Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Peritel AS Sambut Festival Belanja Black Friday

Peritel seperti Target, Costco, dan Best Buy telah meningkatkan presensi di dunia maya, layanan pengiriman, serta fasilitas in-store pickup yang menarik perhatian pelanggan dan berhasil menguatkan saham perusahaan.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 27 November 2019  |  16:17 WIB
Seorang pria memasukkan televisi ke mobilnya saat Black Friday di Brooklyn, New York City Amerika Serikat (AS). - Reuters
Seorang pria memasukkan televisi ke mobilnya saat Black Friday di Brooklyn, New York City Amerika Serikat (AS). - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Festival belanja terbesar Amerika Serikat tahun ini akan jatuh pada Jumat (29/11/2019), atau dikenal juga sebagai Black Friday.

Pada festival kali ini, Wall Street akan mendapatkan persepsi yang jelas tentang kesenjangan antara para peritel yang harus bersaing dan e-commerce dan mereka yang bergantung pada pengunjung pusat perbelanjaan yang semakin berkurang.

Peritel seperti Target, Costco, dan Best Buy telah meningkatkan presensi di dunia maya, layanan pengiriman, serta fasilitas in-store pickup yang menarik perhatian pelanggan dan berhasil menguatkan saham perusahaan.

Di sisi lain, peritel mulai dari GAP Inc, L Brands (pemilik merek Victoria Secret), serta pusat perbelanjaan yakni Macy's dan Kohl's diketahui mengalami penurunan setelah berjuang melakukan sejumlah perubahan pada produk mereka.

Akhir pekan pertama setelah Thanksgiving dapat menentukan strategi para peritel tentang berapa banyak dan kapan harus mendiskon produk mereka sepanjang musim belanja yang sangat kompetitif berlansung selama sebulan.

Analis ritel Moody's, Charlie O'Shea mengatakan promosi yang dilakukan oleh beberapa peritel sejak awal pekan ini, menandakan bahwa ada tanda-tanda keputusasaan dari penjual.

"Itu artinya ada perusahaan yang mungkin tidak dapat menikmati momentum ini. Untuk mereka yang lebih santai, artinya pekan ini diproyeksi cukup baik dan mereka tidak perlu mengejar penjualan," ujarnya, dikutip melalui Reuters, Rabu (27/11/2019).

Dengan tingkat pengangguran yang rendah dalam hampir 50 tahun, pengeluaran konsumen telah membantu melindungi ekonomi dari dampak perang dagang berkepanjangan dengan China.

Laporan Departemen Perdagangan China menyebutkan bahwa penjualan ritel Oktober menunjukkan belanja konsumen melambat lebih cepat dari yang diperkirakan para ekonom.

Pengeluaran konsumen yang lebih lemah dapat memicu kerugian yang lebih parah bagi peritel yang sudah kesulitan untuk bertahan di tengah persaingan.

Menambah beban penjual, beberapa peritel juga sudah melakukan pemotongan harga dan meminimalisir risiko dari penerapan tarif terhadap impor China sebesar US$250 miliar serta tarif tambahan yang akan diberlakukan pada US$300 miliar impor China.

"Toko-toko yang kemungkinan tidak akan melalui pekan ini dengan baik adalah mereka yang berada di tengah-tengah. Toko yang tidak terlalu mahal tapi juga tidak bernilai tinggi," kata Neil Saunders, direktur pelaksana perusahaan riset GlobalData Retail.

Menurutnya, toko-toko yang berisiko antara lain termasuk GAP, Macy's, JC Penney dan Express Inc.

Saham Nordstrom, GAP dan Kohl turun antara 18%-35% pada 2019 di tengah persaingan ketat dengan rival raksasa mereka, Amazon.com.

Laporan kuartalan yang dirilis pekan lalu menggarisbawahi keuntungan dan kerugian yang dialami industri ritel.

Target mencetak rekor tertinggi setelah menaikkan perkiraan pendapatan setahun penuh pada Rabu (20/11/2019), sedangkan Macy's dan Kohl justru memangkas proyeksi pendapatan mereka menjelang musim liburan.

Laporan kuartalan Retail Metrics baru-baru ini menunjukkan pendapatan peritel yang berbasis di pusat perbelanjaan turun sebesar 17%, sedangkan pengecer di luar itu mengalami peningkatan pendapatan sebesar 7%.

“Ukuran dan skala bisnis sangat berpengaruh untuk mendorong investasi penting pada kebutuhan renovasi toko, peningkatan saluran digital, rantai pasokan, dan kemampuan layanan pengiriman dalam waktu singkat [same-day dan next-day],” menurut Retail Metrics.

Macy's, dengan performa terburuk di antara peritel S&P 500 lainnya, telah kehilangan separuh dari valuasinya sepanjang tahun ini.

Kondisi ini menunjukkan kecilnya ekspektasi investor terhadap pemulihan bisnis perusahaan.

Namun, kinerja saham sektor ritel secara keseluruhan masih mampu mengikuti penguatan yang terjadi di pasar secara luas, meskipun investor khawatir penawaran pengiriman yang semakin menggiurkan dari Walmart, Amazon, Target, Best Buy, dan lainnya akan menggerus keuntungan mereka.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

amerika serikat
Editor : Achmad Aris
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top