Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Aksi Protes Hong Kong Resahkan Pasar Keuangan di luar Asia

Malcolm Dorson, yang mengelola sekitar US$700 juta dana pasar berkembang di Mirae Asset Global Investments, New York, mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran yang meningkat di kalangan investor terkait dengan aksi protes Hong Kong.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 19 November 2019  |  11:39 WIB
Sebuah mobil terbakar selama bentrokan antara demonstran anti-pemerintah dan polisi anti huru hara di Tsim Sha Tsui, di Hong Kong. - Reuters
Sebuah mobil terbakar selama bentrokan antara demonstran anti-pemerintah dan polisi anti huru hara di Tsim Sha Tsui, di Hong Kong. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Investor memiliki pandangan yang terbagi soal lingkup ancaman dari meningkatnya ketegangan di Hong Kong.

Namun, dengan intensitas aksi protes dan bentrokan sepanjang 2 pekan terakhir, ada semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa para manajer uang tengah mengubah posisi mereka.

Malcolm Dorson, yang mengelola sekitar US$700 juta dana pasar berkembang di Mirae Asset Global Investments, New York, mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran yang meningkat di kalangan investor terkait dengan aksi protes Hong Kong.

Tidak sedikit investor yang menganggap bahwa bentrokan dapat mengarah pada intervensi militer China, yang akan menciptakan ketidakpastian tentang reaksi Amerika Serikat dan Eropa.

Di Senat AS, pemimpin Partai Republik, Mitch McConnell, mengatakan dia berharap ada suatu cara dapat ditemukan untuk meloloskan RUU yang akan memberikan status istimewa Hong Kong dalam hukum AS di bawah pengawasan yang lebih ketat.

Dia mendesak Presiden Donald Trump untuk berbicara di Hong Kong dan tidak hanya fokus pada upaya untuk mengamankan kesepakatan perdagangan dengan China.

Luke Hickmore, manajer uang Aberdeen Standard Investments yang berbasis di London, mengelola dana sebesar US$ 669 miliar, memilih untuk menutup sebagian investasinya HSBC Holdings Plc, mengutip kekhawatiran dari bentrokan akan menggerus bisnis klien lokalnya.

“Kami memperhatikan dengan seksama langkah-langkah selanjutnya untuk melihat apakah ini semakin intensif. Sementara itu, lebih aman untuk keluar dan mengamati perkembangannya daripada mengambil risiko di HSBC pada situasi yang masih sulit dibaca," ujarnya, dikutip melalui Bloomberg, Kamis (19/11/2019).

Di Paris, Nicolas Dubus, manajer dana obligasi global di Groupama Asset Management, yang mengelola dana lebih dari 100 miliar euro, telah mengurangi paparannya terhadap utang jangka pendek.

Dia beranggapan bahwa risiko gejolak internasional dapat menghambat kemajuan realisasi kesepakatan perdagangan AS-China.

Ada risiko bahwa intervensi apa pun dari Beijing dapat menyebabkan aksi balasan dari Kongres AS yang dapat menggagalkan gencatan senjata perdagangan.

Morten Lund, seorang analis di Nordea Bank AB di Copenhagen mengatakan bahwa pihaknya memandang dampak ini sebagai konflik proxy antara AS dan China, meskipun dampak masih jauh dari skala global.

Satu atau dua perusahaan di Inggris yang memiliki beberapa eksposur di Hong Kong melaporkan adanya perlambatan dalam pendapatan mereka, tetapi tidak ada dampak besar.

Terkait dengan pergerakan harga, Christian Wietoska, ahli strategi Deutsche Bank AG, London, berpendapat bahwa peristiwa di Hong Kong dibayangi oleh sedikit peningkatan pada pertumbuhan global, terutama di luar Eropa.

Ekuitas yang yang menguat serta harapan dari beberapa solusi pada perdagangan konflik antara AS dan China turut memberikan setidaknya sedikit sentimen positif di pasar.

"Meski demikian, perkembangan terkini dari emerging market, seperti Hong Kong, Chili atau Argentina, harus membuat investor sadar akan risiko yang terkait dengan investasi di pasar negara berkembang," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

demo Hong Kong
Editor : Achmad Aris
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top