Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Curahan Dokter: Saya Tak Akan Tinggalkan Gelanggang Meski Nyawa Taruhan

Sebagai dokter senior saya harus memberikan contoh kepada teman-teman dan junior atau peserta didik saya bahwa saya tetap berada di tengah-tengah pasien dan memberi semangat kepada teman-teman sejawat dan junior saya untuk tetap berada di tengah-tengah pasien, dan tidak meninggalkan gelanggang walau nyawa taruhannya.
Ari Fahrial Syam
Ari Fahrial Syam - Bisnis.com 24 Maret 2020  |  16:02 WIB
Ilustrasi virus corona - istimewa
Ilustrasi virus corona - istimewa

SAYA sudah 30 tahun menjadi dokter. Berbagai pengalaman hidup telah saya lalui dalam perjalanan panjang sebagai dokter. Tetapi, pengalaman saya menjadi dokter saat pandemi global COVID-19 merupakan pengalaman hidup terberat saya sebagai dokter.

Karir dokter saya awali sebagai dokter jaga pada klinik 24 jam, dan lanjut menjadi dokter puskesmas terpencil di daerah Sumatra. Dalam perjalanan awal sebagai dokter memang saya pernah menghadapi hari-hari berat dan berisiko.

Sebagai dokter di daerah terpencil saya pernah hampir mengalami kecelakaan speed boat, dan pernah terkatung-katung di sungai Batang Hari di tengah arus sungai yang dalam. Saya pernah berjalan-jalan di tengah rimbunnya pohon di kegelapan malam setelah pelayanan rumah pasien dengan risiko digigit ular atau diserang binatang buas.

Saya sempat mengalami infeksi malaria karena memang daerah tempat saya bekerja merupakan daerah endemis, penyakit malaria yang saya dapat di tempat bekerja sempat kambuh selama satu tahun kemudian.

Selanjutnya sebagai dokter spesialis tidak banyak pengalaman pahit yang saya alami. Semua berjalan dengan lancar. Alhamdulillah saya sempat menjadi relawan di Tsunami Aceh, Gempa Jogja, Gempa Sumatra Barat, banjir Jakarta, dan relawan bencana lain, di mana bisa saja terjadi berbagai risiko apabila gempa berulang atau pasokan makan yang sulit pada daerah bencana ketika saya menjadi relawan.

Sebagai relawan pada berbagai bencana tersebut saya tetap bekerja secara optimal sebagai relawan dokter. karena logistik yang cukup dan memadai. Tetapi, saat bencana nonalam seperti saat ini, yaitu pandemi global Covid-19, hati saya ciut, dan ini merupakan hari-hari terberat saya sebagai dokter. Kita ketahui bahwa infeksi Covid-19 ini menular secara cepat dari satu orang ke orang lain.

Tetapi, memang kita harus menyadari sebagian dari kita mempunyai sense of crisis yang rendah sehingga kita abai dalam mengantisipasi pandemi global ini.

Saat ini di seluruh dunia menghadapi pandemi global, semua akan mempunyai kebutuhan yang sama. Semua membutuhkan masker, semua membutuhkan alat pelindung diri, semua membutuhkan dokter, dan perawat. Semua sedang mencari obat dan vaksin.

Tenaga medis merawat pasien di tenda dan bangunan darurat yang dibuat untuk membantu sistem perawatan kesehatan di kawasan rumah sakit di Brescia, Italia, Jumat (13/3/2020). Penyebaran wabah virus corona (Covid-19) di Italia cukup signifikan dengan pertumbuhan jumlah kematian pasien yang mencapai 14 persen. Bloomberg/Francesca Volpi

Dalam kondisi saat ini semua negara mempunyai permasalahan yang sama maka kalaupun obat dan vaksin ditemukan pada satu negara, pemenuhan utama akan diprioritaskan untuk negara dan bangsanya sendiri.

Menjadi motivasi buat kita semua bahwa kemandirian bangsa bukan hanya jargon yang diucapkan, tapi harus dilakukan dan diwujudkan di kemudian hari.

Pandemi global Covid-19 ini memang luar biasa, dan saya sebut hari-hari tersulit saya sebagai dokter. Kondisi di mana kita tidak bisa bergerak dengan leluasa.

Kita tidak berinteraksi langsung dan melakukan pertemuan atau rapat dalam satu ruang tertutup untuk koordinasi mengatasi masalah ini karena kita harus juga menerapkan social distancing. Kita sebagai petugas kesehatan dapat tertular langsung dari pasien yang sedang kita layani, baik di poliklinik dan maupun di rawat inap.

Terus terang ini juga sudah saya prediksi, bahwa model penyebaran kontak langsung, seperti saat ini membuat petugas kesehatan bisa menjadi korban, mungkin saat ini virus Covid-19 belum hinggap di tubuh kita, tetapi bisa saja beberapa waktu ke depan virus ini hinggap di tubuh kita dan menyerang paru-paru kita.

Hal yang membuat hati kecil saya lebih ciut adalah ketika mendengar ada perawat yang meninggal diduga karena Covid-19, mendengar ada dokter yang meninggal, dan ada dokter gigi yang meninggal karena Covid-19 ini tentu mereka sebagian besar tertular dari pasien mereka.

Belum lagi setiap waktu ada saja saya mendengar bahwa rekan sejawat saya dokter positip Cpvid-19, dan ada teman yang melakukan isolasi mandiri karena pasien yang ditangani di awal pada akhirnya diketahui menderita Covid-19.

Sekali lagi kondisi ini memang membuat hati saya ciut. Apalagi di tengah keterbatasan masker, alat pelindung diri, dan hand sanitizer.

Di sisi lain dalam kondisi keterbatasan sebagai praktisi klinis, saya tetap menerima pasien, saya tetap melakukan endoskopi, saya tetap merawat pasien, dan hal yang tidak mungkin tidak harus saya lakukan dan teman-teman sejawat kerjakan.

Petugas medis memeriksa kesiapan alat di ruang ICU Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Senin (23/3/2020). Presiden Joko Widodo yang telah melakukan peninjauan tempat ini memastikan bahwa rumah sakit darurat ini siap digunakan untuk karantina dan perawatan pasien Covid-19. Wisma Atlet ini memiliki kapasitas 24 ribu orang, sedangkan saat ini sudah disiapkan untuk tiga ribu pasien. ANTARA FOTO/Kompas/Heru Sri Kumoro/Pool

NYAWA SEBAGAI TARUHAN

Sebagai dokter senior saya harus memberikan contoh kepada teman-teman dan junior atau peserta didik saya bahwa saya tetap berada di tengah-tengah pasien dan memberi semangat kepada teman-teman sejawat dan junior saya untuk tetap berada di tengah-tengah pasien, dan tidak meninggalkan gelanggang walau nyawa taruhannya.

Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengingatkan kepada kita semua untuk berperang melawan Covid-19, virus yang menyebar antar manusia dan virus yang dapat menyebar dengan cepat antar manusia melalui droplet. Virus yang berdasarkan data pada tanggal 18 Maret 2020 menyebabkan kematian pada 1 dari 12 pasien yang positif virus penyebab penyakit ini. 

Oleh karena itu, saya berharap semua pihak mengikuti ajakan Bapak Presiden untuk belajar dari rumah, bekerja di rumah dan beribadah dari rumah.

Dengan cara mengurangi pergerakan manusia dan mencegah interaksi antar manusia secara langsung angka penyebaran virus ini bisa kita tekan.

Selain itu, semua pihak harus menyadari bahwa penanggulangan pandemi global ini harus dilakukan secara gotong royong semua pihak. Peduli sesama, kesetiakawanan harus dimunculkan. Karena tinggal menunggu waktu kita menjadi pasien berikutnya dari virus ini.

Berbagai sarana dan prasarana agar dokter bisa bekerja tenang harus diadakan. Pengadaan masker, alat pelindung diri, hand sanitizer harus diadakan dan harus segera di distribusikan kepada rumah sakit di mana para dokter bekerja.

Petugas melakukan penyemprotan disinfektan di ruang publik di kawasan Sudirman, Jakarta, Kamis (19/3/2020). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Tentu bukan saja rumah sakit rujukan, tetapi juga pemenuhan pada berbagai pelayanan kesehatan tempat para dokter perawat dan petugas kesehatan lainnya berhadapan dengan pasien-pasien yang setiap saat menularkan virusnya kepada kita para petugas kesehatan.

Selain itu, memang berbagai peralatan diagnostik untuk menegakkan diagnosis Covid-19 harus segera dihadirkan agar diagnosis yang tepat dan cepat dapat ditegakkan.

Kita harus memutus mata rantai penyakit ini, pergerakan orang harus dicegah untuk menekan penyebaran virus ini. Social distancing harus konsisten dilaksanakan pada berbagai lini sendi-sendi aktifitas masyarakat.

Dampak ekonomi yang muncul akibat masyarakat tidak bergerak harus dikalahkan oleh dampak kesehatan masyarakat yang dahsyat yang akan melumpuhkan semua segi ketika kita menghadapi sumber daya petugas kesehatan yang sakit atau sumber daya yang sedang melakukan isolasi diri.

Alhamdulillah di era tehnologi informatika yang tinggi ini kita bisa dengan mudah berkomunikasi secara online, belajar secara online dan bekerja secara online, tatap muka tanpa bertemu.

Kita tetap bisa produktif walau berada di rumah. Kasih kesempatan agar dokter dan petugas kesehatan dapat bekerja dengan tenang, tetap semangat, kita pasti bisa mengalahkan virus ini,kita musti kompak dan saling mengerti sesama. Salam sehat.

*Penulis adalah Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

fkui Virus Corona ari fahrial syam
Editor : Hendri Tri Widi Asworo
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top