Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Sejarah 21 Mei 98: Para Pembisik Bulatkan Tekad Soeharto Lengser

Soeharto butuh waktu lebih dari dua hari untuk berdiskusi dengan berbagai kalangan, sebelum akhirnya memutuskan lengser dari jabatan presiden.
Herdanang Ahmad Fauzan
Herdanang Ahmad Fauzan - Bisnis.com 22 Mei 2020  |  04:00 WIB
Loading the player ...
Pidato Pengunduran Diri Presiden Suharto 21 Mei 1998. Video: Youtube Insan Muhammad

Bisnis.com, JAKARTA - Sore itu, 18 Mei 1998, Presiden Soeharto pusing tujuh keliling. Beberapa jam sebelumnya, unjuk rasa besar-besaran dan penyegelan gedung DPR oleh para aktivis sukses bikin Ketua DPR Harmoko mengumandangkan permintaan agar dirinya lengser dari kursi presiden.

"Dalam menangani situasi yang ada, pimpinan dewan mengharapkan demi persatuan dan kesatuan bangsa agar presiden secara arif dan bijaksana mengundurkan diri," kata Harmoko saat itu, seperti dilansir Harian Bisnis Indonesia edisi 19 Mei 1998.

Soeharto berkata dirinya perlu waktu untuk menjawab permintaan DPR. Ia tak ingin membiarkan emosi sesaat mempengaruhi keputusan pentingnya. 

Maka pagi harinya, 19 Mei 2020, Soeharto mengagendakan pertemuan dengan sejumlah ulama dan tokoh masyarakat. Di antaranya Ketua Umum PBNU Abdurrahman Wahid, budayawan Emha Ainun Nadjib, Direktur Yayasan Paramadina Nucholish Madjid, Ketua MUI Ali Yafie, tokoh Muhammadiyah Malik Fadjar, Guru Besar Hukum Tata Negara UI Yusril Ihza Mahendra, KH Cholil Baidowi (Muslimin Indonesia), Sumarsono (Muhammadiyah), serta Achmad Bagdja dan Ma'aruf Amin.

Seoharto tidak menyebutkan secara eksplisit rencananya mundur. Ia sebenarnya cuma berkata bakal melakukan reshuffle, namun hari itu para tokoh sudah mengendus gelagat sang jenderal. Perbedaan pendapat ada, namun sebagian besar dari tokoh-tokoh tersebut cenderung menerima bila Soeharto memang benar ingin mundur.

Seperti dilansir Bisnis Indonesia edisi 21 Mei 1998, Soeharto baru secara terbuka meminta pendapat soal pengundurannya saat bertemu kalangan militer pada 19 Mei 1998 pukul 17.30 WIB. Sebut saja kepada Menhankam Wiriranto, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Subagyo HS, Pangkostrad Prabowo Subianto, dan Pangdam Jaya Shafrie Syamsoeddin.

Kalangan militer ini cenderung keberatan dengan sikap Soeharto, seperti yang diutarakan Wiranto dalam konferensi pers sehari sebelumnya.

Soeharto, akhirnya mengambil keputusan tetap mundur setelah berdiskusi dengan kabinetnya beberapa jam kemudian. Ada banyak menteri yang diajak bicara, tapi sosok paling menentukan adalah Menko Ekuin Ginandjar Kartasasmita. Ginandjar menyampaikan bahwa reaksi negatif muncul dari kalangan ekonom.

Sehari kemudian Ginandjar memimpin rapat dengan belasan menteri lain dan menyampaikan surat rekomendasi untuk Soeharto: sebaiknya presiden mundur.

Soeharto lantas menyikapi rekomendasi ini dengan menemui sejumlah sosok yang sebelumnya sudah ia ajak bicara. Wiranto dan Yusril Ihza adalah dua yang paling getol ia ajak bicara.

Lewat Wiranto, Soeharto meminta agar rencana pengunduran dirinya segera disosialisasikan ke kalangan militer. Sedangkan kepada Yusril, Soeharto berpesan agar pengunduran dirinya disampaikan kepada Amien Rais yang saat itu menjabat Ketua MPR.

Pagi harinya pada 21 Mei 1998 pukul 09.00 WIB, setelah kabar itu tersiar ke seluruh pihak di parlemen, kabinet dan militer, Soeharto akhirnya mengumumkan kabar penting itu.

Tepat  22 tahun lalu, jabatan presiden resmi berpindah tangan kepada BJ Habibie dan dimulailah roda reformasi Indonesia.

Ketua MPR Harmoko desak Soeharto Mundur

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

orde baru soeharto
Editor : Sutarno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top