Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Perwakilan China dan AS Lakukan Diskusi Lewat Telepon

China dan Amerika Serikat melakukan panggilan telepon pada Selasa pagi waktu Beijing guna menyepakati sejumlah poin menjelang kesepakatan perdagangan fase pertama.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 26 November 2019  |  13:13 WIB
Wakil Perdana Menteri China Liu He - Reuters/Jason Lee
Wakil Perdana Menteri China Liu He - Reuters/Jason Lee

Bisnis.com, JAKARTA – China dan Amerika Serikat melakukan panggilan telepon pada Selasa (26/11/2019) pagi waktu Beijing guna menyepakati sejumlah poin menjelang kesepakatan perdagangan fase pertama.

“(Kedua negara) mencapai konsensus tentang penyelesaian masalah yang relevan dengan tepat dan setuju untuk tetap berhubungan membahas poin-poin yang tersisa untuk pencapaian kesepakatan perdagangan fase pertama,” ungkap Kementerian Perdagangan China dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip Bloomberg.

Wakil Perdana Menteri China Liu He, Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer, dan Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin membahas masalah inti, tetapi tidak memberikan perincian lebih lanjut. Percakapan ini merupakan tindak lanjut percakapan telepon awal bulan ini.

Kantor Perwakilan Dagang AS mengonfirmasi diskusi telepon, tapi menolak untuk mengomentari isi dari pembahasan di dalamnya.

Pembicaraan mengenai kesepakatan fase pertama telah berlanjut sejak pertama kali diumumkan pada bulan Oktober, dengan kedua belah pihak membuat konsesi mengenai masalah-masalah seperti impor makanan, kekayaan intelektual, serta dan raksasa teknologi Huawei Technologies Co.

Liu, kepala negosiator China, mengatakan pekan lalu bahwa ia "sangat optimis" untuk menyelesaikan kesepakatan fase pertama, tetapi tidak adanya tenggat waktu dan komentar dari Presiden Donald Trump dan yang lainnya telah menimbulkan spekulasi bahwa pembicaraan dapat berlanjut hingga tahun depan.

Jika kesepakatan fase satu tidak terwujud sebelum 15 Desember, Trump harus memilih apakah akan tetap mengenakan tarif 15 persen pada impor senilai US$160 miliar dari China atau tidak. Hubungan antara kedua belah pihak juga diperumit dengan dikeluarkannya undang-undang melalui badan legislatif AS yang mendukung demonstran pro-demokrasi di Hong Kong.

Pejabat yang berunding lewat telepon tersebut kemungkinan membahas penghapusan tarif, pembelian produk pertanian, serta mekanisme peninjauan untuk implementasi perjanjian, Global Times melaporkan.

Trump mengatakan pekan lalu bahwa kesepakatan perdagangan dengan China berpotensi segera tercapai tetapi "tidak bisa mencapai kesepakatan yang seimbang" karena AS "mulai dari bawah" dan China "sudah di atas."

"Kuncinya adalah apa yang terjadi jika kita tidak mendapatkan kesepakatan pada 15 Desember," kata Khoon Goh, kepala penelitian Asia di Australia & New Zealand Banking Group. "Apakah AS akan setuju untuk menangguhkan tarif karena niat baik?"

Sekalipun kesepakatan tahap pertama ditandatangani, mungkin masalah yang lebih sulit seperti kekhawatiran AS terhadap subsidi China dan proteksionisme, atau upaya untuk menutup akses perusahaan teknologi China dari pasar AS atas ancaman keamanan. Kerusuhan sipil yang sedang berlangsung di Hong Kong dan tindakan China di Xinjiang menjadi titik ketegangan tambahan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perang dagang AS vs China

Sumber : Bloomberg

Editor : M. Syahran W. Lubis
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top