Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

UE Tolak Ubah Tuntutan, Brexit Terancam Buntu

Utusan Uni Eropa dengan suara bulat menolak tuntutan untuk mengamandemen mandat Michel Barnier dan mengizinkan kepala negosiator itu untuk menawarkan lebih banyak konsesi kepada Inggris.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 11 Juni 2020  |  18:29 WIB
Aksi protes anti-Brexit menggelar unjuk rasa di luar Gedung Parlemen di London, Inggris (30/1 - 2020). Reuters
Aksi protes anti-Brexit menggelar unjuk rasa di luar Gedung Parlemen di London, Inggris (30/1 - 2020). Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Utusan Uni Eropa dengan suara bulat menolak tuntutan untuk mengamandemen mandat Michel Barnier dan mengizinkan kepala negosiator itu untuk menawarkan lebih banyak konsesi kepada Inggris.

Barnier mengatakan Inggris akan keluar dari pasar tunggal Eropa pada 1 Januari 2021 jika pemerintahnya mengurangi penolakan terhadap tuntutan utama Uni Eropa, termasuk desakan tentang hak penangkapan ikan, kompetisi yang adil dan penyelesaian sengketa.

Adapun, sejauh ini Uni Eropa mendorong komitmen tentang kompetisi yang adil, serta kesepakatan perikanan jangka panjang yang seimbang dan berkelanjutan.

UE juga meminta Inggris untuk tidak memilih bagian-bagian tertentu dari kesepakatan lama dengan blok dalam perjanjian dagang baru kelak, seperti yang terjadi dengan Kanada. Perjanjian pemisahan Inggris dari UE harus dilaksanakan secara penuh dan merupakan kesepakatan dagang yang diterapkan seterusnya.

"Masih ada rintangan besar di depan kita. Kita dapat menemukan kompromi yang diperlukan dengan syarat bahwa Inggris mengubah pendekatannya dan menerima keseimbangan hak, manfaat, kewajiban, dan hambatan yang mengikat secara hukum," kata Barnier kepada panel penasehat UE di Brussels, dilansir Bloomberg, Kamis (11/6/2020). 

Menurut ketentuan penarikan Inggris dari Uni Eropa awal tahun ini, periode transisi mempertahankan status quo ekonomi berjalan hingga akhir 2020 dan dapat diperpanjang hingga dua tahun sementara kedua belah pihak menegosiasikan kesepakatan perdagangan bebas.

Keputusan untuk memperpanjang fase transisi harus diambil sebelum akhir bulan ini. Barnier mengatakan UE bersedia memperpanjang transisi, tetapi Perdana Menteri Boris Johnson telah berulang kali mengesampingkan hal itu.

"Selama negosiasi kami telah jelas bahwa kami tidak akan memperpanjang periode transisi dan jika UE menawarkan perpanjangan, kami tidak akan menerimanya," kata juru bicara Downing Street.

Kegagalan mencapai kesepakatan dagang pada 31 Desember 2020 tanpa perpanjang masa transisi berarti pengembalian tarif dan kuota untuk perdagangan kedua belah pihak. Hambatan perdagangan itu akan menjadi birokrasi tambahan bagi bisnis yang akan muncul karena Inggris akan meninggalkan pasar tunggal Eropa.

Michael Clauss, Duta Besar Jerman untuk Uni Eropa, mengisyaratkan dorongan untuk kesepakatan perdagangan bebas dengan Inggris akan naik ke puncak agenda blok setelah liburan musim panas.

"Masalah Brexit ini akan menyerap sebagian besar perhatian politik yang kami harapkan pada bulan September dan Oktober," kata Clauss pada acara online 4 Juni yang diselenggarakan oleh Pusat Kebijakan Eropa.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

uni eropa inggris Brexit

Sumber : Bloomberg

Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top