Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Hadapi Tantangan Terbesar Sejak Perang Dunia II, Italia Tutup Produksi Industri

Duka di Italia akibat virus corona (covid-19) tak tampak mereda. Banyaknya jiwa yang bertumbangan akibat corona sampai memaksa negeri pizza menutup hampir seluruh produksi industri selama 15 hari.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 23 Maret 2020  |  08:04 WIB
Penumpang kereta menggunakan masker saat menunggu kereta di peron kereta bawah tanah Metro Milan di Milan, Italia, Kamis (12/3/2020). Italia menghentikan kehidupan normal dan hanya memberikan akses terhadap layanan-layanan penting untuk membendung penyebaran virus corona yang mematikan. Bloomberg - Alberto Bernasconi
Penumpang kereta menggunakan masker saat menunggu kereta di peron kereta bawah tanah Metro Milan di Milan, Italia, Kamis (12/3/2020). Italia menghentikan kehidupan normal dan hanya memberikan akses terhadap layanan-layanan penting untuk membendung penyebaran virus corona yang mematikan. Bloomberg - Alberto Bernasconi

Bisnis.com, JAKARTA – Duka di Italia akibat virus corona (covid-19) tak tampak mereda. Banyaknya jiwa yang bertumbangan akibat corona sampai memaksa negeri pizza menutup hampir seluruh produksi industri selama 15 hari.

Pada Sabtu malam (21/3/2020), Perdana Menteri Giuseppe Conte mengatakan Italia akan menghentikan sementara semua kegiatan bisnis non-esensial karena negara berpenduduk 60 juta jiwa itu menghadapi tantangan terbesarnya sejak Perang Dunia II.

“Tetap di rumah, kita tidak punya pilihan,” ujar Conte dalam pidato yang ditayangkan melalui televisi. Meski demikian, lanjut Conte, banyak supermarket, apotek, bank, kantor pos serta bisnis penting lainnya masih akan tetap dibuka.

Setelah menyalip China sebagai pusat wabah corona paling mematikan menjelang akhir pekan lalu, Italia melaporkan 793 kematian lebih lanjut pada Sabtu (21/3).

Jumlah korban jiwa terus bertambah dan mencapai total lebih dari 5.000 orang hingga Minggu (22/3/2020), semakin jauh dari China yang kini bercokol di tempat kedua negara dengan angka kematian terbesar di dunia.

Seluruh rumah sakit setempat kewalahan, banyak nyawa tenaga medis yang terenggut. Negara ini seakan kehabisan solusi, baik itu dari segi sosial maupun ekonomi, untuk mengatasi bencana tersebut.

Italia, anggota negara Uni Eropa yang pernah selamat dari gejolak politik dan keuangan, sekali lagi berada di ambang krisis.

Langkah-langkah Conte untuk menahan penyebaran virus corona mencerminkan inisiatif yang diambil oleh Lombardy, pusat penyebaran corona sekaligus jantung ekonomi Italia.

Para pemimpin regional telah mendesak pemerintah pusat untuk mengambil tindakan lebih kencang, sehingga seringkali memaksakan tindakan mereka sendiri sebelum pejabat di Roma bertindak.

Seiring dengan meningkatnya jumlah korban jiwa di benua Eropa, pemerintah negara-negara kawasan ini semakin berani mengambil tindakan untuk melawan dampak ekonomi dari virus corona.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, yang awalnya enggan menerapkan penutupan besar-besaran, memperingatkan warga Inggris bahwa mereka tidak dapat berharap untuk menghindari pandemi ini.

“Jumlahnya sangat tajam dan semakin cepat. Kita hanya tertinggal beberapa pekan, dua atau tiga, di belakang Italia,” tutur Johnson, seperti dilansir Bloomberg.

Di Spanyol, Perdana Menteri Pedro Sanchez pada Sabtu (21/3/2020) memperingatkan seluruh warga atas kemungkinan peningkatan angka kematian lebih lanjut.

Negeri Matador memasuki pekan kedua dari keadaan darurat yang telah mengunci aktivitas sebagian besar warga di rumah-rumah mereka dan mendorong polisi berpatroli di jalan-jalan untuk menegakkan pemberlakuan lockdown.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Italia Virus Corona

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top