Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Dampak Konflik AS-Iran, Investor Global Mundur ke Zona Aman

Ketegangan yang tiba-tiba memuncak antara Amerika Serikat dan Iran membuat investor memilih untuk mundur ke tresuri yang berada di zona aman.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 05 Januari 2020  |  17:43 WIB
Para pelayat menghadiri prosesi pemakaman komandan militer Iran Qassem Soleimani, yang juga kepala divisi elit Quds Force of the Revolutionary Guards, serta pemimpin kelompok militan Irak Abu Mahdi al-Muhandis yang tewas dalam serangan udara oleh AS di bandara Baghdad, di Kerbala, Irak, Sabtu (4/1/2020). - Reuters/Abdullah Dhiaa al/Deen
Para pelayat menghadiri prosesi pemakaman komandan militer Iran Qassem Soleimani, yang juga kepala divisi elit Quds Force of the Revolutionary Guards, serta pemimpin kelompok militan Irak Abu Mahdi al-Muhandis yang tewas dalam serangan udara oleh AS di bandara Baghdad, di Kerbala, Irak, Sabtu (4/1/2020). - Reuters/Abdullah Dhiaa al/Deen

Bisnis.com, JAKARTA - Mundur ke zona aman di awal tahun yang mestinya menjanjikan harapan menjadi pilihan yang harus dijalani kalangan investor di pasar global.

Tak bisa dipungkiri, Januari ini merupakan awal yang tahun yang berat bagi para trader obligasi yang bearish. Ketegangan yang tiba-tiba memuncak antara Amerika Serikat dan Iran membuat investor memilih untuk mundur ke tresuri yang berada di zona aman.

Suasana di pasar keuangan global berubah menjadi penuh kehati-hatian setelah serangan udara Amerika Serikat menewaskan jenderal Iran yang paling berpengaruh, Qassem Soleimani.

Saham berjangka AS merosot sementara saham Asia membalikkan keuntungannya pada Jumat (3/1), sementara minyak menguat bersama yen dan emas.

Para investor dan trader semakin menghindari risiko setelah pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengatakan akan ada pembalasan hebat yang menunggu pembunuh Soleimani.

Berita mengejutkan ini datang setelah sebagian besar kelas aset memiliki kinerja cemerlang pada 2019, dengan ekuitas AS menutup salah satu tahun terbaiknya dalam dekade terakhir.

Di sisi lain, tolak ukur imbal hasil turun pada Jumat (3/1), mendorong kurvanya menjadi datar, sementara pasar memperhitungkan dampak serangan udara AS.

Ancaman pembalasan Iran, di samping ancaman baru dari Korea Utara untuk membalas sanksi Amerika, menempatkan kecemasan geopolitik sebagai fokus utama bahkan di saat belum banyak investor yang kembali dari liburan tahun baru.

Mereka yang mengantisipasi data ekonomi yang lebih positif juga harus kecewa karena data manufaktur AS menunjukkan performa terburuk sejak 2009.

Pergantian sikap menjadi lebih defensif ini memberikan pukulan terhadap salah satu perdagangan paling menggoda tahun lalu - kurva curam.

Beberapa analis menyampaikan pandangan mereka terhadap kejadian ini.

Menurut Kay Van-Petersen, ahli strategi makro global di Saxo Capital Markets Pte., Singapura, pasar kemungkina bergerak dari skema proksi (Iran) versus proksi (Saudi dan AS) ke pasukan yang didukung Iran versus pasukan yang didukung AS.

Meski demikian, dia tidak dapat memperkirakan langkah apa yang akan diambil Iran.

"Orang-orang belum akan kembali bekerja sepenuhnya pada pekan depan hingga pertengahan Januari sehingga pengetatan likuiditas dapat memicu reaksi berlebihan. Kita lihat perkembangannya selama 24-48 jam ke depan," kata Van-Petersen, dikutip melalui Bloomberg, Minggu (5/1).

Dia menggarisbawahi, penguatan pada minyak terasa sedikit berlebihan, namun positif untuk pengeluaran pertahanan AS dan bahkan dapat mendorong saham pertahanan Prancis.

Perkembangan yang terkait dengan Iran mungkin akan membuat pasar berada di ujung tanduk selama beberapa pekan mendatang.

AS diketahui telah mengirim lebih banyak pasukan ke wilayah tersebut setelah serangan udara pekan lalu.

Di samping disrupsi geopolitik, suasana di pasar global juga mungkin akan kembali berubah dari hasil konferensi American Economic Association di San Diego pekan ini, yang turut dihadiri mantan Gubernur The Fed Janet Yellen dan Gubernur Fed New York John Williams.

Mereka mungkin akan menambah sudut pandang geopolitik terhadap risiko yang dicatat dalam risalah pertemuan The Fed pada Desember lalu yang berfokus pada ketidakpastian perdagangan internasional dan kelemahan dalam pertumbuhan ekonomi di luar negeri.

Manajer keuangan Convenant Capital Pte. Edward Lim mengatakan serangan ini hanya menyoroti risiko geopolitik dari pasar minyak serta potensi pasar mengalami kekurangan minyak pada satu atau dua kuartal pertama tahun 2020.

"Kami tidak memberikan reaksi apa pun terhadap berita ini karena kami telah membeli beberapa saham minyak seperti CNOOC dan Total ketika minyak diperdagangkan mendekati US$60 pada akhir 2019," ungkapnya.

Mingze Wu, pedagang valuta asing di INTL FCStone, Singapura, berpendapat bahwa sedikit mengagetkan melihat dolar bergerak secara signifikan terhadap mata uang Asia meskipun berita ini seharusnya tidak berdampak langsung terhadap kawasan ini.

Menurutnya, reaksi berlebihan ini dapat dikaitkan dengan reli emas dan yen Jepang, yang keduanya merupakan safe haven klasik, menyoroti besarnya gerakan pasar menghindari risiko dari berita serangan itu.

"Investor khawatir bahwa situasi di Iran akan memburuk, karena mungkin ada beberapa pembalasan setelah serangan AS," kata Steven Leung, direktur eksekutif di UOB Kay Hian (Hong Kong) Limited.

Wei Li, kepala strategi investasi EMEA iShares di London mengatakan bahwa dalam waktu 24 jam, sentimen berubah 180 derajat.

Dia berpendapat bahwa sikap ini sangat mencirikan bagaimana pasar akan menghadapi 2020.

"Di satu sisi, fundamental menjadi sedikit lebih baik, berita utama perdagangan sedikit lebih baik, tetapi di sisi lain, serangan volatilitas akan sering terjadi," ujarnya.

Hingga benar-benar ada bukti nyata dari dampak yang akan mempengaruhi pertumbuhan, investor akan menggunakan beragam taktik untuk mengendalikan risiko.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

iran amerika serikat pasar global
Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top