Setelah Menantang Iran, Donald Trump Ancam Serang Irak

Setelah menabuh genderang perang dengan Iran, Presiden Donald Trump kini mengancam Irak setelah parlemen negara itu memutuskan untuk mengusir pasukan negaranya dari Timur Tengah.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 06 Januari 2020  |  17:35 WIB
Setelah Menantang Iran, Donald Trump Ancam Serang Irak
Presiden AS Donald Trump berbicara selama upacara penandatanganan "Undang-Undang Otorisasi Pertahanan Nasional untuk Tahun Anggaran 2020" di Pangkalan Bersama Andrews, Maryland, AS 20 Desember 2019. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Setelah menabuh genderang perang dengan Iran, Presiden Donald Trump kini mengancam Irak setelah parlemen negara itu memutuskan untuk mengusir pasukan negaranya dari Timur Tengah.

Ketegangan di Timur Tengah terjadi pada pekan lalu setelah Trump melakukan serangan udara di bandara Baghdad hingga menewaskan Jenderal Qaseem Soleimani yang merupakan petinggi militer Iran.

Kejadian itu membuat tensi kedua negara memanas dan Irak khawatir negaranya akan menjadi lokasi perang antara AS melawan Iran. Karena itu parlemen Irak mengambil tindakan dengan mengusir pasukan AS dan militer negara lainnya keluar dari Irak sehingga membuat Trump naik pitam.

"Jika mereka meminta kami untuk pergi, melakukannya dengan tidak ramah, kami akan menjatuhkan sanksi yang lebih berat dari sebelumnya. [Sanksi terhadap Irak] akan membuat sanksi untuk Iran terlihat lebih ringan," ujar Trump kepada wartawan di Air Force One seperti dikutip CNBC.com, Senin (6/1).

Trump marah lantaran merasa AS dirugikan jika pasukan militernya diusir. Sebab AS sudah membangun markas militer dengan menghabiskan uang yang banyak untuk membantu melawan milisi Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS).

"Kami memiliki pangkalan udara yang sangat mahal di sana. Biayanya miliaran dolar untuk membangun. [Dibangun] Jauh sebelum waktu ku. Kami tidak akan pergi kecuali mereka membayar kami untuk itu," kata Trump.

Sebelumnya Soleimani, kepala unit pasukan khusus di Korps Pengawal Revolusi Islam yang adalah arsitek utama operasi militer Iran di luar negeri. Dia terbunuh Kamis malam ketika meninggalkan bandara Baghdad, saat mobil konvoinya ditabrak oleh sebuah pesawat tak berawak yang diperintahkan langsung oleh presiden AS.

Salah satu dari mereka yang terbunuh bersamanya juga adalah pemimpin penting milisi Irak, Abu Mahdi al-Muhandis, yang juga wakil komandan milisi yang didukung Iran yang dikenal sebagai Pasukan Mobilisasi Populer.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
iran, Donald Trump

Editor : Akhirul Anwar
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top