Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

PKS Pertanyakan Upaya Pemerintah Cetak 600 Ribu Ha Sawah Baru

Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mardani Ali Sera mempertanyakan upaya pemerintah mencetak setidaknya 600 ribu hektare (ha) sawah baru untuk merespons ancaman krisis pangan akibat pandemi Covid-19.
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 11 Mei 2020  |  09:59 WIB
Petani membajak sawah menggunakan traktor tangan di Desa Samahani, Kecamatan Kuta Malaka, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, Sabtu (2/5 - 2020). / ANTARA
Petani membajak sawah menggunakan traktor tangan di Desa Samahani, Kecamatan Kuta Malaka, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, Sabtu (2/5 - 2020). / ANTARA

Bisnis.com, JAKARTA - Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mardani Ali Sera mempertanyakan upaya pemerintah mencetak setidaknya 600 ribu hektare (ha) sawah baru untuk merespons ancaman krisis pangan akibat pandemi Covid-19.

“Solusi menyiapkan ratusan ribu hektar lahan persawahan baru dari pemerintah amat tidak tepat, terlebih saat pandemi,” kata Mardani melalui keterangan tertulis yang diterima Bisnis, Jakarta, pada Senin (11/5/2020).

Dia mengatakan risiko dari upaya itu terlalu besar dari segi biaya maupun waktu panen. Sebaiknya, menurut dia, pemerintah menyalurkan fasilitas teknologi, sarana prasarana dan kemudahan kredit usaha untuk petani.

Selain itu, menurut dia, subsidi bantuan modernisasi Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan) untuk sementara waktu dapat diubah dengan pembayaran langsung ke petani. Hal itu dimaksudkan, imbuhnya, agar para petani dapat memilih benih terbaik secara mandiri untuk ditanam.

“Tanpa mengurangi semangat modernisasi Alsintan,” kata Mardani.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengaku telah menerima instruksi Presiden Joko Widodo untuk menyiapkan lahan sawah baru guna mencegah krisis pangan.

Kementan akan melakukan optimalisasi lahan-lahan rawa dan lahan marjinal yang mencapai 600.000 hektare.

Upaya penanaman di lahan baru ini disiapkan untuk menjamin ketersediaan beras sampai 3 bulan pertama 2021.

"Agar stok aman sampai awal tahun 2021 kita perlu tambahan di atas 1 juta ton. Perkiraan kami stok akhir 2020 hanya 1,8 juta ton. Kita setidaknya butuh 3 juta ton agar bisa survive 3 bulan pertama 2021," lanjut Syahrul.

Dengan asumsi 600.000 ton ini dapat terealisasi, Syahrul mengatakan terdapat potensi tambahan pasokan sebanyak 900.000 ton beras atau 1,8 juta ton gabah kering giling (GKG). Produksi padi di lahan marjinal sendiri cenderung lebih rendah dari lahan konvensional, hanya di kisaran 3 ton per hektare.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pks sawah covid-19
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top