Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Polri Ungkap Kendala Menangkap Buronan Harun Masiku

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri, Brigjen Pol Raden Prabowo Argo Yuwono mengemukakan pihaknya sudah memerintahkan 540 kapolres agar turut serta membantu KPK menangkap politisi PDI-Perjuangan yang ditetapkan DPO
Sholahuddin Al Ayyubi
Sholahuddin Al Ayyubi - Bisnis.com 06 Februari 2020  |  10:17 WIB
Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Argo Yuwono (tengah) bersama dengan Wadir Narkotika Bareskrim Polri Kombes Pol. Krisno Halomoan Sirigar (kedua kiri) dan Jajarannya menunjukkan peta jalur peredaran narkoba saat konferensi pers pengungkapan pengiriman narkoba jaringan internasional Malaysia-Sumatera-Jakarta, di Bareskrim Polri, Jakarta, Selasa (21/1/2020).  - Antara
Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Argo Yuwono (tengah) bersama dengan Wadir Narkotika Bareskrim Polri Kombes Pol. Krisno Halomoan Sirigar (kedua kiri) dan Jajarannya menunjukkan peta jalur peredaran narkoba saat konferensi pers pengungkapan pengiriman narkoba jaringan internasional Malaysia-Sumatera-Jakarta, di Bareskrim Polri, Jakarta, Selasa (21/1/2020). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Polri mengungkap alasan pihaknya belum berhasil menangkap buronan KPK Harun Masiku, karena keberadaannya sulit terdeteksi di dalam maupun di luar negeri.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri, Brigjen Pol Raden Prabowo Argo Yuwono mengemukakan pihaknya sudah memerintahkan 540 kapolres agar turut serta membantu KPK menangkap politisi PDI-Perjuangan yang ditetapkan DPO, sejak dijadikan tersangka dalam kasus tindak pidana penyuapan.

"Kandala kami ya karena dia (Harun Masiku) belum ketemu ya," tuturnya, Kamis (6/2/2020).

Dia mengaku masih belum bisa berspekulasi dan menetapkan target penangkapan Harun Masiku, karena buronan KPK itu masih belum terdeteksi keberadaannya. Namun, Argo memastikan Polri tidak akan berhenti membantu KPK menangkap Harun Masiku hingga saat ini.

"Kita ada kasus lama, ada kasus baru juga, dan kita tidak bisa tentukan kapan kasus itu selesai ya," katanya.

 Sebelumnya, KPK pada Kamis (9/1/2020) telah mengumumkan empat tersangka dalam kasus dugaan tindak pidana suap penetapan anggota DPR pergantian antarwaktu (PAW).

Penerima suap dalam kasus tersebut adalah eks komisioner KPU Wahyu Setiwan dan Agustiani Tio. Lalu, pelaku pemberi suap adalah Harun Masiku dan Saeful.

Diketahui, Wahyu  Setiawan meminta dana operasional Rp900 juta untuk membantu Harun menjadi anggota DPR RI Dapil Sumatera Selatan I menggantikan caleg DPR terpilih dari Fraksi PDIP Dapil Sumatera Selatan I Nazarudin Kiemas yang meninggal dunia. Wahyu hanya menerima Rp600 juta.

Sebelumnya, berdasarkan catatan Imigrasi, Harun telah keluar Indonesia menuju Singapura pada Senin (6/1/2020) melalui Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang sekitar pukul 11.00 WIB. Sejak saat itu, Harun disebut belum kembali lagi ke Indonesia.

Namun, berdasarkan pengakuan istri Harun, Hildawati Jamrin dan rekaman kamera pengawas di Bandara Soekarno-Hatta yang beredar, Harun telah berada di Jakarta pada Selasa (7/1/2020).

KPK pun sejak Senin (13/1/2020) telah mengirim surat permintaan pencegahan ke luar negeri untuk tersangka Harun ke Imigrasi dan sudah ditindaklanjuti.

Selain itu, juga dilanjutkan pula dengan permintaan bantuan penangkapan kepada Polri dan ditindaklanjuti dengan permintaan untuk memasukkan Harun dalam Daftar Pencarian Orang (DPO).

 

 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

polri pdip buronan
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top