Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

54 Hoaks Virus Corona, Cek Faktanya Berikut Ini!

Pusat Informasi Terpadu Kantor Staf Presiden mencatat setidaknya ditemukan 54 berita bohong terkait penyebaran virus corona.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 08 Februari 2020  |  18:06 WIB
Hoaks - Antara
Hoaks - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menemukan sejumlah informasi bohong terkait virus corona dalam sepekan terakhir. Perhatikan informasi berikut ini supaya tidak termakan berita hoaks.

Salah satunya, kabar yang menyebut "virus corona untuk musnahkan etnis Uighur tapi malah bocor di Wuhan". Publik diminta tidak panik dengan kabar palsu tersebut.

Plt. Deputi IV KSP Bidang Informasi dan Komunikasi Politik Juri Ardiantoro mengatakan masyarakat semestinya mempercayai data resmi yang dihimpun Pusat Informasi Terpadu virus corona Kantor Staf Presiden (KSP).

Monitoring KSP mencatat tidak ada bukti kuat yang mendukung dugaan bahwa virus corona adalah senjata biologis China yang bocor. Terlebih, dikaitkan dengan klaim bahwa senjata itu ditujukan untuk etnis Uighur.

“Pusat Informasi Terpadu (PIT) yang ada di KSP bisa menjadi rujukan bagi warga agar tidak termakan hoaks soal Corona,” ujarnya dalam keterangan di Jakarta, Sabtu (8/2/2020).

Pusat Informasi Terpadu KSP mencatat setidaknya ditemukan 54 berita bohong terkait penyebaran virus corona.

Kabar bohong selanjutnya adalah postingan di media sosial yang menyebutkan adanya Anak Buah Kapal (ABK) dari Kapal Tanker asal Hongkong yang positif terkena virus corona. Kapal itu tengah berlabuh di Dermaga PT Pelindo I cabang Kota Dumai.

Faktanya, informasi itu salah. Suprapto, Kepala Seksi Pengendalian Karantina dan Surveilans Epidemiologi KKP Kota Dumai menegaskan kabar itu bersifat hoaks alias bohong.

Kabar bohong selanjutnya adalah Badan Kesehatan Dunia atau WHO serukan isolasi China karena virus corona Wuhan. Dalam artikel tersebut menyebutkan Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus meminta semua negara tidak membiarkan warganya melakukan perjalanan ke China, termasuk untuk urusan dagang.

Lagi lagi kabar itu adalah bohong. Hasil penelusuran Kemenkominfo dan PIT-KSP menyebutkan, berita asli dari informasi tersebut diambil dari media Reuters.com dengan judul "WHO declares China virus outbreak an international emergency".

Dalam berita tersebut tidak ditemukan pernyataan dari Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus yang meminta negara-negara di dunia untuk mengisolasi China. Sebaliknya, WHO menyatakan bahwa mereka tidak merekomendasikan adanya pembatasan perjalanan ataupun perdagangan dengan China.

Sebuah video dari akun facebook tentang video kunjungan Presiden China Xi Jinping yang meminta doa kepada umat Muslim juga masuk kategori kabar bohong.

Video tersebut memperlihatkan Presiden China Xi Jinping sedang berada di sebuah masjid dan dikelilingi umat muslim. Pada unggahan video dituliskan narasi yang mengklaim bahwa Xi Jinping sedang melakukan kunjungan ke sebuah masjid untuk meminta umat muslim mendoakan negara China yang sedang mengalami krisis akibat virus corona.

Faktanya, video tersebut merupakan video lama. Video itu dibuat pada 19 Juli 2016 saat Xi Jinping berkunjung ke Masjid Xincheng di Yinchuan, ibu kota Wilayah Otonomi Ningxia Hui pada 19 Juli 2016.

Adapun maksud kunjungan tersebut adalah mengajak warga muslim China untuk mempromosikan harmoni sosial dan menolak penyusup agama, dan bukan dalam rangka meminta doa umat muslim China terkait krisis akibat virus corona sedang terjadi.

Kabar palsu berikutnya adalah, tim medis Jepang Berjumlah 1.000 orang tiba di Wuhan. Kabar dari akun Facebook ini telah dibantah Kedutaan Besar Jepang di Manila. Foto yang digunakan juga sama sekali tidak benar.

Beredar di media sosial sebuah unggahan video yang menampilkan babi dan disertai dengan narasi “Telah terjadi pembunuhan massal di China. Akibat dari virus Corona ini. Babi serta unggas di kubur hidup-hidup. Gimana di negeri kita ini… Apakah masih ada yangg pelihara babi…???”.

Faktanya, setelah ditelusuri, video babi yang terdapat pada unggahan tersebut tidak ada hubungannya dengan virus corona. Video tersebut memang benar di China, namun video tersebut adalah video lama yang sudah ada sejak tahun 2018 yakni saat wabah flu Babi Afrika yang menyebar ke lebih dari setengah provinsi di China.

Sebelumnya video yang sama juga pernah dipelintir narasinya pada tahun 2019 “Pemusnahan babi massal di Thailand”.

Kabar bohong berikutnya adalah artikel berjudul, Dugaan Penyebaran Virus Corona, Babi Digantung Selama 30 Tahun, Kuliner Ekstrem Harganya Rp2 Miliar

Faktanya, para ilmuwan belum menyimpulkan soal asal usul 2019-nCoV. Klaim yang mengaitkan kebiasaan makan orang China, termasuk soal babi yang digantung 30 tahun dengan virus Corona yang sedang mewabah sama sekali tidak berdasar.

Beredar pula postingan foto di media sosial yang dalam narasinya menyatakan bahwa seorang ilmuwan di John Hopkins Center for Health Security, mengatakan virus Korona bisa membunuh 65 juta jiwa dalam 18 bulan apabila berhasil mencapai skala pandemi.

Faktanya, Johns Hopkins Center for Health Security meluruskan pernyataannya bahwa simulasi yang dilakukan ilmuwan dalam ajang Event 201 tidak ada kaitannya dengan wabah Virus Corona 2019-nCoV yang sedang terjadi. Adapun virus corona yang digunakan dalam simulasi tersebut adalah fiksi dan hasilnya bukanlah prediksi.

Dengan adanya informasi yang menyesatkan tersebut, KSP mengajak seluruh masyarakat mempercayai informasi yang disebar Pusat Informasi Terpadu secara rutin setiap harinya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

virus corona berita bohong
Editor : David Eka Issetiabudi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top