Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Kemarahan Jokowi dan Respons Lamban Pak Menteri

Presiden mencatat hingga pekan kedua April, harga daging sapi, bawang merah, bawang putih, cabe merah, cabe rawit, dan gula di pasar masih tinggi.
Presiden Joko Widodo memberikan kata sambutan dalam pembukaan Asian Agriculture and Food Forum (ASAFF) tahun 2020 di Istana Negara, Jakarta, Kamis (12/3/2020). ASAFF Tahun 2020 yang diselenggarakan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) merupakan hasil kolaborasi antarnegara dan antarpebisnis di kawasan Asia untuk membangun kemandirian pertanian dan ketahanan pangan di Asia. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
Presiden Joko Widodo memberikan kata sambutan dalam pembukaan Asian Agriculture and Food Forum (ASAFF) tahun 2020 di Istana Negara, Jakarta, Kamis (12/3/2020). ASAFF Tahun 2020 yang diselenggarakan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) merupakan hasil kolaborasi antarnegara dan antarpebisnis di kawasan Asia untuk membangun kemandirian pertanian dan ketahanan pangan di Asia. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

Presiden Joko Widodo lagi-lagi harus menumpahkan kekecewaan kepada Agus Suparmanto di depan publik. Perkarannya adalah pria yang dipercaya sebagai Menteri Perdagangan dalam Kabinet Indonesia Maju ini tidak juga berhasil mengendalikan harga pangan.

Presiden mencatat hingga pekan kedua April, harga daging sapi, bawang merah, bawang putih, cabe merah, cabe rawit, dan gula di pasar masih tinggi. Bahkan harga beras naik 0,4 persen di tengah penurunan harga gabah sebesar 5 persen.

“Saya nggak tahu apakah dari Kemendag sudah melihat lapangannya bahwa [harga pangan] ini belum bergerak [turun],” kata Presiden membuka rapat terbatas mengenai antisipasi kebutuhan pokok melalui video conference, Selasa (21/4/2020).

Terkait harga beras, Presiden meyakini ada masalah di lapangan. Logikanya saat harga gabah kering turun, seharusnya harga beras juga mengikuti.

Presiden pun yakin ada pihak yang diuntungkan dalam hal tersebut. Tentu saja bukan petani, apalagi masyarakat secara luas. “Ini yang untung siapa, dicari,” kata Jokowi.

Dalam dua bulan terakhir, ini bukan kali pertama Jokowi menegur Mendag di depan publik. Sebelumnya Presiden juga mengkritisi sikap Mendag yang cenderung lambat merespons kondisi terkini. Hal ini terjadi saat Presiden membuka rapat kerja Kementerian Perdagangan 2020 dari Istana Negara, Jakarta, Rabu (4/3/2020).

Presiden menilai aturan-aturan yang ada tidak relevan untuk menjawab tantangan ekonomi di tengah pandemi. Jokowi menilai saat ini Kemendag masih berkerja berdasarkan rutinitas atau business as usual. Padahal Covid-19 telah menghantam sosial ekonomi dunia, termasuk Indonesia.

Tekanan kedua Jokowi di depan publik kepada Mendag tentu sangat beralasan. Menjelang Ramadhan yang akan berlangsung di tengah penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), pemerintah mesti sigap menjamin ketersediaan pangan serta menjaga stabilitas harganya.

Sementara itu merespons kegelisahan Presiden, Kementerian Perdagangan mengaku telah menerjunkan tim ke lapangan bersama dengan Satuan Tugas (Satgas) Pangan untuk menurunkan harga kebutuhan pokok yang masih mengalami lonjakan.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Suhanto mengatakan, selain menerjunkan tim bersama Satgas Pangan, Kemendag juga sedang melakukan koordinasi dengan seluruh Dinas Perindustrian dan Perdagangan di 34 provinsi di seluruh Indonesia.

“Kami ingin mendapatkan laporan pantauan terbaru terkait dengan harga bahan pokok,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (21/4/2020).

Suhanto pun berjanji akan segera mengecek harga gabah kering di petani. Harapannya tentu saja dapat menyesuaikan harga beras dengan gabah kering tersebut.

Dalam kesempatan terpisah, Ketua II Pelaku Usaha Bawang Putih dan Sayuran Umbi Indonesia (Pusbarindo) Valentino menanggapi permasalahan utama harga bawang putih. Seperti diketahui, relaksasi impor bawang putih yang diberikan pemerintah, nyatanya belum cukup kuat menekan harga di pasar.

Menurut Valentino, saat ini belum semua bawang putih impor dari China telah sampai di Indonesia. catatannya menunjukan bahwa 38 persen atau 23.000 ton dari 60.000 ton belum mendarat di Tanah Air.

Pangan, bahan pokok, supermarket
Pangan, bahan pokok, supermarket

Warga berbelanja kebutuhan pangan dan rumah tangga di salah satu supermarket di Cimahi, Jawa Barat, Minggu (19/4/2020). Bisnis/Rachman

Selain itu, harga pada tingkat grosir hingga peritel masih didasarkan pada harga stok lama. “Setelah stok lama habis, baru mereka akan beli dari pasokan baru dengan harga yang sudah mencapai Rp20.000/kg - Rp19,000/kg di tingkat importir,” katanya.

Adapun di luar upaya dan strategi pemerintah, Presiden Jokowi menilai hal yang tidak kalah penting adalah mereformasi sektor pangan Indonesia. Pandemi virus Corona menjadi momentum yang tepat. Kebijakan-kebijan perlu diatur agar menguntungkan masyarakat secara luas.

“Ambil ini sebagai momentum untuk melakukan reformasi bersar-besaran dalam kebijakan sektor pangan di negara kita. Jangan kehilangan momentum kita,” kata Presiden.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Muhammad Khadafi
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper