Ini 2 Model Angkutan Massal yang Cocok Dibangun di Puncak Bogor

Hermanto yang juga mantan Dirjen Perkeretaapian Kemenhub menambahkan pembangunan kereta api ringan (light rail transit/LRT) sulit dilakukan di Puncak Kabupaten Bogor.
Hendra Wibawa
Hendra Wibawa - Bisnis.com 08 November 2019  |  15:22 WIB
Ini 2 Model Angkutan Massal yang Cocok Dibangun di Puncak Bogor
Sejumlah kendaraan memadati jalur Puncak di Gadog, Bogor, Jawa Barat, Kamis (6/6//2019). Memasuki libur hari kedua Lebaran, wisatawan mulai memadati jalur Puncak Bogor sehingga Polres Bogor memberlakukan rekayasa lalu lintas sistem buka tutup serta pemberlakuan "contraflow" untuk mengurai kemacetan. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Masyarakat Perkeretaapian Indonesia menilai angkutan umum massal berbasis rel sangat memungkinkan dibangun di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor. 

Ketua Umum Masyarakat Perkeretaapian Indonesia (Maska) Hermanto Dwiatmoko menyatakan angkutan massal berbasis rel yang cocok dibangun ada dua jenis yaitu monorel atau kereta gantung. Berdasarkan teknologi yang ada saat ini, kereta api jenis monorel dan kereta gantung merupakan dua jenis kereta api yang sesuai untuk kawasan Puncak.

“Kalau untuk monorel, konstruksi lebih sederhana sehingga menghemat ruang. Selain itu pemasangan tiang dan rel lebih ringan. Keuntungan lain adalah monorel dapat mengangkut penumpang dan barang bagasinya” jelasnya dalam siaran pers, Jumat (8/11/2019).

Dia juga menambahkan jika monorel memiliki kelebihan dari segi biaya pembangunan dan operasi yang rendah. Untuk kereta gantung, Hermanto menjelaskan beberapa keuntungan antara lain cocok untuk daerah wisata, konstruksi sederhana sehingga menghemat ruang, pemasangan tiang dan rel lebih ringan, serta biaya pembangunan dan operasi rendah.

“Hanya saja kereta gantung memiliki kapasitas angkut terbatas dan memerlukan perawatan kabel yang presisi,” katanya.

Hermanto yang juga mantan Dirjen Perkeretaapian Kemenhub menambahkan pembangunan kereta api ringan (light rail transit/LRT) sulit dilakukan di Puncak Kabupaten Bogor.

Hal ini disebabkan terbatasnya ruang untuk pemasangan tiang-tiang jalan layang dan kawasan Puncak yang memiliki tanjakan (gradient) cukup tinggi. Selain itu, tegasnya, pada umumnya LRT juga digunakan untuk angkutan perkotaan, bukan angkutan wisata.

Direktur Prasarana Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Edi Nursalam menambahkan bahwa permasalahan kawasan Puncak tidak mungkin dapat diselesaikan hanya dari sisi transportasi saja. Menurutnya, kawasan Puncak perlu dilakukan pula penataan ruang dan lingkungan.

“Kita juga tidak menginginkan jika penataan transportasi justru membuat lingkungan Puncak menjadi rusak,” terang Edi.

Lebih lanjut, dia menekankan jika penataan transportasi merupakan bagian yang harus dilakukan tanpa mengesampingkan upaya untuk menjaga kelestarian kawasan Puncak.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kereta api, jalur puncak, BPTJ-Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek

Editor : Hendra Wibawa
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top