Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Gara-gara Corona, Chevron Bakal Pangkas Hingga 6.000 Karyawan Secara Global

Chevron bakal memangkas hingga 6.000 karyawan atau 15 persen dari total pekerja
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 28 Mei 2020  |  08:23 WIB
Pemandangan salah satu SPBU Chevron (2020). Bloomberg  -  Kyle Grillot
Pemandangan salah satu SPBU Chevron (2020). Bloomberg - Kyle Grillot

Bisnis.com, JAKARTA – Perusahaan minyak dan gas dunia, Chevron Corp., berencana memangkas jumlah tenaga kerjanya hingga 15 persen atau setara 6.000 karyawan di tengah tekanan pandemi virus corona.

Chevron merencanakan pengurangan jumlah karyawan sebesar 10 persen hingga 15 persen di seluruh dunia tahun ini. Jumlah itu setara dengan sekitar 6.000 dari 45.000 karyawan di divisi non-penjualan bensin.

Chevron merampingkan struktur-struktur organisasi untuk mencerminkan efisiensi dan menyesuaikan tingkat aktivitas yang diproyeksikan. Ini adalah keputusan yang sulit dan kami tidak membuatnya dengan mudah,” papar pihak perusahaan dalam sebuah pernyataan pada Rabu (27/5/2020), seperti dilansir dari Bloomberg.

Langkah tersebut kemungkinan bakal diikuti oleh raksasa energi lain seperti BP Plc dan Royal Dutch Shell Plc. Sampai sekarang, pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat dampak pandemi virus corona terutama dirasakan di sektor jasa ladang minyak.

Pandemi virus mematikan tersebut telah mendorong lonjakan tingkat pengangguran di seluruh dunia. Namun, dampak ini utamanya dirasakan bisnis energi setelah harga minyak jatuh ke rekor level terendahnya pada bulan lalu yakni level negatif.

Banyak perusahaan, termasuk Chevron, sudah mempersiapkan pengurangan biaya sebelum dampak virus corona terhadap perekonomian dirasakan dan kini berada di bawah tekanan finansial yang lebih besar.

Di Amerika Serikat, sekitar 90.000 pekerjaan atau 16 persen telah terpangkas dalam sektor minyak dan gas sejak Maret.

“Pemangkasan oleh Chevron akan berlangsung lintas batas tetapi khususnya pada fungsi perusahaan dan fungsi pendukung," ungkap CFO Chevron Pierre Breber dalam wawancara pada 1 Mei.

“Pekerja di lapangan juga mungkin terpengaruh karena harga minyak yang lebih rendah menyebabkan tingkat aktivitas yang lebih rendah,” tambahnya. Sekitar separuh dari total tenaga kerja Chevron berada di AS.

Perusahaan telah mengumumkan rencana untuk memecat hampir 300 karyawan di Pennsylvania dan akan memangkas posisi dalam operasi gas alam cairnya di Australia.

Upaya-upaya penghematan akan membantu Chevron mencapai target untuk memangkas US$1 miliar dari biaya operasional tahun ini, di samping memangkas pengeluaran modal.

Sementara itu, di antara perusahaan-perusahaan minyak besar lainnya, BP Plc dikabarkan mengurangi posisi manajemen senior, sementara Royal Dutch Shell Plc menawarkan redundansi sukarela.

Di sisi lain, Exxon Mobil Corp mengatakan pihaknya bermaksud untuk memangkas biaya operasional sebesar 15 persen tetapi PHK bukan bagian dari rencana itu, menurut CEO Exxon Darren Woods.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak chevron
Editor : Duwi Setiya Ariyanti
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top