Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Target Pertumbuhan Kredit China 2020 Dinilai Sangat Konservatif

Iris Pang, ekonom ING Bank NV., menjelaskan target PBOC terlalu rendah dengan mematok tingkat kredit setidaknya senilai US$4,2 triliun pada tahun ini untuk menggairahkan ekonomi setelah tertekan efek negatif Covid-19.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 18 Juni 2020  |  16:18 WIB
Kantor pusat People's Bank of China di Beijing -  Bloomberg / Qilai Shen
Kantor pusat People's Bank of China di Beijing - Bloomberg / Qilai Shen

Bisnis.com, JAKARTA — Target Bank Sentral China (People/s Bank of China/PBOC) untuk meningkatkan aliran kredit hampir 20 persen pada tahun ini dinilai terlalu konservatif.

Iris Pang, ekonom ING Bank NV., menjelaskan target PBOC terlalu rendah dengan mematok tingkat kredit setidaknya senilai US$4,2 triliun pada tahun ini untuk menggairahkan ekonomi setelah tertekan efek negatif Covid-19.

“Sangat rendah mengingat tingginya kebutuhan stimulus untuk pemulihan Covid-19. Target pertumbuhan kredit sebanyak itu sama seperti target pemulihan dari krisis kecil, sementara yang kita hadapi sekarang adalah resesi dalam,” ujar Pang seperti dikutip Bloomberg, Kamis (18/6/2020).

Adapun, Gubernur PBOC Yi Gang menyampaikan target kenaikan kredit tahun ini dapat dicapai setelah bank sentral menggelontorkan stimulus tambahan.

PBOC berencana menerbitkan obligasi bertujuan khusus dan memberikan kenaikan pinjaman sebesar 19 persen kepada perbankan.

Secara total, dana yang akan dialirkan bisa meningkat menjadi 30 triliun yuan atau US$4,2 triliun pada tahun ini. Jumlah tersebut mencerminkan ekspansi sebesar 17 persen dibandingkan pertumbuhan kredit pada 2019 yang senilai 25,6 triliun yuan.

Walaupun PBOC sangat gencar memberikan stimulus, kontraksi pertumbuhan ekonomi China pada kuartal I/2020 dan potensi terjadinya penyebaran Covid-19 gelombang kedua akan membuat kucuran dana tersebut menjadi tidak cukup.

Kendati demikian, regulator perbankan China Guo Shuqing menegaskan pemerintah tidak akan membanjiri perekonomian dengan uang tunai. 

Komentarnya Shuqing langsung menguatkan harga saham di China karena pelaku pasar menafrsirkan hal itu sebagai sentimen positif pemberian stimulus pemerintah akan cukup untuk membangkitkan ekonomi.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china ekonomi china pboc covid-19
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top