Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Soal TKA China, Jubir Menko Marinvest: Pekerja Lokal Tetap Prioritas

Juru Bicara Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Jodi Mahardi mengatakan bahwa ke depan tenaga kerja lokal akan bertambah seiring berjalannya pelatihan keterampilan.
Aprianus Doni Tolok
Aprianus Doni Tolok - Bisnis.com 28 Mei 2020  |  19:33 WIB
Ilustrasi-Pekerja melakukan proses pemurnian dari nikel menjadi feronikel di fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) Pomalaa milik PT Aneka Tambang (ANTAM) Tbk, di Kolaka, Sulawesi Tenggara, Selasa (8/5/2018). - JIBI/Nurul Hidayat
Ilustrasi-Pekerja melakukan proses pemurnian dari nikel menjadi feronikel di fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) Pomalaa milik PT Aneka Tambang (ANTAM) Tbk, di Kolaka, Sulawesi Tenggara, Selasa (8/5/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA - Penciptaan lapangan kerja tetap menjadi prioritas utama pemerintah, termasuk di sektor energi dan tambang.

Juru Bicara Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Jodi Mahardi mengatakan bahwa ke depan tenaga kerja lokal akan bertambah seiring berjalannya pelatihan keterampilan.

"Di Politeknik [Industri Logam Morowali] yang ada di dalam Kawasan Industri Morowali [IMIP] telah bekerja sama dengan universitas di Indonesia," ujar Jodi melalui keterangan resmi, Kamis (28/5/2020).

Lebih lanjut, dukungan penuh pendidikan bagi mahasiswa di politeknik tersebut juga diberikan pemerintah dengan menghadirkan para dosen tetap berlatar belakang pendidikan magister dari ITB, UI, UGM, dan ITS.

Walhasil, para mahasiswa yang kemudian magang pada perusahaan-perusahaan di kawasan IMIP nantinya juga dapat bekerja di sana.

Mahasiswa yang diterima di Politeknik Industri Logam Morowali berasal dari berbagai daerah di Indonesia seperti Sumatera Utara, Jawa, Nusa Tenggara, Maluku, dan terbanyak dari Sulawesi.

Untuk diketahui, saat ini jumlah mahasiswa di sana adalah 273 orang. Namun dalam Renstra Poltek sudah direncanakan penambahan prodi baru agar jumlah mahasiswa mencapai sekitar 600 orang atau lebih.

"Apa yang dijalankan pemerintah sekarang adalah implementasi secara konsisten dari semangat Undang-Undang Minerba yang melarang ekspor mineral mentah yang dikeluarkan oleh Pemerintah sebelumnya," ujar Jodi.

Menurut Jodi selain penyerapan tenaga kerja lokal hasil lainnya adalah peningkatan devisa ekspor.

Pada 2014 ekspor besi baja sebagai produk penghiliran nikel hanya mencapai US$1,1 milyar. Sedangkan pada 2019 angkanya melonjak menjadi US$7,2 milyar.

"Nikel ini merupakan salah satu peluang kita untuk mentransformasi ekonomi kita. Alasaanya, pertama Indonesia memiliki cadangan nikel paling besar di dunia, kedua nikel digunakan secara luas di industri," imbuhnya.

Penyiapan SDM di Penghiliran Lithium

Persiapan sumber daya manusia untuk menyambut penghiliran bahan material untuk lithium baterei pun telah dilakukan sejak dini.

Sebanyak 22 orang mahasiswa mendapatkan beasiswa untuk menempuh pendidikan magister hidrometalurgi. Mereka sudah berangkat ke luar negeri pada september 2019.

Kemudian, pada tahun ini atau setelah normalisasi restriksi akibat pandemi Covid-19, ada tambahan pengiriman 500 orang mahasiswa. Targetnya, ada 3.000 lulusan S1 hingga S3 sampai dengan 2024.

"Nantinya lebih banyak sumber daya manusia akan mendapatkan pelatihan kejuruan atau melanjutkan pendidikan tinggi dan mendapatkan transfer of knowledge dan transfer of technology yang akan bermanfaat bagi Indonesia untuk leap frog dalam pengembangan industri ke depan," kata Jodi.

TKA China

Pada bagian lain penjelasannya, Jodi memaparkan soal kehadiran ratusan tenaga kerja asing atau TKA asal China di lokasi pembangunan smelter nikel di Konawe, Sulawesi Tenggara.

Jodi menyebutkan kehadiran TKA asal China tersebut bertujuan untuk mempercepat pembangunan smelter dengan teknologi rotary kiln electric furnace, RKEF, dari China.

Menurut Jodi penggunaan teknologi RKEF China memiliki keunggulan seperti lebih ekonomis, cepat, dan memiliki standar lingkungan yang baik.

"Kenapa butuh TKA China tersebut? Karena mereka bagian dari tim konstruksi yang akan mempercepat pembangunan smelter itu. Setelah smelter jadi, maka TKA tersebut akan kembali ke negara masing-masing. Pada saat operasi, mayoritas tenaga kerja berasal dari lokal," kata Jodi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Luhut Pandjaitan TKA China
Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top