'Kado Manis' dari Jokowi untuk Pers Indonesia

HPN biasanya dirayakan tepat pada tanggal itu. 9 Februari. Bertepatan dengan hari ulang tahun Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).
Maria Yuliana Benyamin
Maria Yuliana Benyamin - Bisnis.com 09 Februari 2020  |  15:38 WIB
'Kado Manis' dari Jokowi untuk Pers Indonesia
Presiden Joko Widodo (kedua kanan) bersama Ketua PWI Pusat Atal Sembiring Depari (kanan), Menteri PUPR Basuki Hadimuljono (kiri) dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya (ketiga kiri) menggunakan bus pariwisata Kalsel saat menghadiri puncak perayaan Hari Pers Nasional (HPN) di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Sabtu (8/2/2020). Perayaan HPN tahun 2020 tersebut mengangkat tema 'Pers Menggelorakan Kalsel sebagai Gerbang Ibu Kota Negara'. - ANTARA/Bayu Pratama S

Bisnis.com, BANJARMASIN -- Ada yang berbeda dengan perayaan Hari Pers Nasional (HPN) 2020. Sedianya, puncak acara akan dilakukan pada hari ini, Minggu (9/2/2020).

HPN memang biasanya dirayakan tepat pada tanggal itu. 9 Februari. Bertepatan dengan hari ulang tahun Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

Sepekan sebelum acara, menurut jadwal yang diterima Bisnis, puncak perayaan HPN akan digelar sesuai dengan tanggal biasanya.

Namun, beberapa hari kemudian beredar informasi bahwa puncak acara dilakukan pada Sabtu (8/2/2020).
Acara puncak tersebut pun akhirnya digelar. Kemarin. Sabtu. Bukan tanggal 9 Februari.

Tentu ini di luar kebiasaan. Soal lokasi acara pun sempat simpang siur. Semula, acara akan digelar di salah satu hotel berbintang di pusat kota Banjarmasin. Namun, ternyata lokasinya pindah. Di kantor Gubernur Kalimantan Selatan. Lokasinya di Banjarbaru, sekitar 45 menit dari pusat kota.

Tak heran 'gegap gempita' HPN tak begitu terasa. Sepanjang jalan menuju lokasi acara puncak, tidak begitu tampak spanduk HPN berdiri tegak di kiri kanan jalan. Jumlahnya bisa dihitung jari.

Namun, apalah artinya itu. Waktu, lokasi, atau pun gegap gempita HPN yang tidak begitu terasa akhirnya tak jadi soal. Tahun ini berbeda. Ada 'kado manis' dari Jokowi.

Perubahan waktu, kabarnya datang dari Presiden Joko Widodo. Jadwal Presiden memang cukup padat karena harus melakukan kunjungan kerja ke luar negeri.

Alhasil, Presiden cuma semalam di Banjarmasin. Tiba Jumat (7/2/2020) petang dan pulang Sabtu (8/2/2020) siang. Pulangnya pun tak ke Jakarta. Presiden dan rombongan langsung menuju Canberra, Australia.

Cukup singkat memang waktu Presiden di Banjarmasin bersama insan pers. Namun, setidaknya Jokowi merasa senang karena telah memenuhi undangan itu. Jokowi pernah tak menghadiri perayaan HPN sekali. "Saya kapok pernah tak hadiri Hari Pers Nasional," ujar Jokowi kala mengawali sambutannya.

Pengakuannya berhasil mencairkan suasana pagi itu. Semua tertawa. Jokowi merasa harus hadir di acara tahunan tersebut.

"Insan pers adalah teman saya sehari-hari. Kemana pun saya pergi, yang selalu ikut bersama saya adalah para wartawan. Kadang-kadang menteri malah enggak ikut. Yang selalu bersama saya adalah para wartawan. yang mengejar saya, yang bikin saya gugup dan gagap, juga insan pers. Yang buat berita saya dan pemerintah, juga insan pers."

Dia melanjutkan. "Berhadapan dengan insan pers, bukan benci tapi rindu, tetapi selalu di hati dan selalu rindu."
Soal ini, Jokowi juga menuliskannya di Instagram.

Masih mengapresiasi insan pers, Jokowi mengungkapkan rasa terima kasihnya atas peran pers dalam 5 tahun terakhir. Media, menurut Jokowi, konsisten mewartakan kerja pemerintah dan memberikan dukungan, hingga menyampaikan kritik. Termasuk kritik pedas sekalipun.

Sebagai pilar demokrasi keempat, lanjut Jokowi, insan pers juga telah ikut menyukseskan pemilihan umum terbesar dan terumit di dunia. Pers dinilai sukses mendorong partisipasi masyarakat dan mendorong iklim yang kondusif.

Jokowi berharap pers juga memaksimalkan perannya untuk menyukseskan pilkada tahun ini di 270 daerah.
Presiden juga menyinggung peran pers dalam menghadapi situasi yang tidak normal seperti saat ini, yakni terkait dengan virus Corona.

Peran pers dibutuhkan untuk membantu penyebaran informasi yang benar dan tidak menyebabkan kepanikan, apalagi sampai memberikan informasi yang salah.

Negara, tegas Presiden, butuh kehadiran pers dengan perspektif yang jernih, berdiri di depan melawan 'penyakit' seperti information disorder, kekacauan informasi yang dilakukan dengan sengaja, hoax, ujaran kebencian, dan semburan fitnah yang mengancam kehidupan demokrasi.

Pers juga diminta mewartakan berita baik dan agenda-agenda besar Indonesia. "Karena masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang mendapatkan informasi yang sehat dan baik. Informasi yang baik membutuhkan jurnalisme dan ekosistem yang baik. Oleh karena itu, ekosistem media harus dilindungi dan diproteksi sehingga masyarakat mendapatkan konten berita yang baik. Untuk itu, diperlukan industri pers yang sehat," tegas Presiden.

*

Perkembangan teknologi digital yang begitu pesat memang memunculkan peluang sekaligus ancaman.
Peluang bagi pihak yang mampu memanfaatkan momentum itu. Ancaman bagi mereka yang keukeuh mempertahankan bisnis konvensional.

Kondisi ini terjadi juga di industri media. Teknologi digital menumbuhkan berbagai platform media baru, termasuk juga media sosial.

Pada saat yang sama, terjadi pergeseran pola konsumsi masyarakat terhadap media. Ini juga sejalan dengan masuknya era generasi milenial.

Kemudahan melahap berita 'di dalam genggaman' membuat tidak sedikit pembaca yang beralih ke media online, bahkan media sosial.

Hari ini, kita bisa menyaksikan bagaimana satu per satu media cetak harus kehilangan pembacanya, yang merasa jauh lebih nyaman menggenggam ponsel pintarnya ketimbang koran fisik.

Media televisi pun demikian. Dugaan saya, tidak banyak di antara kita yang masih betah menatap layar besar di salah satu sudut ruangan rumah.

Lagi-lagi, orang kini lebih asyik menggenggam ponsel pintar, kendati layarnya jauh lebih kecil.
Pada saat yang sama, media sosial juga terus bertumbuh sesuai zamannya. Selalu ada yang baru, dan kita semua pasti terbuai di dalamnya.

Media sosial kini tak hanya jadi 'area pribadi' untuk eksis ataupun pamer diri. Lebih dari itu. Media sosial juga menjadi sarana penyebaran informasi publik.

Tak heran informasi tak berkualitas, hoax, fitnah, hingga ujaran kebencian tumbuh subur. Dampak sosialnya macam-macam. Sungguh menyeramkan.

Persaingan antarmedia pun tak terhindarkan. Semua berlomba-lomba menyajikan sesuatu yang bakal dilirik pembaca. Tidak hanya media cetak. Media online pun demikian.

Idealnya, media yang menyajikan konten yang berkualitas yang pantas menang. Akan tetapi, ini bisa saja tidak terjadi di media online. Judul-judul bombastis dengan isi yang tidak relevan justru terkadang memantik minat yang tinggi.

Ini salah satu contoh bentuk Fenomena Ketidaksambungan (Disconnectivity Phenomenon) yang diungkapkan oleh Ketua Dewan Pers Mohammad Nuh dalam sambutannya pada acara puncak HPN, kemarin. Esensinya apa, yang diberitakan apa.

Tantangan media daring tidak hanya itu. Kini bermunculan pihak-pihak yang mengklaim diri sebagai penyedia informasi . Tanpa perangkat redaksi, mereka dengan mudah mengoleksi berita-berita media lain yang bukan miliknya, memajangnya pada platform mereka, lalu dengan mudah pula mendulang uang dari iklan yang masuk.

Sungguh sebuah ketidakadilan. Celakanya, model seperti ini pun terus bermunculan. Marak sekali.
Begal konten, demikian istilah Direktur Produksi dan Pemberitaan Bisnis Indonesia, Arief Budisusilo.

Platform digital asing juga turut menikmati uang yang berlimpah dari perputaran uang di industri media di Tanah Air. Benar bahwa mereka beroperasi di Indonesia. Akan tetapi, ternyata uangnya justru dinikmati di negara lain, negara asalnya.

Ironinya, pada saat regulasi mengatur industri pers di dalam negeri dengan sangat rigid, tidak demikian dengan platform digital asing.

Hal ini bisa dimengerti mengingat hingga kini belum ada aturan main yang jelas terkait dengan operasional platform digital dari luar negeri.

Pada saat yang sama, terjadi pula perubahan strategi promosi perusahaan menjadi lebih langsung (direct) ke konsumen. Maka semakin berjayalah platform digital asing yang memiliki segala keunggulan teknologi algoritma.
Sejumlah tantangan di atas turut menjadi bahasan yang seru dalam sesi diskusi di sela-sela acara Konvensi Nasional.

Inilah gambaran industri media di Tanah Air saat ini. Penuh tantangan.

Hari Pers Nasional 2020 jelas berbeda. Sekali lagi, jangan lihat kondisi yang kurang gegap gempita. Ataupun perubahan waktu dan lokasi acara.

Setidaknya mari bersukacita atas kado yang diberikan oleh Joko Widodo.

Kado itu sungguh bermakna bagi industri media di Tanah Air.

Setidaknya pemerintah kini siap mengambil langkah maju untuk menata kembali industri media, termasuk platform digital asing yang hingga kini belum diatur dalam regulasi. Platform digital tersebut, menurut Jokowi, telah menjajah industri pers di Tanah Air.

"Pajak enggak bayar. Aturan main enggak ada. Makanya saya sudah ajak para pemimpin redaksi untuk segera siapkan draf regulasi yang bisa melindungi dan memproteksi dunia pers kita. Jangan sampai semua diambil oleh platform digital dari luar," ujar Presiden dalam sambutannya.

Komitmen Presiden ini lantas disambut gembira oleh insan pers. Ada secercah optimisme terhadap masa depan industri media di Tanah Air, terutama dalam menghadapi platform digital asing dan, ini harus dihadapi bersama-sama.

Seperti kata Chairul Tanjung, konglomerat di industri media. "Bersatu saja belum tentu kita menang. Apalagi bila kita sendiri-sendiri."

Selamat Hari Pers Nasional

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Jokowi, hari pers nasional

Editor : Saeno
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top