Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Indeks Manufaktur China Naik, Pemulihan Berlanjut

Purchasing managers index (PMI) manufaktur naik menjadi 50,9 dari 50,6 sebulan sebelumnya. Sedangkan indeks nonmanufaktur naik menjadi 54,4.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 30 Juni 2020  |  09:59 WIB
Manufaktur China - Reuters
Manufaktur China - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Indeks aktivitas manufaktur China naik pada Juni, menandakan pemulihan bertahap dari pukulan pandemi virus corona.

Menurut data yang dirilis oleh Biro Statistik Nasional, purchasing managers index (PMI) manufaktur naik menjadi 50,9 dari 50,6 sebulan sebelumnya. Sedangkan indeks nonmanufaktur naik menjadi 54,4.

Data itu mengkonfirmasi tren pemulihan domestik bertahap dari kontraksi bersejarah di kuartal pertama dan mendukung sikap pemerintah yang relatif sederhana pada stimulus kebijakan.

Namun, dengan pandemi yang memukul permintaan global dan penyebarannya meluas, menjadikan rebound kemungkinan akan sulit dipertahankan. Sementara itu, subindeks pesanan ekspor baru naik menjadi 42,6, sementara pekerjaan manufaktur turun menjadi 49,1 dan indeks pekerjaan nonpabrik naik menjadi 48,7.

"Pertumbuhan PDB China sangat mungkin berubah positif di kuartal kedua. Namun, data pekerjaan tetap menjadi perhatian karena kedua indeks pekerjaan di bawah 50, menunjukkan bahwa pemulihan permintaan masih tertinggal," kata Zhou Hao, ekonom senior pasar berkembang di Commerzbank AG di Singapura, dilansir Bloomberg, Selasa (30/6/2020).

Sementara sebagian ekonomi telah pulih dari lockdown, ada perbedaan yang jelas antara permintaan dan penawaran. Pabrik dan perusahaan telah kembali dan output tumbuh lagi, tetapi ekspor dan penjualan ritel domestik menyusut.

Wen Tao, seorang analis di Pusat Informasi Logistik China, mengatakan hampir 55 persen perusahaan mengatakan permintaan tidak memadai selama empat bulan berturut-turut.

"Indeks pesanan baru lebih rendah dari indeks output sebesar 2,5 poin persentase, yang berarti kesenjangan antara produksi dan permintaan melebar, yang mengarah ke meningkatnya tekanan kelebihan pasokan," ujarnya.

Menurut China International Capital Corp, pendapatan pariwisata turun hampir 70 persen selama liburan tiga hari pekan lalu dibandingkan dengan periode yang sama pada 2019. Banjir parah di China selatan mungkin juga memperlambat laju produksi di beberapa daerah.

Namun, posisi perusahaan kecil telah mulai berkontraksi lagi. Menurut data yang dirilis hari ini, lebih banyak perusahaan kecil melaporkan kurangnya pesanan dibandingkan dengan perusahaan besar. Sementara itu, perusahaan menengah naik di atas 50 dan perusahaan besar meningkat lebih lanjut.

"Pemulihan China masih di jalurnya, tetapi momentumnya bisa kehilangan kekuatan dalam beberapa bulan mendatang," kata Lu Ting, kepala ekonom China di Nomura International Ltd di Hong Kong.

"Meskipun pemulihan yang kuat antara Maret dan pertengahan Juni, kami percaya pemulihan ekonomi penuh masih jauh. Dalam pandangan kami, terlalu dini bagi Beijing untuk membalikkan sikap pelonggarannya," lanjutnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china purchasing managers index
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top