Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Laporan PBB: Pandemi Covid-19 Ancam 130 Juta Orang Miskin Habis-habisan

Pandemi virus corona (Covid-19) diproyeksikan akan mendorong 130 juta orang jatuh ke dalam jurang kemiskinan yang ekstrem.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 14 Mei 2020  |  12:35 WIB
Warga beraktivitas di permukiman semi permanen di Kampung Kerang Ijo, Muara Angke, Jakarta, Selasa (22/1/2019). - ANTARA/Aprillio Akbar
Warga beraktivitas di permukiman semi permanen di Kampung Kerang Ijo, Muara Angke, Jakarta, Selasa (22/1/2019). - ANTARA/Aprillio Akbar

Bisnis.com, JAKARTA – Pandemi Covid-19 diproyeksikan akan mendorong 130 juta orang jatuh ke dalam jurang kemiskinan yang ekstrem.

Menurut laporan United Nations World Economic Situation and Prospects yang dirilis Rabu (13/5/2020), pandemi virus mematikan ini kemungkinan akan menyebabkan kira-kira 34,3 juta orang jatuh di bawah garis kemiskinan ekstrem pada tahun 2020.

“Sebesar 56 persen dari peningkatan ini terjadi di negara-negara Afrika,” demikian menurut laporan PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa/UN), seperti diberitakan Bloomberg.

Gambaran yang lebih buruk, PBB mengatakan 130 juta orang tambahan dapat bergabung dengan barisan orang yang hidup dalam kemiskinan ekstrem pada tahun 2030.

“Hal tersebut memberi pukulan besar terhadap upaya-upaya global untuk memberantas kemiskinan dan kelaparan ekstrem,” lanjutnya.

Selain itu, pandemi Covid-19 diproyeksikan akan menghapus empat tahun pertumbuhan dari ekonomi global atau hampir US$8,5 triliun dalam total output.

Produk domestik bruto (PDB) global pun diperkirakan susut 3,2 persen tahun ini. Proyeksi tersebut mengikuti laporan IMF World Economic Outlook pada bulan April, yang mengantisipasi penurunan 3 persen tahun ini.

Laporan yang sama namun memperkirakan pertumbuhan global akan rebound 3,4 persen pada 2021.

Menurut PBB, pandemi Covid-19 dapat mempercepat digitalisasi dan otomatisasi, yang berpotensi menghilangkan banyak pekerjaan eksisting. Upah bersih dan dampak ketenagakerjaan bisa negatif, sehingga memperburuk ketimpangan pendapatan.

“Pelajaran yang kami pelajari dari krisis terakhir adalah bahwa langkah-langkah stimulus fiskal dan moneter tidak serta merta meningkatkan investasi yang produktif,” ujar Hamid Rashid, penulis utama laporan tersebut.

Ia mengatakan pemerintah negara-negara di dunia harus melindungi pekerjaan dan mencegah peningkatan lebih lanjut dalam ketimpangan pendapatan.

“Pandemi ini akan secara tidak proporsional menekan mereka yang memiliki pekerjaan dengan keterampilan rendah dan upah kecil. Sementara itu, pekerjaan dengan keterampilan lebih tinggi tidak terlalu terpengaruh,” paparnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi global pbb kemiskinan covid-19
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top