Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Begini Dampak Lockdown Terhadap Ekonomi India

Akibat lockdown, ekonomi India diperkirakan akan mengalami kontraksi pada tahun ini. Hal ini dipicu oleh lesunya sisi permintaan dari ekonomi Negeri Bollywood tersebut.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 27 Mei 2020  |  12:44 WIB
Para pekerja migran dan keluarganya menaiki bus di tengah lockdown yang diberlakukan pemerintah di New Delhi, India, Sabtu (28/3/2020). - Bloomberg/Anindito Mukherjee\n
Para pekerja migran dan keluarganya menaiki bus di tengah lockdown yang diberlakukan pemerintah di New Delhi, India, Sabtu (28/3/2020). - Bloomberg/Anindito Mukherjee\\n

Bisnis.com, JAKARTA - Setelah menerapkan lockdown terbesar di dunia, India otomatis mengalami kelumpuhan ekonomi hingga ke sendi-sendi strategis.

Menurut survei Bloomberg, pertumbuhan ekonomi kuartal Januari-Maret 2020 yang akan dirilis pemerintah pada Jumat pekan ini diperkirakan akan melambat hingga 1,5 persen. Sementara itu, bank sentral India memperkirakan adanya kontraksi ekonomi pada tahun fiskal berjalan.

Dalam sebuah laporan, Kepala Ekonom India Deutsche Bank AG Kaushik Das memperkirakan ekonomi akan berkontraksi 5,5 persen pada tahun fiskal saat ini, dengan potensi penyusutan 8 persen jika pandemi berlanjut lama.

Dilansir Bloomberg, Rabu (27/5/2020), indeks layanan utama India jatuh pada bulan lalu menjadi 5,4. Angka itu merupakan yang terendah di dunia. Sementara indeks manufaktur turun menjadi 27,4. Dua angka tersebut mendorong indeks gabungan turun menjadi 7,2 dari 50,6 pada Maret 2020.

Angka-angka itu menunjukkan pukulan dahsyat terhadap ekonomi akibat pandemi virus Corona dan lockdown yang mulai diberlakukan pada minggu terakhir Maret.

Menurut IHS Markit, perbandingan historis dari indeks layanan dengan PDB menunjukkan ekonomi mengalami kontraksi pada tingkat tahunan sebesar 15 persen pada April.

Penyedia layanan juga mencatat penurunan tajam dalam biaya operasi karena tak beroperasi selama lockdown.

Hal itu kemungkinan akan tercermin dalam inflasi inti dan yang diperkirakan oleh bank sentral akan tetap lemah karena lesunya permintaan dalam perekonomian.

Adapun, ekspor India turun 60 persen pada April dari tahun lalu menjadi US$10,36 miliar karena permintaan global runtuh. Ekspor permata dan perhiasan anjlok 98,7 persen, sedangkan pengiriman tekstil menyusut 71,6 persen. Lemahnya permintaan domestik tercermin dari kontraksi impor yang tajam.

Sementara itu, permintaan konsumen juga lemah. Penjualan mobil di India yang pasar mobil terbesar keempat di dunia, hampir tidak bergerak. Produsen termasuk Mahindra & Mahindra Ltd., pembuat SUV terbesar di negara itu, dan Tata Motors Ltd., pemilik merek mewah Inggris Jaguar Land Rover, telah menutup pabrik selama bulan tersebut.

Sebagai akibat dari lockdown, konsumsi bensin dan solar anjlok seperti halnya lalu lintas barang. Pembekuan dalam kegiatan tersebut menyebabkan ekonomi memangkas sekitar 122 juta pekerjaan bulan lalu.

Kebutuhan untuk pinjaman bank berkurang, meskipun kondisi likuiditas secara keseluruhan menunjukkan perbaikan karena bank sentral memompa lebih banyak dana.

Output industri infrastruktur yang berkontribusi 40 persen pada indeks produksi industri menyusut 6,5 persen pada Maret dari tahun lalu karena penurunan produksi minyak mentah, gas alam, produk kilang, pupuk, baja, semen, dan listrik. Akibatnya, output pabrik  di India menurun 16,7 persen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Pertumbuhan Ekonomi india

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top