Taiwan Layak Ikut Serta Dalam Sistem Perubahan Iklim Global

Karena faktor politik internasional, Taiwan tidak bisa berperan dalam upaya memerangi perubahan iklim global melalui kontrak UNFCCC. Taiwan hadir dalam konferensi UNFCCC ke-25 di Spanyol sebagai LSM.
Akhirul Anwar
Akhirul Anwar - Bisnis.com 02 Desember 2019  |  13:28 WIB
Taiwan Layak Ikut Serta Dalam Sistem Perubahan Iklim Global
Chang Tzi-chin, Menteri Perlindungan Lingkungan Taiwan - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Perubahan iklim global adalah masalah serius yang harus dihadapi karena akan memengaruhi semua orang di dunia. Masalah ini juga menjadi kewajiban setiap orang dan setiap negara untuk memeranginya.

Namun, karena faktor politik internasional, Taiwan tidak dapat menjadi bagian dalam kontrak United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC). Padahal Taiwan memiliki kemauan dan kemampuan nyata untuk memerangi perubahan iklim dengan negara lain di dalam kerangka UNFCCC.

Pemerintah Taiwan menyerukan agar negara-negara lain mendukung partisipasi Taiwan dalam UNFCCC dan menyertakan Taiwan ke dalam mekanisme pengurangan karbon global, negosiasi dan perjanjian Paris untuk perubahan iklim serta aktivitas terkait lainnya.

Representative Taipei Economic and Trade Office (TETO) John Chen juga mengatakan bahwa Konferensi UNFCCC ke-25 (COP 25) akan diadakan di Spanyol pada bulan Desember tahun ini.

Karena faktor politik internasional, Taiwan hanya dapat menghadiri pertemuan tersebut sebagai pengamat Organisasi Non Pemerintah (LSM). Bagi Taiwan dan dunia, ini adalah kerugian besar untuk melawan perubahan iklim.

teto john chen

Representative TETO, John Chen

Representative John Chen menghimbau agar Indonesia dan negara-negara lain untuk tidak membatasi pandangan mereka pada pertimbangan politik, dan mendukung partisipasi Taiwan untuk berkontribusi secara profesional, pragmatis di UNFCCC, untuk bersama-sama memerangi perubahan iklim.

Chang Tzi-chin, Menteri Perlindungan Lingkungan Taiwan menyatakan bahwa Taiwan telah mengesahkan Undang-Undang Pengelolaan dan Pengurangan Gas Rumah Kaca, menyelesaikan Jaringan Aksi Nasional untuk Perubahan Iklim, Skema Upaya Pengurangan Gas Rumah Kaca, dan merumuskan Rencana Aksi Pengendalian Emisi Gas Rumah Kaca dan lainnya.

Pada tahun 2025, Taiwan diperkirakan akan mencapai tujuan 20 GW untuk pembangkit listrik tenaga surya dan 6,9 GW untuk pembangkit listrik tenaga angin.  Taiwan juga telah memperkuat insentif keuangannya untuk mendukung pengembangan industri teknologi energi hijau dan secara aktif mempromosikan Rencana Pelaksanaan Finansial Hijau.

Menteri Chang menyebutkan bahwa satelit FORMOSAT-3 yang diluncurkan oleh Taiwan pada tahun 2006 telah mengumpulkan lebih dari 10 juta data meteorologi sejauh ini dan menyediakan penelitian ilmiah gratis kepada para sarjana dari berbagai negara.

Satelit FORMOSAT-7 yang diluncurkan tahun 2019 ini, akan lebih efektif meningkatkan keakuratan prakiraan cuaca ekstrem dan memberikan kontribusi positif bagi prakiraan cuaca global serta perubahan iklim.

Menteri Chang juga mengatakan bahwa Taiwan telah merumuskan Rencana Upaya Adaptasi Perubahan Iklim Nasional untuk membangun sistem ketahanan dalam menanggapi perubahan iklim dari delapan aspek seperti bencana, infrasruktur kelangsungan hidup, sumber daya air, keamanan pertanahan, pesisir pantai, energi dan industri, pertanian, dan kesehatan.

Menurut Chang, sangat tidak adil bagi Taiwan untuk dikeluarkan dari organisasi internasional karena prasangka politik dari Cina. Hal itu tidak hanya bertentangan dengan semangat UNFCCC yang menyerukan semua negara untuk bekerja sama secara luas dalam perubahan iklim global, juga mengabaikan Perjanjian Paris yang menekankan "Keadilan Iklim" dan  menyerukan pentingnya tindakan iklim oleh negara-negara, bahkan juga bertentangan dengan tujuan Piagam PBB, dan itu juga melemahkan struktur internasional dan membahayakan dunia.

Dalam menghadapi masyarakat internasional, Taiwan adalah teman yang tulus yang bertanggung jawab dan mau berkontribusi. Taiwan berusaha untuk membuat dunia menjadi lebih baik. Taiwan benar-benar layak untuk dimasukkan dalam sistem perubahan iklim global.

Representative Taipei Economic and Trade Office (TETO) John Chen menambahkan, sesuai dengan semangat UNFCCC, Taiwan secara aktif membantu negara-negara berkembang dalam rencana mitigasi dan adaptasi jangka panjang untuk memerangi perubahan iklim, serta menunjukkan tekad kami untuk berkontribusi kepada dunia.

Misalnya, Taiwan membantu Belize dan Honduras dalam pengurangan bencana dan peringatan pencegahan bencana, membantu Kepulauan Marshall mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 992 ton setiap tahun.

Taiwan sangat terpengaruh oleh perubahan iklim  dan telah mengembangkan banyak teknologi yang sesuai, dan bersedia untuk berbagi dengan negara lain.

Namun, oleh karena faktor politik internasional, Taiwan hanya dapat menghadiri pertemuan tersebut sebagai pengamat LSM, dan tidak dapat menyerahkan Nationally Determined Contribution (NDC) Taiwan kepada Sekretariat UNFCCC.

Seperti negara lainnya, Taiwan seharusnya memiliki peluang yang sama untuk bergabung dengan mekanisme pengurangan karbon global, menegosiasikan kegiatan terkait dengan Perjanjian Paris, dan bekerja sama untuk memberikan kontribusi usaha maksimal bagi lingkungan dan generasi mendatang.

John Chen menghimbau negara-negara lain, bahwa perubahan cuaca telah terjadi, dan telah mempengaruhi negara lain. Dia berharap semoga negara-negara lain tidak mengesampingkan Taiwan hanya karena masalah politik. Taiwan bersedia bekerja sama dengan anggota masyarakat internasional untuk menjaga dan melindungi dunia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
taiwan, perubahan iklim

Editor : Akhirul Anwar
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top