Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Dari Surabaya Hingga Jakarta, Ini Perjalanan John Kei di Rantau

John Kei mengungkapkan pernah tinggal dengan pelayan gereja di Surabaya pada 1986-1988, setelah sempat menggelandang.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 22 Juni 2020  |  18:33 WIB
John Kei (kanan). - Antara
John Kei (kanan). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Perjalanan kehidupan John Kei mengalami naik turun. Dia sempat ditampung oleh seorang pelayan gereja karena menggelandang di Surabaya.

Namun, kepergiannya ke Jakarta menjadi titik mula rekam jejak kejahatannya.

John Kei yang nekat meninggalkan kampung halamannya di Kepulauan Kei, Maluku, menuju Surabaya.

Dalam wawancara dalam program Kick Andy Metro TV pada tahun lalu, John mengungkapkan pernah tinggal dengan pelayan gereja di Surabaya pada 1986-1988, setelah sempat menggelandang.

Dia diperbolehkan tinggal secara cuma-cuma. Setiap pagi, dia bangun jam 5 pagi dan melakukan pekerjaan bersih-bersih hingga sore. Dia sudah dianggap anak kandung.

Namun, insting berkelahi John Kei memang sudah ada sejak dia kecil. Setelah terlibat keributan saat mabuk dan sempat ditanya-tanyai oleh angkatan militer setempat, dia memutuskan pindah ke Jakarta.

Kasus kejahatan pertama John tercatat pada 1992. John yang masih 22 tahun dibui karena terlibat perkelahian saat dia menjadi petugas keamanan hotel di jalan jaksa. Dia mengaku membunuh lawannya dengan menggunakan parang.

Awalnya dia mengaku hanya ingin melukai bagian tangannya, tetapi tidak sengaja mengenai lehernya.

Nama John Kei mulai dikenal setelah membentuk organisasi Angkatan Muda Kei (Amkei). Dia dikenal sebagai preman yang pekerjaannya menagih utang.

"Pada prinsipnya saya tidak mau ganggu orang, siapapun dia, saya selalu baik. Tapi kalau saya sudah baik dengan dia, dia mau jahat sama saya, saya akan tunjukkan saya lebih jahat dari kamu," ungkapnya.

John Refra Kei adalah narapidana kasus tindak pidana pembunuhan secara sadis terhadap bos PT Sanex Tan Hari Tantono alias Ayung. Dia divonis 16 tahun penjara oleh Mahkamah Agung (MA) sesuai putusan nomor 723K/PID/2013.

Dalam masa tahanannya, dia sempat ditransfer ke LP Batu Nusakambangan yang penjagaannya super ketat. Dia ditempatkan di satu ruangan sendirian hingga membuatnya tidak tahan dan memberontak.  

Namun, setelah hampir 2 bulan di LP Batu, dia mengaku hatinya terpanggil ke jalan yang benar setelah mempelajari alkitab. Bahkan, dia hanya melepaskan alkitab ketika makan dan mandi saja.

"Saya berkomitmen saya harus berubah, saya harus kerjakan pekerjaan surga," tuturnya.

Pada Minggu (21/6/2020), John Kei bersama hampir 30 orang anak buahnya ditangkap setelah terlibat aksi kekerasan di Green Lake City, Tangerang dan di daerah Cengkareng. Polisi menangkap sebanyak 25 orang.

Dari markas John Kei, polisi telah mengamankan barang bukti berupa 28 buah tombak, 24 senjata tajam, dua ketapel panah, tiga anak panah, dua stik bisbol, 17 ponsel dan 1 unit decoder.

Dia dan puluhan tersangka itu dijerat dengan Pasal 88 terkait pemufakatan jahat, Pasal 340 tentang Pembunuhan, Pasal 351 tentang Penganiayaan, Pasal 170 tentang Pengrusakan, dan Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

polda metro jaya john kei
Editor : Oktaviano DB Hana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

BisnisRegional

To top