Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Hadapi Kontraksi Ekonomi Terbesar Sejak Krisis 1998, Thailand Jaga Suku Bunga

Bank sentral Thailand mempertahankan tingkat suku bunga acuan pada rekor rendah 0,75% pada Rabu (25/3/2020), setelah pengurangan 25 basis poin pada pertemuan tak terjadwal pada Jumat (20/3/2020).
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 25 Maret 2020  |  21:46 WIB
Kantor pusat Bangkok Bank di Bangkok, Thailand. - bangkokbank.com
Kantor pusat Bangkok Bank di Bangkok, Thailand. - bangkokbank.com

Bisnis, JAKARTA — Meskipun menghadapi ancaman kontraksi ekonomi terburuk sejak krisis keuangan dua dekade silam, Bank Sentral Thailand memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya pascapemotongan darurat pada pekan lalu.

Tingkat suku bunga acuan dipertahankan pada rekor rendah 0,75% pada Rabu (25/3/2020), setelah pengurangan 25 basis poin pada pertemuan tak terjadwal pada Jumat (20/3/2020) seiring dengan pandemi COVID-19 yang mengancam ekonomi global.

Pada saat yang sama bank sentral juga memproyeksikan kontraksi ekonomi terburuk sejak krisis keuangan Asia lebih dari dua dekade lalu.

Dilansir melalui Bloomberg, bank sentral memangkas perkiraan pertumbuhan untuk tahun ini menyusut 5,3% dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya yang mengharapkan ekspansi sebesar 2,8%.

Ekspor dan pariwisata, pendorong utama ekonomi Thailand, keduanya sangat terpukul ketika wabah virus corona menyebar di seluruh dunia.

“Kami percaya bank sentral dapat memotong 25 basis poin lagi. Mereka bisa menggunakan semua ruang yang mereka miliki sekarang,” kata Burin Adulwattana, kepala ekonom di Bangkok Bank Pcl, seperti dikutip melalui Bloomberg, Rabu (25/3/2020).

"Ekonomi berada di ambang resesi dengan risiko penurunan yang sangat besar, jadi inilah saatnya untuk melakukan semua yang mereka bisa," tambahnya.

Asisten Gubernur Bank Sentral Thailand Titanun Mallikamas mengatakan bahwa pembuat kebijakan siap untuk menurunkan suku bunga lebih lanjut jika diperlukan dan akan terus mengawasi pasar, termasuk nilai tukar baht.

Dalam sebuah pernyataan yang disampaikan melalui halaman Facebook Bank of Thailand dampak dari tindakan pembatasan sosial, ekonomi diperkirakan baru akan pulih tahun depan.

Indeks SET benchmark memperpanjang kenaikan setelah keputusan tersebut, melonjak 6,3% menjadi 1.099,32 pada pukul 15:32 waktu Bangkok.

Baht turun 0,3% terhadap dolar, AS mengurangi kerugian sebelumnya sebanyak 0,5%.

Perdana menteri Thailand telah mendeklarasikan keadaan darurat selama sebulan sejak Kamis (19/3), dengan beberapa menutup beberapa perbatasan dan shutdown sebagian di Bangkok.

Awal pekan ini pemerintah Thailand menyetujui paket stimulus bernilai sekitar US$3,6 miliar, termasuk US$1,37 miliar dalam bentuk uang tunai kepada beberapa pekerja.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Suku Bunga thailand bank sentral covid-19
Editor : Gajah Kusumo
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top