Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

New Deal, New Normal, New Comer

Kebiasan baru yang semula menyenangkan karena dipersilakan beraktivitas di rumah saja lambat laun mendatangkan kejenuhan hebat. Berangsur kedisiplinan mengendur. Di sisi lain Si Covid-19 enggan berdamai dengan orang yang lengah, lemah atau rentan.
Inria Zulfikar
Inria Zulfikar - Bisnis.com 29 Mei 2020  |  10:24 WIB
Presiden Joko Widodo (kanan) didampingi Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto (tengah) dan Kapolri Jenderal Pol Idham Aziz meninjau kesiapan penerapan prosedur standar New Normal di Mal dan Stasiun MRT - Antara Foto / Sigid Kurniawan
Presiden Joko Widodo (kanan) didampingi Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto (tengah) dan Kapolri Jenderal Pol Idham Aziz meninjau kesiapan penerapan prosedur standar New Normal di Mal dan Stasiun MRT - Antara Foto / Sigid Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA – Nama mendiang Presiden Amerika Serikat (AS) Franklin D. Roosevelt tiba-tiba melejit lagi di musim pandemi ini. Tokoh besar dari negeri Paman Sam itu seperti hadir kembali untuk menyemangati pemerintah di banyak negara yang sedang murung dan limbung gara-gara tersengat dampak Covid-19.

Berbagai jurus maut penyelamatan ekonomi harus dikeluarkan, karena taruhan akhirnya adalah nyawa manusia juga. Mulai dari langkah yang paling mendasar berupa stimulus beranggaran jumbo hingga skema penyelamatan lain yang bisa jadi belum ada presedennya.

Nah, dalam situasi tegang dan penuh tekanan untuk mencari solusi mujarab inilah kebijakan klasik Roosevelt kembali dikenang. Apalagi lagi kalau bukan New Deal yang melegenda itu.

New Deal adalah beberapa program domestik yang diberlakukan di AS pada periode 1933 hingga 1936, dan beberapa waktu setelahnya. Hal ini tercantum pada dua paket undang-undang yang disahkan oleh Kongres dan pemerintahan eksekutif Presiden Roosevelt pada masa jabatan pertamanya (1933--1937).

Program ini diberlakukan untuk mengatasi berbagai masalah yang menjadi dampak dari depresi besar yang menghantam AS. Pemicunya memang bukan pandemi seperti sekarang.

New Deal diusung dengan moto ‘3 Rs’: Relief, Recovery, dan Reform. Fokus program ini diadakan untuk mengatasi pengangguran dan kemiskinan, pemulihan ekonomi ke level wajar, dan pengaturan ulang sistem ekonomi agar depresi tidak kembali terulang.

Kisah yang melegenda mengenai New Deal adalah pembangunan infrastruktur secara masif di berbagai penjuru negeri. Bahkan sebenarnya banyak pula infrastruktur yang dibangun tidak begitu diperlukan. Ini dilakukan hanya untuk membuat masyarakat tidak hanya sebagai penerima bantuan tunai tanpa melakukan pekerjaan.

Nyaris setali tiga uang dengan kondisi di banyak negara saat ini, tak terkecuali di AS dan negara-negara besar lainnya di Eropa hingga Asia. Indonesia pun ada di tengah pusaran krisis itu.

Dana stimulus digelontorkan. Jaring pengaman sosial ditebar dengan berbagai program. Presiden Joko Widodo dan kabinetnya serta kepala daerah hingga jajarannya di pelosok dibuat sibuk bukan kepalang sejak awal Maret lalu ketika Covid-19 resmi dinyatakan ada di negeri ini.

Di Indonesia, proses berat sudah dilalui sejak tiga bulan terakhir. Work from home (yang meluas menjadi serba beraktivitas di rumah, termasuk ibadah), pembatasan sosial berskala besar (PSBB), hingga protokol kesehatan berikut penjabarannya yang panjang menjadi menu sehari-hari.

Jakarta bisa jadi pemegang rekor PSBB. Terus diperpanjang. Yang berlaku saat ini berakhir pada 4 Juni mendatang. Gubernur Anies mau memperpanjang lagi? Kita lihat saja.

Kebiasan baru yang semula menyenangkan karena ‘dipersilakan’ beraktivitas di rumah saja lambat laun mendatangkan kejenuhan hebat. Dibutuhkan adaptasi dan kesabaran tinggi untuk melepas penat.

Lambat laun kedisiplinan mengendur. Di sisi lain Si Covid-19 enggan berdamai dengan orang yang lengah, lemah, dan rentan.

Dalam perjalanannya, regulasi pun serba dikaji. Tidak boleh menjadi boleh tapi dengan syarat-syarat tertentu. Menjelang Lebaran bisa kita saksikan sendiri bagaimana perjuangan warga agar bisa lolos mudik ke kampung halaman.

Ada yang beruntung. Banyak pula yang kesandung. Putar balik, putar arah atau potong kompas belum tentu jitu mengecoh aparat di pos pemeriksaan.

Mudik atau pulang kampung tak ubahnya menyeberang ke perbatasan negara lain tanpa dokumen lengkap. Menyelinap, kamuflase maupun trik untuk menyelundupkan barang pun ditempuh. Padahal yang mau lolos dari pemeriksaan adalah manusia.

Bisa jadi baru Lebaran tahun ini di republik ini pula mudik dilakukan secara ‘gerilya’. Perih tapi nyata!

Pararel dengan ini, new normal mulai bergaung, seperti ingin memulai ‘konfrontasi langsung dan terbuka’ dengan Covid-19. Simulasi ‘perang’ pun disusun dengan protokol anyar berdasarkan banyak pertimbangan.

Sebenarnya senjata ampuh untuk menyelesaikan semua kemelut seputar penyebaran Covid-19 ini adalah kedisiplinan tinggi, apapun pilihan kebijakan yang diambil. Nah, dari PSBB yang sudah berjalan sejauh ini, ancang-ancang menuju new normal atau menahan diri dulu masih menjadi topik panas diskusi di ruang publik.

Menilai kini saatnya sudah tepat atau sebaliknya atau pertimbangan lain yang lebih progresif tentu harus didasarkan kalkulasi matang dari berbagai aspek agar keputusan final dapat dipertanggungjawabkan. Presiden Joko Widodo sudah memberi sinyal dengan mengatakan ‘tetap produktif tapi aman Covid-19’.

Dalam kaitan itu alangkah baiknya di level pelaksanaan diperkuat dengan langkah-langkah nyata yang dapat membuat keyakinan dan optimisme masyarakat serta dunia usaha bangkit.

Kita juga dihadapkan pada persoalan arus balik Lebaran. Bagi kota metropolitan sekelas ibu kota Jakarta, tradisi mengatakan usai Idulfitri adalah musim masuknya pendatang baru (new comer) dari daerah.

Tapi saat ini kondisinya jauh beda. Namun rasanya masih banyak juga yang berani uji nyali ke ibu kota di musim pendemi ini.

Satu demi satu hal serba baru muncul dalam kehidupan nyata.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

New Normal
Editor : Inria Zulfikar
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top