Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pandemi Corona dan Balada Utang Argentina

Argentina kembali gagal membayar utang miliaran dolar untuk kesembilan kalinya. Namun, pandemi diperkirakan bisa menjadi 'berkah' bagi negeri yang melahirkan Maradona si “Tangan Tuhan” dan Lionel Messi “Sang Juru Selamat” itu.
Feni Freycinetia Fitriani & Rivki Maulana
Feni Freycinetia Fitriani & Rivki Maulana - Bisnis.com 04 Juni 2020  |  11:45 WIB
Kawasan Plaza de Mayo, pusat kota Buenos Aires, Argentina. - Bloomberg
Kawasan Plaza de Mayo, pusat kota Buenos Aires, Argentina. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Permai nan damai. Dua kata itu cukup untuk menggambarkan pemandangan Rio de la Plata, sungai yang melintasi Buenos Aires, ibukota Argentina.

Rio de la Plata berarti sungai perak. Pantulan sinar matahari dari sungai itu memang bagai perak yang memikat mata. Tidak terlihat sampah sepanjang mata memandang, di muka Restoran Rodizio, Puerto Madero. Kawasan ini adalah bekas pelabuhan yang menjelma menjadi pusat bisnis dengan deretan gedung bercorak modern.

Bisnis menyambangi Buenos Aires pada 2018  saat kota berpenduduk 12 juta jiwa itu menjadi tuan rumah pertemuan G20. Dua tahun lalu, Argentina selamat dari jerat utang berkat uluran tangan Dana Moneter International (IMF). Presiden Mauricio Macri meneken perjanjian pinjaman dengan IMF senilai US$56 miliar setelah perekonomian Argentina terhuyung. 

Produk domestik bruto (PDB) kontraksi minus 2,4 persen. Inflasi melambung 34 persen. Bunga acuan bank sentral menembus 40 persen. Kurs peso terhadap dolar AS amblas 52 persen.

Pada 2016, dua tahun sebelum mufakat terjalin dengan IMF, Argentina mendapat kucuran dolar dalam jumlah besar. Macri yang terpilih sebagai presiden pada 2015 mendapat sambutan hangat dari pelaku pasar, terutama pemegang obligasi Argentina. 

Macri dianggap lebih pro bisnis ketimbang pendahulunya, Cristina Fernández de Kirchner yang dianggap terlalu banyak melakukan intervensi dalam kebijakan ekonomi. Salah satu campur tangan yang kontroversial adalah membentuk bicentennial fund  untuk melunasi utang dengan menggunakan cadangan devisa. 

Setelah Macri terpilih, prospek Argentina yang mulai pulih membuat Negeri Tango kembali berutang dengan menerbitkan Century Bond atau obligasi bertenor seratus tahun. Obligasi ini terbilang laku karena mengalami kelebihan permintaan 3,5 kali. Argentina menjadi negara ke-14 yang menerbitkan Century Bond sejumlah US$2,75 miliar dengan yield 7,9 persen per tahun.

Presiden Argentina 2015-2019, Mauro Macri

Presiden Argentina periode 2015-2019, Mauricio Macri./Bloomberg

Cerita utang Argentina adalah saga. Di 2001, Argentina gagal membayar utang senilai hampir US$100 miliar, sebuah torehan yang memecahkan rekor. Saat itu, Argentina benar-benar tidak punya fulus buat membayar kupon obligasi. 

Restrukturisasi akhirnya dimulai pada 2005, mencakup 76 persen dari obligasi yang gagal dibayar, sekitar US$62,5 miliar. Argentina mengajukan diskon pokok pinjaman 25-30 persen.

Sejak saat itu, Argentina mulai mencicil sebagian kewajibannya. Namun, ada pemegang surat utang yang mewakili 7 persen obligasi keukeuh untuk meminta pembayaran penuh. Kelompok 7 persen ini akhirnya membawa ke jalur hukum dengan klausul pari passu (perlakuan sama).

Dilansir dari The Atlantic, kelompok ini  telah mendesak permintaan itu di pengadilan selama lebih dari satu dekade. Pada Februari 2012, Hakim Distrik A. Thomas Griesa memutuskan bahwa Argentina tidak dapat membayar kreditur pertama -yang menerima restrukturisasi- tanpa membayar kelompok 7 persen karena melanggar perlakuan setara.

Argentina akhirnya gagal bayar lagi pada 2014 karena posisi terjepit.  Argentina dihadapkan pada kelompok 7 persen dan kelompok 93 persen. Setiap pelunasan penuh terhadap kelompok 7 persen akan memicu tuntutan serupa dari kelompok 93 persen. 

Seluruh niat negosiasi ulang tahun 2000 - 2010 bisa berantakan ; sekaligus dan menciptakan kewajiban tambahan sebesar US$100 miliar.

Argentina kemudian menyandang peringkat selective default dari lembaga pemeringkat S&P, Caa1 dari Moody’s, dan RD dari Fitch. Simbol itu itu pada intinya menempatkan peringkat utang Argentina pada kualitas yang buruk.

Dikutip dari worldgovernmentbonds.com, obligasi Argentina tenor 10 tahun diperkirakan menghasilkan yield 29,470 persen. Angka itu tidak berasal dari pasar, tetapi dihitung dari perbandingan obligasi sejenis yang tersedia di pasar.

Gali lobang, tutup lobang dan jatuh ke lobang yang sama adalah keahlian Argentina. Sudah sembilan kali Negeri Perak itu default atas utang-utangnya alias ngemplang. 

Harapan kreditur kepada Macri semakin buyar setelah calon dari oposisi, Alberto Fernandez memenangkan pemilu tujuh bulan lalu. Fernandez sejak awal dilantik sudah menyatakan tidak akan mampu memenuhi kewajiban kreditur.

Dia punya alasan kuat, ekonomi Argentina memang belum bertumbuh lagi. Pemerintahan yang dia pimpin juga fokus meningkatkan belanja di sektor kesehatan. Selain itu, anggaran dialokasikan untuk bantuan tunai bagi masyarakat Argentina yang menderita akibat lonjakan inflasi dan peningkatan kemiskinan.

Alberto Fernandez, Presiden Argentina 2019-2023

Presiden Argentina 2019-2023, Alberto Fernandez.Dia memenangkan pemilu pada tahun lalu, berpasangan dengan mantan presiden Christina de Kirchner./Bloomberg

Pekan depan, 12 Juni 2020 akan menjadi momen menentukan bagi Argentina. Pemerintah Argentina telah memperpanjang tenggat negosiasi dengan kreditur setelah pada 22 Mei 2020 lalu gagal membayar kupon senilai US$500 juta. Total utang gagal bayar mencapai US$65 miliar.

Kegagalan itu sudah ditebak karena proposal Argentina ditentang tiga kelompok kreditur. Pada April 2020, Argentina menawarkan masa tenggang tiga tahun, pengurangan 5,4 persen saldo pinjaman dan 62 persen pemotongan bunga.

Negosiasi pun berlanjut. Menteri Ekonomi Martin Guzman menyebut Argentina sedang menilai "penyesuaian tambahan" dengan maksud memaksimalkan dukungan investor tanpa mengorbankan tujuan keberlanjutan utang. 

"Kamis sedang mengerjakan amandemen akhir untuk penawaran [kepada investor], tapi margin yang tersisa untuk penyesuaian memang tipis," ujarnya seperti dilansir dari Aljazeera.

Pernah Menjadi Negeri Makmur

Nasib Argentina boleh dibilang sedang berada di bawah roda. Seratus tahun lalu, derajat Argentina ada di atas roda. Berdasarkan data yang dihimpun dari Maddison Project Historical Development, di awal abad 20 Argentina adalah satu satu negara terkaya di dunia.

Pada 1913, Argentina  lebih kaya daripada Perancis atau Jerman, hampir dua kali lebih makmur dari Spanyol, dan PDB per kapita-nya hampir setinggi Kanada. 

Di tahun itu, pembangunan jaringan kereta bawah tanah -disebut Subte- dimulai. Buenos Aires adalah kota pertama di Amerika Latin yang memiliki jaringan kereta subway.

Dari Puerto Madero, cukup melangkah ke Plaza de Mayo untuk melihat saksi kejayaan Argentina. Gedung-gedung megah dengan pilar-pilar kokoh masih berdiri tegak. 

Kini, gedung-gedung itu sedang menyaksikan masa surut. Argentina sudah turun derajat menjadi negara berkembang, dari seratus tahun lalu yang pernah menjadi negara maju. Soal ini, kalangan akademisi menyebutnya sebagai Argentine Paradox.

Palacio de Aguas Corrientes (the "water palace"), gedung yang dibangun pada pertengahan abad 19 ini menjadi salah satu atraksi wisata di Buenos Aires./Bloomberg.

Palacio de Aguas Corrientes (the "water palace") ./Bloomberg.

Tahun ini, ekonomi Argentina diperkirakan akan kembali kembali kontraksi, minus 6,5 persen. Pandemi virus corona (Covid-19) membuat negeri berpenduduk 40 juta itu-setara jumlah penduduk Jawa Barat- bagai sudah jatuh tertimpa tangga.

Dilansir dari Bloomberg, Argentina menjadi salah satu negara yang menerapkan kebijakan ketat untuk membendung penyebaran virus. Operasional penerbangan misalnya, dilarang hingga 1 September. 

Keputusan itu bagai jamu pahit. Aerolineas Argentinas, maskapai penerbangan nasional terancam kolaps. Akhirnya, suntikan dana US$880 juta dikucurkan untuk menyelamatkan maskapai.

Bagi orang Argentina, ketidakpastian semacam keniscayaan. Azul Agulla, seorang pegawai pemasaran menghitung penghasilan mereka hanya naik 2 persen meski beberapa kali promosi. 

Dia memberikan gambaran, situasi di Argentina ibarat melarikan diri dari lubang yang terus menarik ke bawah. "Kami bergerak mundur," ujarnya seperti dilansir New York Times.

Julian Diaz, seorang pemilik restoran merasakan dampak yang sama dari sebuah resesi. Dia telah mengurangi pegawai dan mengendapkan rencana penambahan cabang sampai akhir tahun. 

Diaz menyebut, kepastian menjadi hal langka karena tidak bisa ditebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Sebagai pebisnis, situasi ini adalah titik nadir bagi dunia usaha.

Hernan Calliari membuka bar dan restoran di bilangan Palermo, tiga tahun lalu. Pandemi membuat situasi kota sepi. Cuan harian 15 persen dari operasional tempat usahanya sudah dipastikan melayang.

"Kami sedang menginjak air dan berusaha mati-matian untuk bertahan," ujarnya.

Terserah Argentina

Jika di satu sisi pandemi menimbulkan nestapa, di sisi lain mungkin menjadi penolong untuk hal lain. Ekuador misalnya, baru saja sepakat menunda pembayaran bunga utang US$20 miliar hingga Agustus karena alasan pandemi.

Miguel Kiguel, mantan Sekretaris Keuangan Kementerian Ekonomi Argentina mengatakan para kreditur telah kehilangan uang di mana-mana sehingga obligasi Argentina bernilai sangat rendah. Dia melihat ada peluang penawaran Argentina diterima kreditur.

"Covid-19 meningkatkan peluang Argentina untuk menerima kesepakatan yang menguntungkan," ujarnya seperti dilansir New York Times.

rio de la plata

Sungai Perak atau Rio de la Plata, mengalir di kawasan Puerto Madero, Buenos Aires./Bisnis-Feni Freycinetia Fitriani

Daniel Kerner, Direktur Eurasia Group, perusahaan konsultansi risiko politik mengatakan investor akan meminta rencana detail tentang upaya memulihkan perekonomian. 

Awal pekan lalu, sebanyak 138 ekonomi, termasuk Joseph Stiglitz dan Edmund S. Phelps menulis surat terbuka untuk mendukung restrukturisasi utang Argentina. 

Belakangan, IMF juga mendukung proposal Argentina. Dalam pernyataan yang dirilis 1 Juni 2020 , IMF menyebut, Argentina punya sedikit ruang untuk memperbaiki pengelolaan utangnya ;  bila proposal diterima kreditur, Argentina berada di jalur yang tepat untuk mengelola utang secara berkelanjutan.

"Proposal restrukturisasi hutang yang direvisi otoritas Argentina akan konsisten dengan mengembalikan kesinambungan utang dengan probabilitas tinggi," tulis IMF.

Dennis Hranitzky, penasihat hukum kelompok kreditur mengatakan pemegang obligasi sudah menunjukkan banyak fleksibilitas dan menawarkan keberkalanjutan kepada Argentina.

"Jadi terserah Argentina, serius atau tidak," ujarnya seperti dikutip dari Aljazeera.

Rio de la plata, sungai yang membentang 200 kilometer akan kembali menyaksikan balada utang Argentina. Dia hanya menyaksikan, tak mampu menjadi "Tangan Tuhan" atau "Juru Selamat" yang menghindarkan Argentina dari jerat utang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi argentina utang restrukturisasi utang

Sumber : Bloomberg, New York Times, The Atlantic, Aljazeera

Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top