Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Lockdown Selandia Baru Dilonggarkan, Ekonomi Siap Kembali Berputar

Selandia Baru menurunkan tingkat siaga ke level 3 sehingga kebijakan ini memungkinkan pekerja untuk kembali ke pabrik dan lokasi konstruksi serta membuka kembali gerai makanan.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 28 April 2020  |  09:48 WIB
Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern/Reuters - Yiming Woo
Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern/Reuters - Yiming Woo

Bisnis.com, JAKARTA - Selandia Baru melonggarkan karantina nasional setelah hampir 5 minggu menerapkan lockdown secara ketat sejak 26 Maret 2020.

Kini pemerintah Negeri Kiwi bersiap memutar kembali roda ekonomi untuk setengah juta penduduknya.

Perdana Menteri Jacinda Ardern menurunkan tingkat siaga ke level 3 sehingga kebijakan ini memungkinkan pekerja untuk kembali ke pabrik dan lokasi konstruksi serta membuka kembali gerai makanan.

Namun, banyak bisnis akan melanjutkan operasi dengan karyawan yang bekerja dari rumah, sementara outlet dan penyedia jasa tertentu harus memenuhi kriteria sulit untuk memastikan protokol kesehatan dengan pelanggan.

"Bagi sebagian besar orang, pindah dari level 4 tidak akan terasa berbeda, tetapi itu berarti secara ekonomi. Itu berarti sekitar setengah juta orang akan memiliki kesempatan untuk melanjutkan pekerjaan. Bagi orang-orang itu, kehidupan akan berubah secara dramatis, dan tingkat aktivitas dalam perekonomian akan berubah secara dramatis juga," kata Stephen Toplis, kepala penelitian di Bank of New Zealand di Wellington, dilansir Bloomberg, Selasa (28/4/2020).

Sebelumnya, Ardern telah menutup perbatasan Selandia Baru dan memberlakukan salah satu penutupan paling ketat di dunia. Dia mengatakan, tanpa langkah agresif itu ribuan nyawa akan hilang selama pandemi Covid-19.

Ada dampak langsung pada kegiatan pariwisata dan komersial. Departemen Keuangan memperkirakan ekonomi akan mengalami rekor kontraksi dalam tiga bulan hingga Juni, meski pemerintah telah mengeluarkan lebih dari 20 miliar dolar New Zealand (US$12 miliar) untuk subsidi upah dan dukungan lainnya. Ardern menjanjikan bantuan lebih banyak pada 14 Mei mendatang.

Pemerintah mengadopsi strategi eliminasi, dengan alasan, itu akan menempatkan ekonomi pada posisi terbaik untuk pulih. Tampaknya strategi itu telah berhasil. Selandia Baru mencatat hanya 1.469 kasus infeksi virus corona dan 19 kematian kemarin. Jumlah kasus meningkat dengan angka tunggal setiap hari bahkan ketika otoritas kesehatan melakukan rata-rata 5.300 tes per hari.

"Respons ekonomi terbaik terhadap virus adalah respons kesehatan masyarakat yang kuat. Semakin cepat kita dapat mengendalikannya, semakin cepat perekonomian dapat kembali ke keadaan normal," kata Menteri Keuangan Grant Robertson.

Sementara itu, bagi banyak orang, kemampuan untuk mendapatkan makanan takeaway adalah langkah penting menuju tujuan itu. Antrean mobil mulai mengular di gerai McDonald's Drive-Thrus dan outlet lainnya di seluruh negeri mulai dari jam 3 pagi ini. Namun, tidak seperti negara tetangga Australia, di mana pengunciannya kurang ketat, warga Selandia Baru masih tidak dapat pergi ke salon untuk memotong rambut.

Tingkat siaga level 4 adalah tingkat respons pandemi terberat. Orang-orang diharuskan untuk tinggal di rumah dan hanya pergi untuk berolahraga, membeli bahan makanan atau pergi ke dokter atau apotek. Di level 3, sejumlah sekolah akan dibuka dan kegiatan rekreasi berisiko rendah diizinkan, tetapi bisnis hanya dapat dibuka untuk pengiriman dan penjemputan tanpa kontak dimana pelanggan tidak dapat memasuki toko.

Menurut asumsi Departemen Keuangan, di bawah status siaga level 3, ekonomi berjalan sekitar 75 persen dari situasi normal, dibandingkan dengan 60 persen di bawah siaga level 4.

Beberapa ekonom memperkirakan PDB akan turun lebih dari 20 persen pada kuartal kedua sebelum melonjak pada kuartal ketiga. Namun para ekonom itu memperingatkan ukuran keseluruhan ekonomi akan jauh lebih kecil untuk beberapa tahun. Hal itu mencerminkan guncangan langsung dan kerugian yang berkepanjangan pada industri-industri utama seperti pariwisata.

Ngai Tahu Holdings, yang mengoperasikan usaha ikonik seperti Shotover Jet, pekan lalu menutup bisnis pariwisata dan mengatakan 300 pekerjaan berisiko. Bandara Internasional Auckland Ltd. dan Air New Zealand juga telah memecat para pekerja.

"Keamanan pekerjaan telah menyebabkan pukulan, seperti pada pendapatan rumah tangga, sehingga pengeluaran diskresioner akan turun bahkan setelah kita tidak berada dalam karantina," kata Sharon Zollner, kepala ekonom di ANZ Bank Selandia Baru di Auckland.

Zollner memperkirakan pengangguran meningkat hingga 11 persen. Sementara itu, Kepala ekonom ASB Bank, Nick Tuffley memperkirakan akan dibutuhkan tiga tahun sebelum ekonomi kembali ke titik awal sebelum virus merebak.

Mitranya di Westpac New Zealand, Dominick Stephens, memperkirakan bank sentral akan perlu meningkatkan stimulus dengan menggandakan pembelian obligasi serta memprogram dan memotong suku bunga acuannya ke wilayah negatif.

Warga Selandia Baru kini menantikan apakah pemerintah akan melonggarkan tingkat siaga ke level 2 pada 11 Mei mendatang.

Hal itu akan memungkinkan sebagian besar bisnis untuk dibuka, semua siswa kembali ke sekolah dan pertemuan sosial kecil bisa berlangsung. Saat ini, Ardern mendesak orang-orang untuk tetap tinggal di rumah dan membatasi keterlibatan sosial.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

new zealand Virus Corona Lockdown

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top