Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Risalah FOMC April: Fed Bahas Prognosis Suram, Stress Test, hingga Dividen Bank

Risalah FOMC juga memperkuat prognosis suram bahwa krisis Covid-19 menimbulkan risiko yang cukup besar terhadap prospek ekonomi dalam jangka menengah sehingga meredupkan harapan perbaikan ekonomi dalam waktu dekat.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 21 Mei 2020  |  08:45 WIB
Warga melintas di depan gedung bank central Amerika Serikat atau The Federal Reserve di Washington, Amerika Serikat, Rabu (31/7/2019). Bloomberg - Andrew Harrer
Warga melintas di depan gedung bank central Amerika Serikat atau The Federal Reserve di Washington, Amerika Serikat, Rabu (31/7/2019). Bloomberg - Andrew Harrer

Bisnis.com, JAKARTA - Terungkap dalam minutes meeting Federal Reserve bulan April lalu, bank sentral AS masih melihat pandemi virus Corona sebagai ancaman besar bagi perekonomian.

Selain itu, bank sentral tersebut juga prihatin dengan risiko tekanan tersebut terhadap stabilitas keuangan.

Para pejabat Federal Reserve sepakat bahwa dampak ekonomi dari pandemi tersebut menciptakan ketidakpastian yang luar biasa dan risiko yang cukup besar terhadap kegiatan ekonomi dalam jangka menengah.

“Sejumlah peserta berkomentar tentang risiko potensial terhadap stabilitas keuangan. Para peserta khawatir bahwa bank akan mendapat tekanan yang lebih besar,” seperti dikutip dari minutes meeting atau risalah Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada 28-29 April 2020 yang dirilis Rabu (20/5/2020) waktu AS.

Seperti diketahui, FOMC pada April lalu memutuskan suku bunga tetap pada kisaran mendekati nol. Dalam pernyataan pasca pertemuan, Federal Reserve (Fed) mengatakan krisis kesehatan masyarakat yang sedang berlangsung menimbulkan risiko yang cukup besar terhadap prospek ekonomi dalam jangka menengah. Hal ini ikut mengecilkan anggapan bahwa AS dapat mengharapkan pemulihan yang cepat.

Gubernur Fed Jerome Powell memperingatkan tentang kerugian ekonomi yang luas akibat pengangguran yang panjang

Dalam konferensi pers, dia memperingatkan pandemi virus Corona dapat meninggalkan bekas luka permanen pada ekonomi AS kecuali pembuat kebijakan dari semua pihak berbuat lebih banyak untuk membatasi krisis ini.

Risalah FOMC juga memperkuat prognosis suram dari Powell tersebut. Komite mendengarkan presentasi staf yang memproyeksikan, dalam skenario terbaik, pemulihan yang lemah dimulai pada paruh kedua tahun ini dengan tetap memperhatikan risiko hasil yang bisa meleset.

Para pembuat kebijakan moneter tersebut kemudian menghabiskan banyak waktu untuk membahas berbagai skenario. Sebagai kasus dasar, mereka mengakui bahwa pengeluaran konsumen di sektor-sektor ekonomi yang paling terpukul kemungkinan tidak akan kembali ke tingkat yang lebih normal dalam waktu cepat.

Pejabat bank sentral juga menyatakan keprihatinan bahwa sejumlah besar usaha kecil mungkin mengalami kegagalan atau mungkin tidak dapat beradaptasi dengan sukses mengunakan model bisnis baru, bahkan jika mereka selamat dari penutupan paksa.

Dari pandangan tersebut, pembahasan skenario potensial menjadi lebih gelap.

"Sejumlah peserta menilai bahwa ada kemungkinan besar gelombang tambahan wabah dalam waktu dekat atau menengah," tulis risalah tersebut dikutip dari Bloomberg.

"Dalam skenario seperti itu, diyakini kemungkinan akan ada gangguan ekonomi lebih lanjut."

Para pejabat juga memperingatkan kemungkinan kebangkrutan bisnis dan tekanan terhadap rumah tangga akan meningkat hingga mengancam stabilitas keuangan. Sementara kekuatan regulasi Fed berada di tangan Dewan Gubernur, sejumlah peserta FOMC tidak ragu merekomendasikan tindakan.

"Stress test sistem keuangan mendatang yang dilakukan untuk bank dipandang penting untuk mengukur kemampuan bank besar untuk menahan skenario penurunan di masa depan," tulis risalah tersebut.

"Sejumlah peserta menekankan bahwa regulator harus mendorong bank untuk mempersiapkan kemungkinan skenario penurunan lebih lanjut dengan membatasi pembayaran [dividen] kepada pemegang saham, dengan demikian langkah ini dapat menjaga modal."

Komite setuju bahwa Fed harus melanjutkan pembelian obligasi dan sekuritas yang didukung hipotek, serta operasi repo berskala besar dan berjangka panjang untuk mendukung kelancaran fungsi pasar.

Di dalam rapat, ada perdebatan tentang mengklarifikasi niat kebijakan moneter Fed pada pertemuan selanjutnya, termasuk beberapa diskusi terbatas tentang penargetan imbal hasil jatuh tempo. Kebijakan ini dikenal sebagai kontrol kurva imbal hasil.

Beberapa peserta juga mencatat bahwa neraca keuangan bank sentral dapat digunakan untuk memperkuat pedoman ke depan bagi komite, terutama mengenai jalur tingkat suku bunga federal melalui pembelian surat utang oleh bank sentral pada skala yang diperlukan demi menjaga imbal hasil US Treasury jangka pendek hingga menengah yang jatuh tempo.

Beberapa pejabat juga berbicara tentang rencana membuat panduan Fed yang lebih maju dan lebih eksplisit dengan menguraikan data ekonomi tertentu, seperti tingkat pengangguran atau tingkat inflasi yang harus dicapai sebelum komite mempertimbangkan menaikkan suku bunga.

Langkah seperti itu akan mengingat semua pihak akan panduan yang digunakan oleh The Fed pada 2012 ketika mengatakan akan mempertahankan suku bunga rendah sampai inflasi naik dan pengangguran turun. Panduan tersebut kemudian dikenal dengan 'Peraturan Evans' atau 'Evans Rule' yang namanya diambil dari Kepala Fed Chicago Charles Evans yang telah memperjuangkan strategi tersebut.

Risalah FOMC April tersebut tidak menyebutkan pembuat kebijakan yang membahas opsi suku bunga negatif.

Risalah juga menunjukkan bahwa sejumlah pejabat Fed ingin regulator mendorong bank untuk mempersiapkan skenario penurunan dengan membatasi pembayaran dividen kepada pemegang saham. Bank-bank yang tercatat di Wall Street telah menghentikan aksi buyback atau pembelian kembali saham, sehingga pernyataan Fed tersebut agaknya merujuk pada perusahaan-perusahaan yang memotong dividen - aksi yang berat dilakukan oleh perbankan.

Powell, berbicara pada awal April di webcast yang diselenggarakan oleh Brookings Institution, mengatakan dia tidak melihat alasan mengapa bank perlu menunda dividen untuk mempertahankan modal selama pandemi. Namun, seperti dilansir dari Bloomberg, ujaran agar perbankan AS untuk mengurangi pembayaran dividen kepada pemegang saham mereka semakin keras setelah perbankan di Eropa mulai menangguhkan dividen sejak awal tahun ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

krisis ekonomi federal reserve stress test

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top