‘perang’ melawan pandemi Covid-19, yang secara perlahan membuat setiap negara menjadi bersikap inward looking sebagai dampak maraknya penerapan lockdown. Tak heran geliat reopening ekonomi menjadi tertatih.

Apapun, perang mendatangkan petaka. Joseph E. Stiglitz, peraih Nobel Ekonomi 2001 dan Linda B. Jilmes sudah mengingatkan bahwa mitos perang adalah baik untuk perekonomian sama sekali tak benar.

Dalam buku berjudul The Three Trillion Dollar War: The True Cost of the Iraq Conflict (2008), kedua ekonom tersebut menegaskan bahwa uang yang dibelanjakan untuk persenjataan di masa perang adalah ‘uang yang dibuang ke got’.

Seandainya uang itu dibelanjakan untuk investasi, entah berupa pabrik dan peralatan, infrastruktur, penelitian, kesehatan atau pendidikan, produktivitas perekonomian pasti sudah akan meningkat dengan produksi ke depan yang lebih besar.

Persoalannya, bukan apakah perekonomian telah diperlemah oleh perang atau tidak. Masalahnya adalah, seperti diulas Stiglitz dan Bilmes, sampai berapa jauh. Angka-angka ekonomi perang sungguh fantastis.

"Dalam skenario moderat realistik, total biaya-biaya itu [Perang Irak] lebih dari US$1 triliun," ujar keduanya.

Lebih gawat lagi, di setiap perang ada aroma minyak. Berkaitan dengan ketegangan yang kerap menggelayuti Timur Tengah, kita bisa belajar dari analisis kedua ekonom kondang tersebut, karena secara khusus membedah ongkos Perang Irak, yang diklaim Gedung Putih hanya menelan US$500 miliar.

"Cukuplah dikatakan bahwa jika Amerika berperang dengan harapan mendapatkan minyak murah, kita telah sangat gagal. Sebaliknya kita telah berhasil membuat perusahaan-perusahaan minyak semakin kaya," kata Stiglitz.

Semangat haus perang demi keuntungan korporasi tertentu tak boleh dibiarkan. Mau disebut ‘perang tanpa pasukan’ karena sudah menggunakan teknologi drone, ‘perang terbatas’ atau ‘perang sekali pukul’ pun bermakna sama: Perang.

Ada korban di sana. Jiwa, raga, dan harta.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perang dagang AS vs China
Editor : Inria Zulfikar
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top